TEHERAN (Arrahmah.id) - Iran mengumumkan pada Jumat (31/7/2026) bahwa pihaknya kembali melancarkan serangan drone yang menargetkan instalasi militer Amerika Serikat di Kuwait, yakni Pangkalan Udara Ahmed Al Jaber. Aksi ini merupakan bagian dari fase ke-27 Operasi Saeqa (Petir) yang diklaim sebagai respons atas gempuran militer AS yang berlanjut di wilayah Iran.
Dalam pernyataan resminya, Departemen Hubungan Masyarakat Angkatan Darat Iran menyatakan bahwa drone bermuatan bahan peledak berhasil menghantam hanggar pesawat tempur, sistem komunikasi satelit, serta gudang logistik yang digunakan oleh pasukan AS di pangkalan tersebut, seraya menuding Washington menerapkan sensor ketat guna menutupi kerusakan dan jatuhnya korban jiwa.
Pengumuman serangan ini berselang beberapa jam setelah laporan surat kabar The Wall Street Journal, mengutip sejumlah pejabat AS, menyebutkan bahwa Pentagon tengah meninjau ulang skala kehadiran militernya di Kuwait. Departemen Pertahanan AS bahkan dilaporkan telah mulai mengurangi jumlah personel militernya di negara tersebut akibat hantaman serangan Iran yang terus berulang demi menekan risiko terhadap keselamatan prajurit.
Sebelumnya, dalam rentetan operasi pekan ini, Iran juga mengeklaim telah menggempur Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, serta fasilitas militer AS di Yordania dan Bahrain. Citra satelit yang dirilis kemudian disebut-sebut memperlihatkan adanya kerusakan di sejumlah lokasi yang menjadi sasaran, meskipun pihak berwenang AS tetap bungkam.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, melontarkan kecaman keras atas serangan udara AS sebelumnya yang mengenai permukiman warga di Pulau Qeshm. Serangan tersebut menewaskan seorang sopir taksi bernama Qaisar Jafari, istrinya Zahra Jafari, dan balita mereka yang berusia dua tahun, serta melukai dua anak lainnya. Baghaei menyamakan tindakan tersebut dengan metode yang kerap digunakan oleh kelompok ISIS.
Sementara itu, Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, menegaskan bahwa keseimbangan militer di kawasan telah berubah secara fundamental. "Era 'serang dan lari' telah berakhir. Pasukan Amerika dan para sekutunya kini menyadari bahwa peti mati telah menjadi bagian dari peralatan militer mereka di kawasan ini," ujarnya. (zarahamala/arrahmah.id)
