Memuat...

46 Jam Penuh Teror di Qalandiya, Pasukan 'Israel' Ubah Kamp Pengungsian Jadi Zona Perang

Zarah Amala
Sabtu, 8 Agustus 2026 / 25 Safar 1448 10:30
46 Jam Penuh Teror di Qalandiya, Pasukan 'Israel' Ubah Kamp Pengungsian Jadi Zona Perang
Tentara pendudukan 'Israel' menyerbu kamp Qalandiya di utara Yerusalem (Al Jazeera)

YERUSALEM (Arrahmah.id) - Selama 46 jam lamanya, puluhan ribu warga di kamp pengungsian Qalandiya, sebelah utara Yerusalem yang diduduki, hidup dalam kecemasan mendalam tanpa mengetahui rumah siapa yang akan menjadi sasaran penggerebekan berikutnya oleh pasukan 'Israel'.

Dalam laporan komprehensif yang dirilis oleh Al Jazeera, kamp yang dihuni oleh sekitar 19.000 jiwa di atas area seluas kurang dari 330 dunam ini berubah menjadi zona teror. Warga terus-menerus mendengar suara hantaman pintu yang diledakkan, perusakan properti, serta kekerasan terhadap tetangga di rumah-rumah bersebelahan, di tengah operasi militer acak yang diklaim 'Israel' sebagai upaya membasmi "infrastruktur teroris".

Operasi militer masif ini dimulai pada Rabu dini hari (5/8/2026) pukul 02.00 waktu setempat, disertai penutupan total seluruh akses masuk kamp dan penyebaran penembak jitu (sniper). Tak hanya menyasar jalanan, pasukan pendudukan memaksa sejumlah keluarga mengosongkan rumah tanpa peringatan, mengubah hunian warga menjadi posko investigasi dan barak militer tempat para tentara beristirahat dan makan selama berjam-jam.

Warga setempat, termasuk jurnalis Asil Eid, mengungkapkan bahwa intensitas dan tingkat kepemilikan destruktif dalam operasi kali ini mengingatkan mereka pada kehancuran yang terjadi di kamp-kamp wilayah utara seperti Jenin, Tulkarm, dan Nur Shams. Ancaman juga disebar secara luas melalui pamflet di lorong-lorong kamp serta pesan singkat (SMS) ke ponsel penduduk yang berbunyi: "Kami telah meluncurkan kampanye besar di kamp Qalandiya. Pasukan kami dikerahkan untuk mengamankan jalan. Jangan tantang kami."

Berdasarkan data terbaru dari Gubernur Yerusalem, tim Bulan Sabit Merah Palestina mencatat setidaknya 51 korban luka akibat operasi militer tersebut. Rinciannya, sebanyak 38 orang mengalami luka-luka akibat penganiayaan fisik berat dan harus dilarikan ke rumah sakit, enam orang mendapat perawatan medis lapangan karena kekerasan fisik, satu orang terluka akibat peluru karet, serta enam orang lainnya mengalami sesak napas akibat gas air mata. Selain korban luka, lebih dari 60 warga, termasuk anak-anak dan wanita, dilaporkan ditahan atau harus menjalani investigasi lapangan oleh aparat keamanan.

Selain korban jiwa dan luka, operasi brutal ini juga berujung pada penghancuran sebagian rumah warga, seperti yang dialami keluarga Mohammad Jamil Ammar dan warga bernama Tariq Ayyad yang menjadi korban penganiayaan berat di depan anak-anak mereka. Di luar kawasan kamp, pasukan Israel juga meratakan 7 toko dan fasilitas komersial di sekitar pos pemeriksaan (checkpoints) Qalandiya.

Pejabat Hubungan Masyarakat Gubernur Yerusalem, Omar Al-Rajoub, menilai bahwa eskalasi di Qalandiya tidak lepas dari posisi strategis kamp sebagai gerbang utara Yerusalem yang menghubungkan Ramallah dengan wilayah utara Tepi Barat, di mana wilayah ini kerap menjadi target proyek demografi dan perluasan infrastruktur strategis Israel, termasuk rencana jalan raya kontroversial Street 45. (zarahamala/arrahmah.id)