Memuat...

Dimediasi AS, 'Israel'-Lebanon Sepakati Gencatan Senjata Bersyarat

Zarah Amala
Kamis, 4 Juni 2026 / 19 Zulhijah 1447 10:55
Dimediasi AS, 'Israel'-Lebanon Sepakati Gencatan Senjata Bersyarat
Markas besar Departemen Luar Negeri AS di Washington menjadi tuan rumah negosiasi selama dua hari antara Lebanon dan 'Israel' (Associated Press).

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Amerika Serikat mengumumkan bahwa 'Israel' dan Lebanon telah sepakat untuk menerapkan gencatan senjata baru usai merampungkan putaran keempat negosiasi bilateral yang berlangsung selama dua hari di Washington.

Berdasarkan keterangan resmi Departemen Luar Negeri AS, di bawah arahan Washington, kedua belah pihak sepakat untuk mempercepat pembentukan zona uji coba di mana Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) akan memegang kendali keamanan darat secara eksklusif dan menyingkirkan seluruh aktor non-pemerintah. Kendati demikian, implementasi gencatan senjata ini bersyarat mutlak pada penghentian total operasi militer oleh kelompok Hizbullah dan penarikan mundur seluruh pasukannya dari wilayah selatan Sungai Litani.

Gedung Putih menegaskan bahwa langkah pengambilalihan kendali oleh tentara Lebanon ini akan membuka jalan menuju kesepakatan damai jangka panjang yang komprehensif, di mana masa depan hubungan kedua negara murni diputuskan secara berdaulat oleh kedua pemerintah tanpa adanya intervensi pihak asing.

Dokumen kerangka keamanan yang sempat dibahas di Pentagon pada 29 Mei lalu tersebut mewajibkan pembongkaran infrastruktur militer kelompok bersenjata non-pemerintah dan mencegah mereka kembali ke wilayah perbatasan.

Guna menuntaskan sejumlah klausul yang masih tertunda, delegasi 'Israel' dan Lebanon dijadwalkan akan melanjutkan negosiasi langsung di bawah mediasi penuh Amerika Serikat pada 22 Juni 2026 mendatang.

Namun, pengumuman kesepakatan politik di Washington ini terjadi di tengah eskalasi militer yang sangat berdarah di lapangan, yang terus mengabaikan kesepakatan gencatan senjata sebelumnya yang berlaku sejak 17 April lalu.

Dalam kurun waktu 24 jam terakhir sebelum kesepakatan diumumkan, militer 'Israel' meluncurkan sedikitnya 96 serangan masif yang terdiri dari 84 serangan udara, 7 bombardir artileri, dan 5 peledakan gedung permukiman di wilayah tengah dan selatan Lebanon.

Kantor Berita Resmi Lebanon melaporkan agresi tersebut menewaskan sedikitnya 22 orang, termasuk empat petugas medis dan satu tentara Lebanon, serta melukai 13 orang lainnya setelah jet tempur dan drone 'Israel' menggempur beberapa wilayah strategis seperti Tyre, Abbasieh, dan Ghazieh.

Sebagai respons atas agresi tersebut, Hizbullah meluncurkan serangan balasan menggunakan dua drone bunuh diri yang menyasar pos komando militer 'Israel' di sekitar Kastil Shaqif di Lebanon Selatan. Selain itu, kelompok perlawanan ini juga menghujani konsentrasi pasukan IDF di pinggiran selatan kota Dibbine dan Yahmar al-Shaqif dengan rentetan roket taktis yang diklaim berhasil menimbulkan korban luka di pihak 'Israel', serta menembakkan rudal darat-ke-udara (SAM) untuk mengusir dua drone pengintai 'Israel' keluar dari ruang udara sektor barat.

Rangkaian serangan baru ini kian menambah panjang daftar korban sejak perang meluas pada 2 Maret lalu, di mana otoritas kesehatan Lebanon mencatat total korban tewas telah mencapai 3.516 jiwa, 10.674 orang luka-luka, dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi. (zarahamala/arrahmah.id)