Memuat...

Tentara AS dan Inggris Tewas Saat Latihan Militer Gabungan di Irak

Hanoum
Rabu, 3 Juni 2026 / 18 Zulhijah 1447 03:58
Tentara AS dan Inggris Tewas Saat Latihan Militer Gabungan di Irak
Sebuah tim pengangkut Angkatan Darat memindahkan peti jenazah yang diselimuti bendera berisi jenazah Kepala Perwira Warrant Officer 3 Angkatan Darat Cadangan AS, Robert Marzan. [Foto: Julia Demaree Nikhinson/AP]

BAGHDAD (Arrahmah.id) -- Seorang tentara Amerika Serikat (AS) dan seorang tentara Inggris tewas dalam insiden saat mengikuti latihan militer gabungan di Irak utara.

Kematian kedua personel militer itu terjadi di tengah masih berlangsungnya operasi koalisi internasional untuk mendukung pasukan lokal dalam menghadapi ancaman kelompok militan Islamic State (ISIS), sekaligus menjadi pengingat bahwa aktivitas pelatihan militer pun tetap memiliki risiko tinggi meski tidak berlangsung di medan tempur.

Dilansir AP (1/6/2026). insiden tersebut terjadi pada Ahad (31/5) di sebuah pangkalan udara di Irbil (Erbil), wilayah otonom Kurdistan, Irak utara. Militer AS dan Kementerian Pertahanan Inggris mengonfirmasi bahwa kedua prajurit meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan saat latihan bersama, namun belum mengungkap rincian penyebab kejadian karena penyelidikan masih berlangsung.

Komando Angkatan Darat Amerika Serikat untuk Kawasan Tengah (US Army Central Command) menyatakan latihan tersebut dilakukan bersama mitra Angkatan Darat Inggris sebagai bagian dari kerja sama militer yang telah lama berlangsung di Irak.

Dalam pernyataannya, militer AS juga menegaskan bahwa identitas prajurit yang meninggal belum diumumkan hingga seluruh keluarga mendapat pemberitahuan resmi.

“Latihan ini dilaksanakan bersama mitra Angkatan Darat Inggris kami yang juga kehilangan seorang tentaranya. Insiden ini sedang dalam penyelidikan,” demikian pernyataan resmi US Army Central Command.

Dari pihak Inggris, Kementerian Pertahanan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan meminta publik menghormati privasi keluarga selama proses identifikasi dan penyelidikan berlangsung. Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, juga menyampaikan pernyataan resmi di Parlemen Inggris.

“Saya sangat berduka atas kematian prajurit tersebut. Pikiran dan simpati kami bersama keluarga, rekan-rekan, dan satuannya pada masa yang sangat menyedihkan ini,” kata John Healey.

Menurut laporan Associated Press dan CBS News, kecelakaan itu terjadi di pangkalan udara Irbil yang selama bertahun-tahun menjadi pusat operasi pasukan koalisi internasional di Irak utara. Pangkalan tersebut digunakan untuk pelatihan, pemberian nasihat militer, dukungan logistik, serta koordinasi operasi kontra-terorisme bersama pasukan Irak dan pasukan keamanan Kurdi (Peshmerga).

Sumber keamanan Kurdi yang dikutip Xinhua, menyebut latihan yang berlangsung saat insiden terjadi merupakan bagian dari program rutin peningkatan kemampuan pasukan keamanan Kurdi dalam menghadapi kelompok-kelompok teroris yang masih aktif di wilayah tersebut. Namun, hingga kini belum ada informasi resmi mengenai jenis latihan yang sedang dilakukan ketika kecelakaan terjadi.

Kematian kedua tentara itu terjadi ketika Amerika Serikat secara bertahap mengurangi jumlah pasukannya di Irak setelah melemahnya kekuatan ISIS dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, Washington masih mempertahankan kehadiran militer di wilayah Kurdistan Irak untuk mendukung mitra lokal dan menjaga stabilitas kawasan. Inggris juga tetap menempatkan personelnya sebagai bagian dari operasi koalisi internasional melawan ISIS.

Para analis pertahanan menilai insiden tersebut menunjukkan bahwa risiko dalam operasi militer tidak hanya muncul saat pertempuran, tetapi juga selama pelatihan yang melibatkan penggunaan peralatan berat, manuver tempur, dan simulasi operasi kompleks.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kecelakaan latihan militer di berbagai negara juga menelan korban jiwa meskipun tidak terjadi kontak langsung dengan musuh.

Hingga Selasa (2/6), otoritas militer AS dan Inggris masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan tersebut. Hasil penyelidikan diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kronologi kejadian sekaligus menjadi dasar evaluasi prosedur keselamatan dalam latihan militer gabungan di masa mendatang. (hanoum/arrahmah.id)