Memuat...

Mantan Mata-mata 'Israel' Sebut Turki dan Mesir Bisa Jadi Target Konflik Berikutnya

Hanoum
Senin, 1 Juni 2026 / 16 Zulhijah 1447 04:58
Mantan Mata-mata 'Israel' Sebut Turki dan Mesir Bisa Jadi Target Konflik Berikutnya
Jonathan Pollard. [Foto: NPR]

TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Jonathan Pollard, mantan mata-mata Amerika Serikat yang pernah dihukum karena membocorkan dokumen rahasia kepada 'Israel', memicu kontroversi setelah menyatakan bahwa Turki dan Mesir berpotensi menjadi target konflik Israel berikutnya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah wawancara podcast yang viral pekan ini dan memicu perdebatan luas mengenai arah keamanan kawasan Timur Tengah pascaketegangan antara Israel dan Iran.

Dalam wawancara yang dikutip sejumlah media Timur Tengah, Pollard menyebut bahwa ancaman terhadap 'Israel' tidak akan berakhir setelah konfrontasi dengan Iran. Menurutnya, perhatian 'Israel' ke depan dapat beralih kepada negara-negara lain yang dinilai memiliki pengaruh besar di kawasan, termasuk Turki dan Mesir.

“Turki sedang diposisikan sebagai Iran yang baru. Setelah Iran, perhatian akan beralih ke pihak lain yang dianggap mengancam keamanan Israel,” kata Jonathan Pollard dalam podcast tersebut, seperti dikutip Middle East Monitor (29/5/2026).

Pernyataan itu muncul ketika hubungan 'Israel' dan Turki mengalami ketegangan akibat perbedaan sikap terhadap konflik Gaza dan isu Palestina.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dalam beberapa kesempatan menjadi salah satu pemimpin dunia yang paling vokal mengkritik operasi militer 'Israel' di Gaza. Ankara juga terus mendorong pengakuan internasional terhadap negara Palestina dan menyerukan tekanan diplomatik terhadap pemerintah Israel.

Mesir juga disebut Pollard dalam komentarnya meskipun negara itu secara resmi telah memiliki hubungan diplomatik dengan 'Israel' sejak penandatanganan Perjanjian Camp David pada 1979. Kairo selama ini memainkan peran penting sebagai mediator dalam berbagai upaya gencatan senjata antara Israel dan kelompok Palestina di Gaza.

Komentar Pollard segera menarik perhatian karena latar belakangnya yang unik. Pria kelahiran Amerika Serikat tersebut ditangkap pada 1985 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada 1987 setelah terbukti menyerahkan ribuan dokumen rahasia intelijen Amerika Serikat kepada 'Israel'. Kasusnya menjadi salah satu skandal spionase paling terkenal dalam hubungan AS-Israel. Setelah menjalani hukuman selama 30 tahun, Pollard dibebaskan dengan status pembebasan bersyarat pada 2015 dan kemudian diizinkan pindah ke Israel pada 2020.

Menurut laporan media 'Israel' dan Amerika Serikat, Pollard saat ini tidak memegang jabatan resmi dalam pemerintahan 'Israel' maupun lembaga intelijen negara tersebut. Karena itu, pernyataannya dipandang sebagai opini pribadi dan bukan kebijakan resmi pemerintah 'Israel'.

Sejumlah analis keamanan menilai komentar Pollard mencerminkan kekhawatiran sebagian kalangan nasionalis 'Israel' terhadap meningkatnya pengaruh Turki di kawasan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Ankara memperluas hubungan militer dan ekonomi dengan berbagai negara Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tengah, sekaligus meningkatkan produksi industri pertahanannya.

Lembaga kajian keamanan internasional juga mencatat bahwa Turki dan Israel memiliki hubungan yang kompleks. Meski pernah menjadi mitra strategis dekat pada dekade 1990-an dan awal 2000-an, hubungan kedua negara beberapa kali memburuk akibat konflik Palestina, terutama setelah insiden kapal Mavi Marmara pada 2010 dan perang Gaza yang berulang dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, para pengamat menilai kemungkinan konflik langsung antara 'Israel' dengan Mesir relatif kecil mengingat kedua negara masih mempertahankan kerja sama keamanan yang erat, khususnya terkait stabilitas Semenanjung Sinai dan pengelolaan perbatasan Gaza. Mesir juga tetap menjadi salah satu mediator utama dalam berbagai negosiasi antara Israel dan kelompok-kelompok Palestina.

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Turki, Mesir, maupun 'Israel' terkait pernyataan Pollard tersebut. Namun komentar mantan mata-mata itu telah memicu diskusi luas di media sosial dan kalangan pengamat geopolitik mengenai potensi perubahan peta ancaman dan aliansi di Timur Tengah pascaketegangan antara 'Israel' dan Iran.

Meski tidak memiliki posisi resmi dalam pemerintahan, Jonathan Pollard tetap menjadi figur yang diperhatikan dalam isu-isu keamanan 'Israel' karena sejarah panjang keterlibatannya dalam dunia intelijen. Oleh karena itu, pernyataannya mengenai Turki dan Mesir sebagai kemungkinan target konflik berikutnya menjadi sorotan internasional, meskipun belum ada indikasi bahwa pandangan tersebut mencerminkan kebijakan resmi negara 'Israel'. (hanoum/arrahmah.id)