Memuat...

Newsweek: Dunia di Ambang Perang Dunia III? Tumpukan Konflik Global Kian Mengkhawatirkan

Samir Musa
Sabtu, 8 Agustus 2026 / 25 Safar 1448 06:58
Newsweek: Dunia di Ambang Perang Dunia III? Tumpukan Konflik Global Kian Mengkhawatirkan
Manuver militer "Quadriga" yang digelar sejumlah negara anggota NATO di Eropa Utara dan Eropa Timur. (Getty Images)

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Dunia saat ini dinilai sedang memasuki fase yang sangat berbahaya, di mana berbagai konflik bersenjata di sejumlah kawasan berpotensi saling berkaitan dan memicu konfrontasi yang lebih besar. Dalam analisis yang dimuat Newsweek , kolumnis Dan Perry diperingatkan bahwa akumulasi berbagai krisis global dapat berkembang menjadi perang berskala dunia jika gagal dikendalikan.

Perry menegaskan bahwa sejarah menunjukkan perang dunia tidak selalu diawali oleh keputusan sengaja dari negara adidaya. Sebaliknya, konflik besar sering kali muncul akibat krisis rangkaian yang terus menumpuk, kesalahan perhitungan para pemimpin, jaringan aliansi yang rumit, hingga kejadian kecil yang akhirnya lepas kendali.

Menurutnya, kondisi dunia saat ini memiliki sejumlah kesamaan dengan situasi menjelang pecahnya perang-perang besar pada abad ke-20.

Salah satu sumber kekhawatiran terbesar adalah perang Rusia-Ukraina, yang menjadi konflik militer terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Berlanjutnya pertempuran antara Moskow dan Kyiv, meningkatnya dukungan negara-negara Barat ke Ukraina, serta semakin seringnya ketegangan antara Rusia dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) meningkatkan risiko bentrokan langsung antara Rusia dan negara-negara Eropa.

Perry menilai kemungkinan konflik terbuka antara Rusia dan Eropa kini bukan lagi sekedar skenario yang jauh. Negara-negara Eropa terus memperkuat kemampuan militernya, sementara Rusia semakin keras memperkuat batasan NATO yang dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya. Dalam situasi seperti ini, kesalahan kalkulasi di kawasan perbatasan dapat memicu eskalasi yang sulit dihentikan.

Kapal selam rudal balistik bertenaga nuklir milik Tiongkok tampak berlayar di perairan saat parade militer di Laut China Selatan. (Reuters)

Di Timur Tengah, menurut Perry, berbagai konflik yang sedang berlangsung juga memperumit situasi global. Ketegangan antara “Israel” dan Iran, serta konflik yang terus berlangsung di Gaza, Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman, telah membentuk jaringan konflik tidak langsung yang melibatkan berbagai kekuatan regional maupun internasional. Eskalasi besar di salah satu titik berpotensi menyeret pihak-pihak lain ke dalam peperangan yang lebih luas.

Selain itu, persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok juga dinilai semakin tajam, terutama terkait Taiwan, Laut Tiongkok Selatan, serta persaingan teknologi tinggi. Perry mengingatkan bahwa skenario paling berbahaya adalah apabila krisis besar di Eropa terjadi bersamaan dengan pecahnya konflik di Asia, sehingga negara-negara besar harus menghadapi lebih dari satu front peperangan dalam waktu yang sama.

Ia juga menyoroti bahwa dunia saat ini menghadapi lebih banyak titik dari beberapa dekade terakhir. Selain peperangan, konvensional kini muncul perang siber, perang informasi, serta persaingan memperebutkan sumber daya, energi, dan rantai pasok global yang membuat karakter peperangan modern jauh lebih kompleks.

Meski begitu, Perry tidak menyatakan bahwa Perang Dunia III pasti akan terjadi. Ia hanya mengingatkan agar dunia tidak terlena dengan anggapan bahwa kekuatan-kekuatan besar selalu mampu mengendalikan setiap krisis. Pada masa Perang Dingin, ancaman kehancuran nuklir menjadi faktor penghentian konflik. Namun kini, banyaknya aktor bersenjata dan meningkatnya peran kekuatan daerah membuat pengelolaan risiko menjadi jauh lebih sulit.

Sebagai pelajaran sejarah, Perry mengingatkan bahwa Perang Dunia I bermula dari pembunuhan Putra Mahkota Austria yang pada awalnya merupakan krisis terbatas. Namun, karena jaringan aliansi yang saling mengikat, konflik tersebut berkembang menjadi perang besar yang mengubah tatanan dunia.

Di akhir tulisannya, Perry menilai ancaman terbesar bukanlah satu konflik besar semata, melainkan terjadinya berbagai krisis secara bersamaan di Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Kondisi tersebut menuntut diplomasi yang lebih kuat serta pengendalian diri dari seluruh pihak agar berbagai percikan konflik tidak berkembang menjadi bencana global.

Menurutnya, bayang-bayang Perang Dunia III bukan berarti dunia pasti menuju kehancuran, melainkan menunjukkan bahwa sistem internasional sedang berada dalam masa transisi yang penuh gejolak. Di tengah melemahnya mekanisme penangkalan lama

dan meningkatnya persaingan antarnegara besar, upaya mencegah konflik global kini menjadi semakin sulit.

(Samirmusa/arrahmah.id)