WASHINGTON (Arrahmah.id) — Perang Amerika Serikat dengan Iran mulai menimbulkan biaya strategis yang jauh melampaui medan pertempuran. Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan adalah menyusutnya persediaan sejumlah rudal utama Amerika Serikat, baik untuk menyerang maupun mempertahankan pangkalan militernya.
Sejumlah laporan media Amerika Serikat mengungkap bahwa Washington menghadapi tekanan besar untuk mempertahankan operasi militernya terhadap Iran sekaligus menjaga kesiapan menghadapi kemungkinan konflik lain di Asia maupun Eropa.
Dilansir dari Newsweek (7/8/2026), pasukan Amerika Serikat disebut telah menggunakan hampir seluruh persediaan sistem rudal taktis ATACMS dan rudal serang presisi. Rudal balistik yang diluncurkan dari darat tersebut memungkinkan militer AS menyerang sasaran jauh di Iran tanpa harus terlalu mendekatkan pesawat tempur ke sistem pertahanan udara Iran.
Persediaan rudal jelajah Tomahawk juga mengalami penurunan signifikan. Mengutip Reuters, Newsweek melaporkan bahwa stok Tomahawk yang tersisa diperkirakan kurang dari setengah persediaan sebelum perang.
Angkatan Laut AS disebut telah meluncurkan lebih dari 1.000 Tomahawk sejak perang dengan Iran dimulai pada Februari lalu. Menurut The Wall Street Journal, lebih dari 850 rudal di antaranya digunakan hanya pada bulan pertama perang.

Rudal pertahanan ikut terkuras
Persoalan tidak hanya terjadi pada persenjataan ofensif. Stok rudal pencegat yang menjadi bagian penting sistem pertahanan AS juga mengalami penurunan tajam.
Mengutip Center for Strategic and International Studies (CSIS), Newsweek melaporkan bahwa jumlah rudal pencegat sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) turun dari sekitar 452 sebelum perang menjadi sekitar 234 rudal pada akhir Juli.
Stok rudal Patriot bahkan disebut turun dari sekitar 2.330 menjadi sekitar 759 rudal dalam periode yang sama.
Perkiraan tersebut sejalan dengan laporan CNN yang menyebut militer AS telah menggunakan antara 65 hingga 80 persen rudal THAAD serta sekitar separuh rudal Patriot.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah yang menghadapi serangan rudal balistik Iran.
Lebih jauh, lembaga Heritage Foundation memperingatkan bahwa stok rudal pencegat AS saat ini tidak memadai untuk menghadapi konflik bersenjata dengan China.
Dalam skenario serangan mendadak China terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan Pasifik, persediaan rudal pencegat Amerika bahkan berpotensi habis hanya dalam beberapa hari pertama konflik.

Pangkalan AS terus berada di bawah tekanan
Tekanan terhadap militer AS juga meningkat akibat serangan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di Timur Tengah.
Menurut Newsweek, puluhan serangan terjadi terhadap fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania sepanjang 18 Juni hingga 28 Juli.
Serangan tersebut menambah beban terhadap sistem pertahanan Amerika yang harus terus mengandalkan rudal pencegat untuk melindungi personel dan fasilitas militernya.
Dampaknya bahkan dirasakan di luar kawasan Timur Tengah.
Ukraina, misalnya, dilaporkan mengalami kekurangan rudal pencegat Patriot yang dipasok Amerika Serikat. Kondisi tersebut memengaruhi kemampuan Kyiv menghadapi serangan udara Rusia.
Dalam salah satu serangan terbaru Rusia terhadap Kyiv, sejumlah rudal balistik disebut tidak berhasil dicegat akibat keterbatasan rudal pencegat. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa dan kerusakan luas.
Keunggulan strategis AS mulai tergerus
Majalah The Atlantic menilai krisis persenjataan tersebut mulai menjadi faktor penting dalam menentukan arah perang sekaligus mempersempit ruang gerak pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dalam laporan yang ditulis Nancy Youssef dan Jonathan Lemire, Amerika Serikat disebut mulai kehilangan sebagian keunggulan strategisnya akibat terkikisnya persediaan rudal jarak jauh.
Beberapa jenis senjata penting bahkan dilaporkan tersisa pada tingkat kritis, sekitar 20 persen dari kebutuhan yang digunakan dalam perencanaan militer Pentagon.
Kondisi tersebut tidak hanya mengancam kemampuan Washington menangani perang dengan Iran, tetapi juga berpotensi membatasi kemampuan AS menghadapi eskalasi di Asia atau ancaman secara bersamaan dari Rusia dan China.
Menteri Perang AS Pete Hegseth disebut telah meminta anggota Partai Republik di Kongres mengalokasikan miliaran dolar untuk membangun kembali persediaan senjata.
Namun, persoalannya bukan sekadar anggaran.
Industri pertahanan Amerika juga menghadapi keterbatasan kapasitas produksi. Kontrak baru untuk sistem persenjataan seperti Patriot membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum rudal dapat diproduksi dan dikirim, sementara kebutuhan militer berlangsung jauh lebih cepat.
The Atlantic mencatat bahwa permintaan terhadap sistem Patriot saat ini jauh melampaui kapasitas produksi pabrik-pabrik Amerika. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan diperkirakan belum akan teratasi hingga akhir dekade ini.
Trump bantah laporan kekurangan rudal
Di tengah kekhawatiran tersebut, pemerintahan Trump membantah bahwa Amerika Serikat menghadapi kekurangan persenjataan yang membahayakan kemampuan militernya.
Menurut The Atlantic, Trump bahkan marah setelah menerima penilaian keamanan mengenai menyusutnya persediaan amunisi yang diperlukan untuk menghadapi kemungkinan eskalasi lebih lanjut dengan Iran.
Trump kemudian membantah laporan mengenai kekurangan amunisi melalui platform Truth Social. Ia menyebut pemberitaan mengenai menipisnya persediaan senjata sebagai informasi palsu dan menilai kebocoran informasi tersebut sebagai tindakan yang sangat serius.
Trump juga menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan pertahanan Amerika terus mengirimkan persenjataan dalam jumlah besar sesuai kebutuhan.
Namun, persoalan persediaan rudal pencegat tetap menjadi tantangan serius. Kemampuan pertahanan terhadap serangan balasan Iran merupakan bagian penting dari daya tangkal Amerika Serikat.
Dengan demikian, semakin menipisnya rudal pencegat dapat meningkatkan risiko apabila Washington memilih memperluas perang.
Situasi ini menunjukkan bahwa hasil perang tidak hanya ditentukan oleh keunggulan teknologi militer atau keputusan politik. Kemampuan industri pertahanan untuk mengganti persenjataan yang telah digunakan juga menjadi faktor strategis.
Bagi Amerika Serikat, tantangan terbesar kini adalah menjaga keseimbangan antara mempertahankan perang panjang di Timur Tengah dan memastikan kesiapan militernya menghadapi potensi konflik lain di kawasan Asia maupun Eropa.
(Samirmusa/arrahmah.id)
