AL-QUDS (Arrahmah.id) – Sejumlah menteri dan anggota Knesset dari Partai Likud menyerukan peningkatan provokasi di Masjid Al-Aqsha, termasuk usulan menutup akses bagi warga Arab. Seruan tersebut disampaikan dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh organisasi yang menyebut dirinya sebagai "Administrasi Bukit Bait Suci" (Temple Mount Administration) di Al-Quds, Rabu (16/7/2026).
Dilansir dari media Israel Yedioth Ahronoth, konferensi tersebut digelar dalam rangka memperingati apa yang mereka sebut sebagai "satu dekade perubahan positif" di kompleks Masjid Al-Aqsha serta 59 tahun pendudukan Israel atas Al-Quds Timur.
Wakil Ketua Knesset, Nissim Vaturi, dalam pidatonya menyerukan agar Masjid Al-Aqsha ditutup bagi warga Arab.
"Kita harus mencapai satu-satunya status quo yang dapat diterima di sini, yaitu orang Yahudi dapat datang setiap hari dan dengan bebas ke tempat itu. Jika kita tidak bisa datang dengan bebas, maka tidak perlu ada siapa pun yang datang ke sana," ujarnya.
Konferensi yang dipimpin Rabbi Shimshon Elboim itu juga menyerukan agar kelompok Yahudi terus memperluas aksi masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsha dan melakukan ritual keagamaan di dalamnya. Para peserta mengklaim telah terjadi perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir terkait keberadaan Yahudi di kawasan tersebut.
Dalam acara itu turut hadir Menteri Energi Eli Cohen, Menteri Perlindungan Lingkungan Idit Silman, Zeev Elkin, serta sejumlah anggota Knesset dari Partai Likud.
Eli Cohen mengklaim lebih dari 60.000 warga Yahudi setiap tahun melakukan ritual di kompleks Masjid Al-Aqsha. Ia juga mengaku pernah memimpin rombongan yang memasuki kawasan tersebut dan melaksanakan ibadah di dalamnya.
Sementara itu, Idit Silman memuji aktivitas "Administrasi Bukit Bait Suci". Anggota Knesset Boaz Bismuth bahkan menyatakan bahwa "seluruh bangsa Israel akan mengikuti langkah kalian menuju Bukit Bait Suci."
Di sisi lain, anggota Knesset Moshe Saada menuding pembatasan masuknya kelompok Yahudi ke Al-Aqsha saat hari-hari besar Islam bukan berasal dari pertimbangan aparat keamanan, melainkan dari penasihat hukum pemerintah dan pihak-pihak yang mendukungnya.
Masjid Al-Aqsha, yang oleh kelompok Yahudi disebut sebagai "Temple Mount", terus menjadi sasaran masuknya para pemukim dan kelompok ekstremis Yahudi di bawah perlindungan aparat pendudukan. Sepanjang Juni 2026 saja, tercatat sedikitnya 26 kali aksi masuk ke kompleks suci tersebut.
Sebagai respons, berbagai pihak Palestina terus menyerukan umat Islam untuk memperkuat ribath (menjaga dan memakmurkan) Masjid Al-Aqsha serta menghadang berbagai upaya pendudukan yang dinilai bertujuan mengubah status historis dan hukum kawasan suci tersebut.
(Samirmusa/arrahmah.id)
