HEBRON (Arrahmah.id) - Kelompok pemukim sayap kanan 'Israel' dilaporkan membakar wilayah luas lahan pertanian milik warga Palestina di sebelah barat Kota Hebron, Tepi Barat selatan, pada Selasa (2/6/2026). Aksi pembakaran ladang gandum siap panen ini memicu ketegangan dan bentrokan fisik di lokasi kejadian, di bawah perlindungan langsung dari pasukan militer 'Israel' (IDF).
Salah satu petani Palestina yang menjadi korban terdampak menjelaskan kepada Al Jazeera Mubasher bahwa para pemukim 'Israel' secara sengaja menyulut api di lahan pertanian dan menggunakan alat peniup udara mekanis untuk mempercepat amukan api. Akibatnya, kebakaran vegetasi langsung meluas dan menghanguskan ratusan dunam (puluhan hektar) lahan yang tengah ditanami komoditas gandum dan pohon zaitun tua.
Upaya warga lokal Palestina untuk memadamkan api dan menyelamatkan hasil panen mereka justru diadang oleh pasukan keamanan 'Israel' yang bersiaga di perimeter lokasi. Tiga pemuda Palestina dilaporkan langsung ditangkap oleh tentara 'Israel' di tengah kekacauan di lokasi pembakaran. Alih-alih memadamkan api, pasukan IDF yang mengawal para pemukim justru menembakkan rentetan gas air mata ke arah kerumunan warga Palestina guna mencegah mereka mendekati titik api.
Korban menambahkan bahwa sabotase ini merupakan kelanjutan dari kampanye tekanan sistematis sejak 7 Oktober 2023, yang mencakup penyitaan tanah secara sepihak dan perampasan hewan ternak milik warga.
Rekaman video yang disiarkan memperlihatkan situasi bising akibat sirene tanggap darurat, kepulan asap hitam, serta adu mulut yang disertai saling dorong antara petani lokal dan tentara 'Israel'. Komandan keamanan 'Israel' terdengar memberikan instruksi dalam bahasa Ibrani untuk mengusir paksa warga Palestina dari tanah mereka sendiri.
Para murni petani Hebron mendesak komunitas internasional untuk segera turun tangan dan mengambil sikap tegas guna melindungi warga sipil Palestina beserta aset ketahanan pangan mereka. Warga menegaskan akan tetap bertahan di tanah leluhur mereka meskipun harus menghadapi intimidasi harian yang kian ekstrem.
Aksi pembakaran, penggusuran lahan, dan pemblokiran akses petani ke kebun mereka sendiri dilaporkan melonjak tajam, khususnya di wilayah-wilayah pedesaan yang berbatasan langsung dengan pos-pos pemukiman ilegal Yahudi.
Berdasarkan data kuantitatif mutakhir yang dirilis oleh Kantor Media Pemerintah Palestina, rangkaian eskalasi militer dan friksi pemukim di Tepi Barat hingga kini telah menyebabkan 1.168 warga Palestina gugur, 12.666 orang luka-luka, serta memicu penahanan terhadap hampir 23.000 warga, dan pengusiran paksa bagi sekitar 33.000 penduduk sejak akhir 2023. (zarahamala/arrahmah.id)
