Memuat...

Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Bentuk Pakta Pertahanan Bersama: Serangan ke Satu Negara Dianggap Serangan ke Semua

Samir Musa
Jumat, 7 Agustus 2026 / 24 Safar 1448 21:24
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Bentuk Pakta Pertahanan Bersama: Serangan ke Satu Negara Dianggap Serangan ke Semua
(Tampak dari kanan) Perdana Menteri Pakistan, Putra Mahkota Arab Saudi, dan Presiden Turki setelah penandatanganan Perjanjian Makkah untuk Pertahanan Bersama (Kantor Berita Arab Saudi).

MAKKAH (Arrahmah.id) – Arab Saudi, Pakistan, dan Turki resmi menandatangani Perjanjian Makkah untuk Pertahanan Bersama pada Jumat (7/8/2026), dalam sebuah langkah yang dinilai sebagai tonggak baru kerja sama pertahanan di kawasan.

Berdasarkan pernyataan bersama yang dikutip dari Kantor Berita Arab Saudi (SPA), perjanjian tersebut menegaskan bahwa setiap serangan bersenjata terhadap salah satu dari tiga negara akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota perjanjian.

Kesepakatan ini bertujuan memperkuat daya tangkal bersama terhadap berbagai ancaman, sekaligus memperluas kerja sama di bidang pertahanan, keamanan, dan stabilitas regional.

Ketiga negara menyatakan bahwa penandatanganan perjanjian tersebut mencerminkan komitmen mereka untuk memperkuat keamanan bersama serta berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan maupun dunia demi masa depan yang lebih aman dan sejahtera.

(Tampak dari kanan) Perdana Menteri Pakistan, Putra Mahkota Arab Saudi, dan Presiden Turki saat penandatanganan Perjanjian Makkah untuk Pertahanan Bersama (Kantor Berita Arab Saudi).

Kerangka Pertahanan Tiga Negara

Dilansir dari Al Jazeera, koresponden Badar Al-Rubaian menjelaskan bahwa Perjanjian Makkah berbeda dengan berbagai perjanjian pertahanan bilateral yang telah ada sebelumnya, termasuk kerja sama pertahanan Arab Saudi-Pakistan.

Menurutnya, perjanjian ini membentuk kerangka pertahanan trilateral yang menyatukan Riyadh, Ankara, dan Islamabad berdasarkan prinsip pertahanan kolektif, sehingga setiap agresi terhadap salah satu negara dipandang sebagai ancaman terhadap keseluruhan aliansi.

Ia menambahkan bahwa kesepakatan tersebut merupakan hasil dari proses politik dan diplomatik yang berlangsung selama hampir dua tahun, melalui serangkaian pertemuan teknis dan politik di tengah meningkatnya tantangan keamanan kawasan serta kekhawatiran terhadap keselamatan jalur pelayaran internasional.

Sumber-sumber Saudi yang dikutip Al Jazeera juga menyebutkan bahwa dalam waktu dekat kemungkinan akan diumumkan pembentukan sekretariat jenderal sebagai badan yang mengelola kerja sama tersebut, dengan Riyadh dipertimbangkan sebagai lokasi markas besarnya.

Memadukan Kekuatan Masing-masing Negara

Perjanjian ini juga dinilai membawa hubungan ketiga negara ke tingkat yang lebih terintegrasi dengan memanfaatkan keunggulan masing-masing.

Arab Saudi saat ini tengah mendorong lokalisasi industri pertahanannya, Turki dikenal memiliki industri militer yang berkembang pesat dan berteknologi tinggi, sementara Pakistan memiliki pengalaman panjang dalam bidang militer dan operasional.

Kombinasi kemampuan tersebut diyakini akan melahirkan kerja sama pertahanan yang lebih komprehensif, melampaui sekadar koordinasi politik.

Presiden Turki juga menegaskan bahwa setiap serangan terhadap salah satu negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.

Bukan Aliansi Militer atau Blok Sektarian

Wakil Menteri Luar Negeri Arab Saudi untuk Diplomasi Publik, Raed Qarmali, mengatakan bahwa Perjanjian Makkah mencerminkan eratnya hubungan strategis dan historis antara ketiga negara yang telah terjalin selama puluhan tahun.

Dalam unggahannya di platform X, ia menjelaskan bahwa perjanjian tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan pertahanan bersama, memperkuat efek penangkalan strategis, meningkatkan kesiapsiagaan militer, serta mengintegrasikan kemampuan pertahanan ketiga negara.

Qarmali menegaskan bahwa perjanjian ini bukan langkah untuk membentuk poros militer, blok sektarian, maupun perlombaan senjata atau kerja sama nuklir. Menurutnya, fokus utama adalah membangun kemampuan pertahanan yang mandiri dan berkelanjutan.

(Tampak dari kanan) Perdana Menteri Pakistan, Putra Mahkota Arab Saudi, dan Presiden Turki dalam rangkaian KTT Makkah untuk Pertahanan Bersama (Al Jazeera).

Berpotensi Menjadi Aliansi Regional yang Lebih Besar

Pakar kebijakan Timur Tengah, Mahjoub Al-Zuwairi, menilai perjanjian tersebut berpotensi menjadi embrio aliansi regional yang lebih luas di tengah meningkatnya tantangan keamanan, termasuk kebijakan "Israel" dan ketegangan dengan Iran.

Menurutnya, negara-negara lain berpeluang bergabung di masa mendatang sehingga terbentuk blok politik dan pertahanan yang mampu menciptakan keseimbangan baru di kawasan tanpa harus berbenturan langsung dengan kepentingan Amerika Serikat.

Ia juga memperkirakan Washington akan mencermati perkembangan aliansi baru tersebut, terutama jika keanggotaannya terus bertambah dan meningkatkan pengaruhnya dalam dinamika politik serta keamanan Timur Tengah.

Hasil Negosiasi Panjang

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tiba di Jeddah pada Jumat, setelah sehari sebelumnya Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Pakistan Marsekal Asim Munir lebih dahulu berada di Arab Saudi.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan pada awal tahun ini mengungkapkan bahwa Ankara tengah melakukan pembicaraan mengenai kemungkinan perjanjian pertahanan dengan Arab Saudi dan Pakistan.

Menteri Produksi Pertahanan Pakistan, Raza Hayat Harraj, juga pernah menyatakan bahwa ketiga negara telah menyelesaikan rancangan perjanjian setelah proses negosiasi selama hampir satu tahun.

Ia menegaskan bahwa kesepakatan trilateral tersebut berbeda dari perjanjian pertahanan bilateral Arab Saudi-Pakistan yang diumumkan pada 2025 dan memerlukan persetujuan akhir dari seluruh pihak sebelum akhirnya disahkan.

Perlu diketahui, Arab Saudi dan Pakistan sebelumnya telah lebih dahulu memiliki perjanjian pertahanan bersama yang diumumkan pada 2025. Kesepakatan tersebut sempat memunculkan berbagai spekulasi, termasuk mengenai kemungkinan keterkaitannya dengan kerja sama di bidang nuklir mengingat Pakistan merupakan negara pemilik senjata nuklir.

(Samirmuslim/arrahmah.id)