Memuat...

AS Godok Rencana Kampanye Militer Dua Pekan Hantam Iran, Pangkalan Militer Yordania Jadi Pemicu Eskalasi

Zarah Amala
Kamis, 30 Juli 2026 / 16 Safar 1448 11:13
AS Godok Rencana Kampanye Militer Dua Pekan Hantam Iran, Pangkalan Militer Yordania Jadi Pemicu Eskalasi
Pejabat AS: Trump cenderung meningkatkan eskalasi dan tidak terkejut dengan kembalinya Iran membawa senjata (EPA)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Situasi di kawasan Timur Tengah berada dalam status siaga tinggi menyusul ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melancarkan serangan telak terhadap Iran. Langkah ini diambil sebagai respons atas serangan rudal balistik mendadak yang diluncurkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke arah fasilitas militer AS di Yordania.

Seorang pejabat senior administrasi AS mengungkapkan bahwa Trump saat ini tengah mengkaji berbagai opsi militer dan condong pada eskalasi. Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, telah merancang kampanye udara hukuman berdurasi sekitar dua pekan yang dirancang untuk melumpuhkan kapabilitas rudal Iran secara masif, alih-alih sekadar melakukan serangan balasan terbatas yang dinilai kurang efektif dalam memberikan efek jera.

Di tengah persiapan tersebut, Pentagon menyatakan kesiapan penuh untuk mengeksekusi instruksi Panglima Tertinggi. Juru bicara Kementerian Pertahanan AS, Sean Parnell, menegaskan bahwa Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Jenderal Brad Cooper, dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine memiliki pandangan yang solid dan bersatu dalam strategi penanganan Iran.

Kendati demikian, sejumlah laporan menyebutkan adanya perdebatan internal mengenai tingkat risiko. Jenderal Caine mengingatkan bahwa penurunan tingkat persediaan amunisi defensif dan rudal pencegat berpotensi meningkatkan risiko operasional jika operasi skala besar dilanjutkan. Di sisi lain, para pejabat 'Israel' dilaporkan mulai merasa cemas terhadap sensitivitas Trump terkait potensi lonjakan harga minyak global serta kekhawatiran stok amunisi AS yang kian menipis.

Sementara itu, situasi di Teheran diwarnai oleh sikap siaga dan antisipasi terhadap potensi serangan balasan Washington. Kepala biro Al Jazeera di Teheran, Nourreddin Daghir, melaporkan bahwa para analis di Iran memperkirakan respons militer AS kemungkinan akan dijaga pada batas tertentu agar tidak memicu perang terbuka yang tidak terkendali, demi menjaga peluang jalur diplomasi yang tengah diupayakan, termasuk melalui mediasi Kesultanan Oman. (zarahamala/arrahmah.id)