Memuat...

Keluarga Awak Kapal Induk AS Abraham Lincoln Murka, Desak Pentagon Segera Pulangkan Ribuan Pelaut dari Misi Iran

Samir Musa
Sabtu, 8 Agustus 2026 / 25 Safar 1448 07:12
Keluarga Awak Kapal Induk AS Abraham Lincoln Murka, Desak Pentagon Segera Pulangkan Ribuan Pelaut dari Misi Iran
Kapal induk Amerika Serikat "Lincoln" terus menjalani penugasan militer berkepanjangan dalam operasi melawan Iran. (Getty Images)

SAN DIEGO (Arrahmah.id) – Kemarahan keluarga para pelaut dan marinir Amerika Serikat memuncak setelah kapal induk USS Abraham Lincoln terus menjalani penugasan militer terpanjangnya dalam operasi melawan Iran tanpa kepastian kapan akan kembali ke Amerika Serikat.

Dilansir dari media Amerika, Sabtu (8/8/2026), keluarga para personel menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap memburuknya kondisi mental anggota keluarga mereka yang telah berbulan-bulan bertugas di laut.

Kemarahan itu meledak dalam pertemuan dengan pejabat Angkatan Laut AS di Pangkalan Udara Angkatan Laut North Island, San Diego, California. Dalam pertemuan tersebut, keluarga para pelaut menuntut Penjabat Menteri Angkatan Laut AS, Hung Cao, memberikan penjelasan mengenai kondisi para awak kapal serta kepastian kepulangan mereka.

Gelombang protes juga berlanjut dalam pertemuan virtual pada malam harinya. Pimpinan Angkatan Laut AS menghadapi rentetan pertanyaan dan kritik dari keluarga sekitar 5.000 pelaut dan marinir yang bertugas di atas USS Abraham Lincoln.

Selain mempertanyakan nasib anggota keluarga mereka di tengah konflik, para peserta juga menyoroti berbagai persoalan yang disebut semakin membebani para awak kapal, mulai dari kesehatan mental, keselamatan personel, keterbatasan logistik dan makanan, hingga dugaan pencemaran air minum di atas kapal.

Keluarga juga mengeluhkan terganggunya layanan pos militer yang menyebabkan paket, surat, dan hadiah yang mereka kirim selama berbulan-bulan tidak sampai kepada para pelaut.

Kekhawatiran keluarga

Sejumlah keluarga menyampaikan kesaksian yang menggambarkan tekanan psikologis yang dialami para personel.

Seorang ibu mengaku putrinya mulai merasa tidak akan pernah pulang ke rumah dan khawatir kehilangan nyawanya selama bertugas di atas kapal.

Keluarga lainnya menilai Angkatan Laut AS tidak memberikan perhatian yang memadai terhadap kesejahteraan para pelaut selama penugasan tersebut.

Seorang ibu lainnya bahkan mempertanyakan tujuan operasi militer yang dijalankan putranya. Ia mengaku sulit merasa bangga karena meyakini militer Amerika telah menewaskan warga sipil yang tidak bersalah. Menurutnya, sang putra juga mengungkapkan rasa bersalah atas tugas yang dijalaninya.

Belum ada kepastian pulang

Dalam upaya meredakan kemarahan keluarga, Hung Cao mengungkapkan bahwa Angkatan Laut AS sedang menyiapkan gugus tempur baru yang dipimpin kapal induk USS Theodore Roosevelt untuk menggantikan USS Abraham Lincoln di Timur Tengah.

Namun, pengumuman tersebut tidak menjawab pertanyaan utama keluarga para awak kapal. Hung Cao tidak memberikan jadwal pasti kapan USS Abraham Lincoln akan kembali ke Amerika Serikat dengan alasan pertimbangan keamanan.

Kekhawatiran keluarga semakin besar karena lamanya masa penugasan kapal induk tersebut. Hingga Jumat (7/8), USS Abraham Lincoln telah berada di laut selama 259 hari sejak meninggalkan Pelabuhan San Diego pada 21 November tahun lalu, menjadikannya salah satu masa penugasan terpanjang dalam operasi militer Amerika terhadap Iran.

Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan setelah pecahnya perang Amerika Serikat dan "Israel" terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Konflik tersebut mengalami berbagai fase eskalasi sebelum Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengumumkan penghentian operasi militer dan menyatakan optimisme terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Teheran.

(Samirmusa/arrahmah.id)