KABUL (Arrahmah.id) - Sheikh Shahabuddin Delawar, kepala Masyarakat Bulan Sabit Merah Afghanistan dan mantan anggota senior kantor politik Imarah Islam Afghanistan di Doha, mengatakan dalam sebuah diskusi dengan Tolo News bahwa Amerika Serikat melakukan 3.000 pelanggaran bahkan setelah Perjanjian Doha.
Ia juga menegaskan bahwa tuntutan Washington terhadap Imarah Islam menunjukkan bahwa Amerika Serikat telah mengakui Imarah Islam.
Sheikh Shahabuddin Delawar mengatakan: "Bahkan saat ini, jika Anda perhatikan, mereka telah mengakui kami. Ketika mereka duduk bersama kami, membuat komitmen, dan memberi tahu kami cara mematuhi gencatan senjata serta cara bertindak, semua ini berarti bahwa ini adalah sebuah pemerintahan."
Delawar menambahkan salah satu alasan kegagalan pembicaraan intra-Afghanistan adalah karena anggota pemerintahan sebelumnya tidak serius dalam negosiasi tersebut. Ia mengatakan bahwa penarikan pasukan asing menunjukkan bahwa rakyat Afghanistan tidak akan menyerah kepada negara mana pun dan bahwa tidak ada negara yang dapat memaksakan kehendaknya terhadap Afghanistan melalui kekerasan.
"Kebutuhan akan negosiasi berakhir ketika pendudukan berakhir. Afghanistan menginginkan negosiasi diplomatik, perdagangan, dan kemanusiaan dengan seluruh dunia."
Ia menambahkan bahwa ada pihak-pihak yang tidak menginginkan Afghanistan makmur atau memiliki pemerintahan yang bersatu, dan itulah sebabnya mereka belum mengakui Imarah Islam.
Berbicara mengenai bentrokan baru-baru ini antara Pakistan dan Afghanistan, Delawar juga menegaskan bahwa Islamabad melakukan kesalahan dengan mengambil tindakan semacam itu.
"Ada banyak negara yang menginginkan Afghanistan tetap berada di bawah pengaruh politik, militer, dan ekonomi mereka," ungkapnya.
Di bagian lain pernyataannya, Sheikh Shahabuddin Delawar mengatakan bahwa Imarah Islam Afghanistan berkomitmen untuk menjamin hak-hak perempuan serta bahwa perempuan dan anak perempuan telah diberikan hak-hak mereka di berbagai bidang. (haninmazaya/arrahmah.id)
