LONDON (Arrahmah.id) -- Sebuah penyelidikan independen Inggris terkait dugaan kejahatan perang di Afghanistan mengungkap kesaksian mengejutkan. Seorang saksi menyatakan bahwa anggota pasukan khusus Inggris diduga menjatuhkan tahanan Afghanistan dari forklift hanya untuk hiburan.
Dilansir The Canary (16/7/2026), tuduhan tersebut muncul dalam sidang Independent Inquiry Relating to Afghanistan yang sedang menyelidiki dugaan pelanggaran oleh pasukan elite Inggris selama operasi di Afghanistan antara 2010 hingga 2013.
Kesaksian itu disampaikan oleh Monica Grenfell, mantan jurnalis yang kemudian bekerja sebagai staf pendukung Pasukan Khusus Inggris (UK Special Forces/UKSF).
Dalam keterangannya kepada penyelidikan, Grenfell mengaku pernah mendengar langsung cerita dari seorang anggota pasukan yang bertugas di Afghanistan dan Irak mengenai perlakuan terhadap para tahanan.
Grenfell mengutip pengakuan prajurit tersebut dengan mengatakan, “Saya secara khusus ingat dia mengatakan bahwa para tahanan ditempatkan di atas forklift, diangkat ke atas, lalu kendaraan itu dijalankan dengan sangat cepat hingga mereka terjatuh.”
Ia menambahkan bahwa tindakan itu dilakukan “untuk bersenang-senang” dan bahwa dirinya merasa terkejut karena pelaku menganggap tindakan tersebut lucu.
Penyelidikan yang dipimpin Sir Charles Haddon-Cave itu juga mendengar kesaksian dari Christopher Green, mantan anggota Cadangan Angkatan Darat Inggris yang bertugas di Provinsi Helmand pada 2012.
Green mengungkap dugaan pembunuhan terhadap tiga petani Afghanistan dalam sebuah operasi penahanan yang dilakukan pasukan khusus Inggris.
Menurutnya, tim intelijen saat itu tidak menemukan bukti bahwa ketiga korban memiliki hubungan dengan Taliban.
Green mengatakan bahwa ketika dirinya mempertanyakan operasi tersebut, ia justru mendapat tekanan dari pihak lain.
“Pada suatu titik saya disebut sebagai ‘pembela Taliban’ karena mempertanyakan apa yang dilakukan pasukan khusus,” ujarnya dalam kesaksian yang dirilis kepada publik.
Ia juga mengaku tidak diizinkan melihat rekaman video operasi yang dapat membantu menjelaskan insiden tersebut.
Menurut dokumen penyelidikan, ibu dari tiga petani yang tewas tersebut menerima pembayaran sekitar 3.634 pound sterling dari pemerintah Inggris.
Green menilai pembayaran itu sebagai indikasi bahwa pihak berwenang menyadari adanya kesalahan dalam operasi tersebut. Ia bahkan menyebutnya sebagai kemungkinan “pengakuan bahwa orang yang dibunuh adalah pihak yang salah”.
Kasus ini menjadi bagian dari penyelidikan yang lebih luas mengenai dugaan pembunuhan di luar proses hukum, penyiksaan, serta upaya penutupan fakta oleh pasukan elite Inggris selama perang Afghanistan.
Sejumlah kesaksian yang muncul sebelumnya juga menuduh anggota SAS melakukan eksekusi terhadap warga sipil tak bersenjata dan memanipulasi laporan operasi untuk menutupi tindakan tersebut.
Menanggapi tuduhan terbaru itu, Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan tetap mendukung penuh penyelidikan independen yang sedang berlangsung.
Dalam pernyataan resminya, kementerian menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga transparansi dan akuntabilitas sambil tetap memberikan dukungan kepada personel pasukan khusus yang bertugas bagi keamanan nasional Inggris.
Pengungkapan terbaru ini kembali menyoroti kontroversi panjang mengenai operasi militer Barat di Afghanistan. Bagi banyak keluarga korban Afghanistan, hasil penyelidikan tersebut diharapkan dapat membuka jalan menuju pertanggungjawaban hukum atas berbagai dugaan pelanggaran yang terjadi selama konflik yang berlangsung hampir dua dekade itu. (hanoum/arrahmah.id)
