TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Krisis kesehatan mental di tubuh militer 'Israel' kembali menjadi sorotan setelah seorang tentara cadangan (reservist) dilaporkan meninggal akibat bunuh diri, menandai kasus ketiga dalam sepekan terakhir. Insiden terbaru itu terjadi di tengah meningkatnya laporan mengenai tekanan psikologis yang dialami prajurit 'Israel' setelah hampir tiga tahun terlibat dalam konflik berkepanjangan di Gaza, Lebanon, dan front regional lainnya.
Menurut data yang dihimpun Israel Haaretz (31/7/2026), sedikitnya 17 anggota militer Israel telah meninggal karena bunuh diri sejak awal 2026, termasuk 16 prajurit aktif dan cadangan yang dikaitkan dengan dampak psikologis perang.
Kasus terbaru melibatkan seorang tentara cadangan IDF yang identitasnya tidak dipublikasikan. Ia ditemukan meninggal akibat bunuh diri setelah sebelumnya menjalani beberapa kali penugasan tempur.
Laporan Haaretz menyebut kematiannya merupakan kasus ketiga dalam kurun satu minggu, memperkuat kekhawatiran mengenai kondisi mental para prajurit yang terus menghadapi tekanan operasional dan trauma pascaperang.
Peningkatan angka bunuh diri di kalangan tentara Israel terjadi bersamaan dengan melonjaknya kasus gangguan stres pascatrauma (PTSD). Data Kementerian Pertahanan 'Israel' menunjukkan puluhan ribu veteran dan prajurit aktif kini menjalani perawatan psikologis akibat pengalaman tempur. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa sekitar 60 persen dari lebih dari 22.000 personel yang menerima perawatan akibat dampak perang mengalami gejala trauma psikologis atau PTSD.
Psikolog klinis 'Israel', Ronen Sidi, yang menangani banyak veteran perang, menjelaskan bahwa trauma yang dialami tentara tidak hanya berasal dari ancaman kematian di medan tempur, tetapi juga dari beban moral akibat pengalaman perang.
"Sebagian tentara mengalami ketakutan mendalam karena terus berada dalam situasi hidup dan mati. Namun ada juga yang mengalami luka moral ketika harus hidup dengan perasaan bahwa warga sipil yang tidak bersalah terluka atau terbunuh akibat tindakan mereka dalam perang," kata Ronen Sidi.
Menurut laporan Reuters, banyak tentara yang kembali dari Gaza dan Lebanon mengaku mengalami gangguan tidur, kecemasan berkepanjangan, depresi, hingga kesulitan beradaptasi dengan kehidupan sipil.
Sejumlah organisasi pendamping veteran bahkan melaporkan meningkatnya permintaan layanan konseling dan rehabilitasi psikologis sejak konflik pecah pada Oktober 2023.
Krisis kesehatan mental ini juga memicu perdebatan di dalam masyarakat Israel mengenai kesiapan sistem militer dalam menangani trauma perang.
Beberapa keluarga korban menilai dukungan psikologis yang tersedia masih belum memadai dibandingkan besarnya tekanan yang dihadapi para prajurit setelah berulang kali ditugaskan ke zona konflik.
Militer 'Israel' belum merilis angka resmi terbaru terkait jumlah bunuh diri sepanjang tahun ini. Namun berbagai laporan media 'Israel' menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dibandingkan periode sebelum perang Gaza.
Kasus bunuh diri terbaru kembali memunculkan pertanyaan mengenai dampak jangka panjang perang terhadap generasi tentara Israel. Sejumlah ahli kesehatan mental memperingatkan bahwa tanpa dukungan psikologis yang lebih luas dan berkelanjutan, konsekuensi trauma perang dapat terus dirasakan bahkan setelah konflik berakhir. (hanoum/arrahmah.id)
