NEW YORK (Arrahmah.id) — Wali Kota New York, , memicu kontroversi setelah memutuskan untuk tidak menghadiri parade tahunan yang digelar untuk memperingati berdirinya negara "Israel".
Keputusan ini dinilai sebagai langkah berani yang menyimpang dari tradisi politik yang telah berlangsung puluhan tahun, di mana para pemimpin kota New York hampir selalu hadir dalam acara tersebut.
Parade yang dikenal sebagai “Israel Day Parade” itu secara rutin digelar di Fifth Avenue dan dihadiri ribuan peserta yang membawa bendera "Israel". Acara ini juga kerap menjadi ajang bagi politisi untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap "Israel".

Namun, Mamdani sejak awal telah menegaskan sikapnya. Dalam pernyataannya, ia mengatakan bahwa keputusan untuk tidak hadir sudah ia sampaikan sejak masa kampanye.
“Saya telah menjelaskan posisi saya terkait pemerintah "Israel" dengan jelas,” ujarnya. Meski demikian, ia tetap memastikan pengamanan ketat agar acara berlangsung aman dan lancar.
Sikap Tegas Dukung Palestina
Sebelumnya, kantor Mamdani juga merilis video yang memperingati peristiwa , yang menggambarkan penderitaan rakyat akibat pengusiran massal pada tahun 1948.
Langkah tersebut menuai kecaman dari sejumlah tokoh Yahudi dan pendukung "Israel". Rabbi Marc Schneier bahkan menyebut keputusan Mamdani sebagai “tamparan bagi komunitas Yahudi di New York”.
Kritik juga diarahkan pada video Nakba yang dianggap tidak menyertakan narasi penderitaan Yahudi pada masa yang sama.

Menuai Kontroversi di Tengah Perubahan Opini Publik
Ketidakhadiran Mamdani dalam parade tersebut telah lama diperkirakan dan kembali memicu perdebatan di Amerika Serikat terkait isu Palestina-"Israel".
Di satu sisi, para pengkritiknya menuduh sikap tersebut sebagai bentuk antisemitisme. Namun di sisi lain, Mamdani menegaskan bahwa ia tetap mendukung keberadaan "Israel", tetapi menolak sistem yang dinilainya tidak adil terhadap warga non-Yahudi.

Ia juga menegaskan komitmennya untuk melindungi komunitas Yahudi di New York serta memerangi segala bentuk antisemitisme.
Pengamat menilai sikap Mamdani mencerminkan perubahan opini publik di Amerika Serikat, di mana dukungan terhadap "Israel" mulai menurun, terutama sejak meningkatnya agresi militer "Israel" di .
Keputusan ini sekaligus menandai babak baru dalam dinamika politik di New York, kota dengan populasi Yahudi terbesar di Amerika Serikat, di tengah meningkatnya solidaritas global terhadap perjuangan Palestina.
(Samirmusa/arrahmah.id)
