TEHERAN (Arrahmah.id) - Iran menuduh Ukraina mengerahkan unit khusus drone di sejumlah negara sekitar Iran dan membangun jaringan operasional drone mikro. Teheran menilai aktivitas tersebut sebagai bagian dari operasi permusuhan yang lebih luas oleh Eropa dan NATO terhadap Iran.
Tuduhan itu disampaikan seorang sumber keamanan kepada kantor berita Iran, Tasnim, pada Selasa (20/10/2026). Sumber tersebut mengatakan personel dan peralatan Ukraina telah beroperasi di beberapa negara kawasan, tetapi identitas negara-negara yang menjadi lokasi operasi itu belum diungkapkan.
Menurut sumber tersebut, ribuan drone mikro Ukraina telah dikerahkan di Irak utara. Pemerintah Iran disebut mengetahui dan terus memantau aktivitas itu, yang digambarkan sumber tersebut sebagai upaya gagal dan sebuah skandal.
Tasnim melaporkan bahwa Teheran tengah mempertimbangkan respons yang sesuai. Sumber itu juga menyinggung dugaan serangan Ukraina sebelumnya terhadap kapal Iran di Laut Kaspia. Iran disebut memilih menahan diri setelah insiden tersebut, tetapi tidak akan membiarkan Ukraina maupun negara-negara Eropa memperluas operasi terhadap Iran.
Tasnim mengaitkan pengerahan tersebut dengan laporan mengenai bantuan Ukraina dalam bidang drone kepada pihak-pihak yang terlibat dalam perang Amerika Serikat dan 'Israel' melawan Iran, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Kantor berita itu juga menuduh aktivitas Ukraina di Asia Barat mencakup operasi sabotase dan pelatihan kelompok bersenjata untuk menggunakan drone.
Sebagai contoh, Tasnim mengutip pengumuman kepolisian Sulaymaniyah pada musim panas 2025 mengenai penangkapan tiga warga Ukraina yang diduga mengawasi pelatihan penggunaan pesawat nirawak berukuran kecil bagi sebuah kelompok lokal.
Menurut keterangan polisi yang dikutip Tasnim, pelatihan itu bertujuan memfasilitasi operasi pembunuhan. Pendanaannya disebut berasal dari sebuah kelompok yang beroperasi di Irak utara dan oleh polisi digambarkan sebagai organisasi teroris.
Tasnim juga mengklaim personel keamanan Ukraina bekerja sebagai tentara bayaran di berbagai wilayah kawasan dengan menerima bayaran dari Amerika Serikat, Inggris, dan 'Israel'.
Laporan tersebut turut menyinggung serangan drone pada upacara kelulusan akademi militer di Homs, Suriah, pada Oktober 2023. Mengutip sumber-sumber Rusia, Tasnim menyebut operator Ukraina mengarahkan serangan yang menewaskan sedikitnya 100 orang, termasuk kerabat para lulusan yang menghadiri acara tersebut.
Namun, tuduhan mengenai keterlibatan Ukraina dalam berbagai operasi itu merupakan klaim yang disampaikan Tasnim melalui sumber-sumber yang dikutipnya dan belum dapat dipastikan secara independen berdasarkan laporan tersebut.
Secara terpisah, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, mengatakan Iran siap menghadapi segala kemungkinan. Ia memperingatkan bahwa respons Iran terhadap serangan berikutnya akan jauh lebih keras.
Dalam laporan Al-Mayadeen, Mohebbi juga memperingatkan bahwa dunia dapat menghadapi krisis energi serius, bahkan jika tindakan Amerika Serikat terbatas.
Ia mengatakan eskalasi lebih lanjut akan memperlihatkan kemampuan tambahan Garda Revolusi. Menurut Mohebbi, kapasitas Iran dalam memproduksi rudal dan drone telah meningkat setidaknya 1,5 kali lipat dibandingkan sebelumnya.
“Kami terus memproduksi dan mengembangkan rudal serta drone, meningkatkan jangkauan, akurasi, dan daya hancurnya, sekaligus mengembangkan senjata baru,” ujarnya.
'Israel' melancarkan perang selama 12 hari terhadap Iran pada Juni 2025. Amerika Serikat kemudian ikut menyerang dengan membombardir fasilitas nuklir Iran.
Pada 28 Februari 2026, AS dan 'Israel' kembali melancarkan perang terhadap Iran. Teheran membalas dengan serangan ke 'Israel' dan fasilitas militer AS di berbagai wilayah kawasan. (zarahamala/arrahmah.id)
