GHAZNI (Arrahmah.id) - Kepala Departemen Pelestarian Artefak Jihad di Kementerian Informasi dan Kebudayaan menyatakan bahwa, berdasarkan perintah pemimpin Imarah Islam, berbagai hal yang mencakup peristiwa selama lebih dari dua dekade jihad, tindakan yang oleh Imarah Islam disebut sebagai kejahatan perang oleh pasukan asing di Afghanistan, peralatan militer yang ditinggalkan pasukan tersebut, serta dokumen sejarah terkait, akan dikumpulkan dan didokumentasikan sebagai bagian dari sejarah negara.
Mohammad Tahir Ahmad, saat berbicara dalam sebuah pertemuan di Ghazni mengenai pengumpulan artefak jihad, mengatakan bahwa museum jihad akan didirikan di seluruh negeri untuk melestarikan artefak dari masa peperangan lampau. Ia menambahkan bahwa monumen dan tugu peringatan juga akan dibangun untuk mengenang pasukan Imarah Islam, lansir Tolo News (5/10/2026).
Mohammad Tahir Ahmad, Kepala Departemen Pelestarian Artefak Jihad di Kementerian Informasi dan Kebudayaan, mengatakan: "Jumlah warga sipil yang gugur sebagai syuhada dan terluka akibat tindakan mereka akan didokumentasikan. Kementerian Urusan Syuhada dan Penyandang Disabilitas telah mendata mereka, dan kami akan mencatatnya dalam lembaran sejarah. Kami akan memperlihatkan kejahatan musuh kepada masyarakat dan membentuk pola pikir generasi mendatang melalui hal-hal tersebut."
Sardar Mohammad Madani, Wakil Gubernur Ghazni, mengatakan: "Selama 48 tahun terakhir, negara-negara adidaya dunia menginvasi Afghanistan. Ini adalah periode penting dalam sejarah Afghanistan yang telah kami lalui. Namun, dari periode tersebut, pada akhirnya kami meraih kemenangan."
Mohammad Tahir Ahmad juga mengatakan bahwa kendaraan yang rusak dan peralatan militer yang ditinggalkan pasukan asing di Afghanistan akan dikumpulkan dan dilestarikan di museum jihad.
Ia menambahkan bahwa selain museum untuk peralatan militer, perpustakaan jihad juga akan didirikan untuk menampung buku-buku yang ditulis mengenai jihad.
Ahmad mengatakan: "Kami tidak akan membatasi diri hanya pada museum jihad. Perpustakaan jihad juga akan didirikan bersisian dengannya. Monumen dan tugu peringatan juga akan dibangun untuk mengenang para syuhada." Saeed Khosti, kepala bagian Pendaftaran Artefak dan Dokumen Jihad di departemen tersebut, mengatakan: "Jika kami menyita senjata dan peralatan lain dari Amerika Serikat, semuanya akan diserahkan ke museum. Riwayat benda-benda tersebut akan dicatat—termasuk lokasi penyitaan dan detail lainnya—dan benda-benda itu akan dilestarikan secara permanen di museum."
Menurut Departemen Pelestarian Artefak Jihad di bawah Kementerian Informasi dan Kebudayaan, departemen tersebut juga ditugaskan untuk mendokumentasikan peristiwa-peristiwa jihad di seluruh provinsi di negara itu, mencatatnya dalam sejarah bagi generasi mendatang, serta mempublikasikan materi tersebut. (haninmazaya/arrahmah.id)
