TEL AVIV (Arrahmah.id) - Seorang ayah dari prajurit aktif 'Israel' yang tengah dikerahkan dalam operasi militer di Lebanon Selatan, menggambarkan pertempuran di wilayah tersebut telah berubah menjadi medan perburuan tentara oleh pesawat tanpa awak bunuh diri milik Hizbullah. Berdasarkan laporan Otoritas Penyiaran 'Israel' (Kan) pada Rabu (3/6/2026), situasi ini memicu kecemasan akut di lanskap internal militer menyusul rilis harian mengenai jatuhnya korban jiwa dan luka di pihak 'Israel'.
Dalam surat terbuka yang dilayangkan kepada Kepala Staf Angkatan Bersenjata 'Israel', Eyal Zamir, orang tua prajurit yang dirahasiakan identitasnya tersebut menegaskan bahwa para tentara kini menghadapi ancaman konstan yang membuat mereka hanya bisa bergantung pada keberuntungan untuk bertahan hidup. Ia menilai operasi di Lebanon Selatan saat ini bukan lagi sebuah pertempuran militer konvensional, melainkan menyerupai arena latihan tembak di mana anaknya bisa kehilangan nyawa secara sia-sia.
Surat tersebut membeberkan salah satu insiden fatal yang menewaskan dokter batalyon Shaked dari Brigade Givati, Dr. Uri Yosef Sylvester. Pasukan 'Israel' di lapangan tidak diserang oleh seliweran drone kecil seperti yang biasa ditampilkan di televisi, melainkan oleh jenis drone taktis berukuran raksasa.
Setelah drone pertama menghantam unit medis hingga menewaskan Dr. Sylvester, Hizbullah meluncurkan dua drone tambahan yang secara khusus mengincar pasukan evakuasi yang baru tiba di lokasi untuk merawat korban luka.
Kehadiran drone peledak di udara memicu kepanikan psikologis yang hebat. "Setiap kali melihat drone, para tentara berdiri terpaku dan bertanya-tanya: apakah pesawat ini akan menghantam saya atau tidak? Kami benar-benar bermain Russian Roulette," tulis ayah prajurit tersebut.
Orang tua prajurit tersebut mengklaim bahwa ketidakmampuan militer 'Israel' dalam menumpas ancaman udara ini disebabkan oleh keputusan politik yang membatasi pergerakan tentara, yang disebutnya datang dari tekanan sekutu utama mereka, Amerika Serikat.
Sejumlah pejabat tinggi militer 'Israel' (IDF) mengamini argumen tersebut. Mereka mengklaim bahwa larangan Washington yang mencegah 'Israel' membombardir wilayah Dahieh, pinggiran selatan ibu kota Beirut, secara signifikan telah melumpuhkan kemampuan intelijen dan operasional tentara untuk melacak serta menghancurkan pusat produksi dan peluncuran drone bunuh diri Hizbullah.
Penggunaan drone oleh Hizbullah, khususnya yang terintegrasi dengan teknologi kendali kabel serat optik, kian menjadi momok bagi sistem pertahanan udara 'Israel'. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya secara terbuka mengakui bahwa teknologi baru ini merupakan ancaman utama karena karakteristiknya yang sangat sulit dideteksi oleh radar konvensional.
Di sisi lain, pihak Hizbullah menyatakan bahwa rentetan serangan drone tersebut merupakan balasan sah atas pelanggaran harian berdarah yang dilakukan militer 'Israel' terhadap kesepakatan gencatan senjata. Kesepakatan yang awalnya dideklarasikan pada 17 April lalu tersebut saat ini telah diperpanjang hingga awal Juli 2026.
Sejak 2 Maret 2026, 'Israel' memperluas jangkauan agresi militernya ke Lebanon dan merangsek maju hingga radius 10 kilometer melewati batas demarkasi di beberapa sektor Lebanon Selatan. Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan Lebanon hingga Selasa lalu, eskalasi militer ini telah menyebabkan 3.468 warga Lebanon tewas, 10.577 orang luka-luka, serta memaksa lebih dari satu juta penduduk mengungsi dari rumah mereka. (zarahamala/arrahmah.id)
