Memuat...

Front Baru Perang AS-Iran, Houthi Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi

Hanoum
Senin, 27 Juli 2026 / 13 Safar 1448 04:43
Front Baru Perang AS-Iran, Houthi Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi
Foto ilustrasi. [Foto: TV7 News Israel]

RIYADH (Arrahmah.id) -- Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru setelah milisi Syiah Houthi di Yaman melancarkan serangan rudal dan drone terhadap dua fasilitas minyak strategis Arab Saudi di pesisir Laut Merah. Serangan yang terjadi pada Sabtu (25/7/2026) itu menargetkan instalasi milik Saudi Aramco di Yanbu dan Jizan, memperluas dampak perang regional yang sebelumnya berpusat di Iran, Teluk Persia, dan Selat Hormuz.

Milisi Syiah Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menembakkan sejumlah rudal balistik, rudal jelajah, dan drone ke fasilitas energi Saudi sebagai respons atas serangan udara yang dilancarkan pasukan yang didukung Riyadh terhadap wilayah Yaman.

Menurut media Al Masirah yang berafiliasi dengan Houthi, seperti dilansir Al Jazeera (26/7), operasi tersebut merupakan bagian dari upaya menekan Arab Saudi agar menghentikan dukungan militernya dalam konflik yang semakin meluas di kawasan.

Al Jazeera melaporkan bahwa fasilitas minyak di Yanbu dan Jizan menjadi sasaran karena keduanya merupakan titik penting ekspor energi Saudi di Laut Merah. Yanbu memiliki arti strategis yang semakin besar sejak sebagian arus ekspor minyak Saudi dialihkan dari Selat Hormuz ke jalur Laut Merah akibat meningkatnya ancaman di Teluk Persia.

Pemerintah Arab Saudi menyatakan sistem pertahanan udara berhasil mencegat sebagian rudal dan drone yang mengarah ke wilayahnya. Meski demikian, rekaman yang beredar menunjukkan adanya ledakan dan kebakaran di sekitar fasilitas energi Jizan.

Juru bicara militer Houthi Yahya Saree menegaskan bahwa kelompoknya akan terus melanjutkan operasi terhadap sasaran ekonomi Saudi.

"Operasi ini merupakan respons terhadap agresi yang terus berlangsung terhadap rakyat Yaman. Kami memiliki hak untuk menyerang target-target yang mendukung perang terhadap negara kami," ujar Yahya Saree dalam pernyataan yang disiarkan media Houthi.

Sebagai balasan, pasukan yang didukung Arab Saudi melancarkan serangan udara ke sejumlah posisi Houthi di Hodeidah dan wilayah lain di Yaman. Reuters melaporkan bahwa bentrokan terbaru ini secara efektif mengakhiri gencatan senjata yang relatif bertahan sejak 2022 dan membuka kemungkinan konflik yang lebih luas antara Houthi dan Arab Saudi.

Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran di pasar energi global. Harga minyak dan indeks saham di sejumlah negara Teluk mengalami tekanan setelah investor mencermati risiko terhadap jalur ekspor minyak Saudi. Reuters melaporkan pasar saham Arab Saudi, Qatar, dan sejumlah negara kawasan ditutup melemah menyusul kabar serangan tersebut.

Selain menyerang fasilitas minyak, Houthi sebelumnya telah mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan mengancam lalu lintas kapal di Laut Merah serta Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.

Di tengah eskalasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menunda serangan baru terhadap Iran selama dua malam berturut-turut untuk memberi ruang bagi upaya diplomasi yang dimediasi Oman. Namun Washington tetap mempertahankan tekanan militer dan blokade laut terhadap Iran sambil memperingatkan bahwa respons lebih keras dapat dilakukan apabila serangan terhadap sekutu-sekutunya terus berlanjut. (hanoum/arrahmah.id)