LONDON (Arrahmah.id) -- Nama Abu Musab al-Suri, atau Mustafa Setmariam Nasar, kembali menjadi sorotan menjelang peringatan 25 tahun serangan 11 September 2001. Dalam tulisan investigatif terbarunya, jurnalis Tam Hussein menggambarkan al-Suri sebagai sosok yang pengaruh pemikirannya terhadap jihadisme modern bahkan dinilai lebih bertahan dibandingkan sejumlah pemimpin Al Qaeda yang lebih terkenal, karena ia mendorong perubahan dari organisasi yang terpusat menuju gerakan yang lebih terdesentralisasi.
Al-Suri lahir di Aleppo, Suriah, pada 1958 dan tumbuh ketika pemerintahan Hafez al-Assad memperketat kekuasaan serta menindak kelompok oposisi Islamis. Menurut Hussein, al-Suri bergabung dengan kelompok Fighting Vanguard, pecahan dari Ikhwanul Muslimin Suriah, sebelum kemudian meninggalkan Suriah dan menuju Afghanistan setelah pemberontakan Islamis di Hama pada 1982 dipatahkan pemerintah.
Di Afghanistan, al-Suri berinteraksi dengan sejumlah tokoh yang kemudian menjadi figur penting dalam jihadisme internasional, termasuk Abdullah Azzam dan Osama bin Laden. Hussein menulis bahwa al-Suri mengaku pernah melatih bin Laden dan sejumlah relawan Arab-Afghan selama berada di Peshawar. Hubungan tersebut kemudian menjadikannya salah satu penghubung antara lingkungan jihad Afghanistan dan jaringan Islamis di Eropa.
Peran al-Suri semakin menonjol ketika ia tinggal di London pada 1990-an. Di sana, ia membantu menerbitkan majalah Islamis Al-Ansar dan berhubungan dengan sejumlah tokoh jihad. Hussein menyebut al-Suri juga membantu wartawan Barat melakukan perjalanan ke Afghanistan untuk mewawancarai bin Laden. Pada periode tersebut, ia mulai mengembangkan gagasan mengenai bentuk perjuangan yang tidak bergantung pada satu organisasi terpusat.
Perubahan pemikiran itu kemudian dituangkan dalam karya besarnya, The Global Islamic Resistance Call, sebuah manuskrip sekitar 1.600 halaman yang muncul secara daring pada 2004. Kajian Combating Terrorism Center di West Point menyebut karya tersebut sebagai salah satu tulisan penting dalam pemikiran strategis Al-Qaeda karena al-Suri membayangkan gerakan yang lebih terdesentralisasi dan tidak bergantung pada struktur komando tunggal.
Dalam pandangan al-Suri, pengalaman kehancuran kelompok Fighting Vanguard di Suriah menunjukkan kelemahan organisasi yang terlalu terpusat. Hussein menulis bahwa al-Suri kemudian membayangkan jihad sebagai gerakan yang dapat bertahan meskipun para pemimpinnya ditangkap atau dibunuh. Gagasan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sejumlah peneliti kemudian mengaitkannya dengan perkembangan konsep leaderless resistance dalam jihadisme modern.
Al-Suri sendiri pernah menjelaskan pandangannya dengan kalimat yang kemudian banyak dikutip dalam kajian tentang dirinya. Abu Musab al-Suri mengatakan: “Al-Qaeda bukanlah sebuah organisasi, bukan pula sebuah kelompok; kami juga tidak menginginkannya menjadi demikian. Al-Qaeda adalah seruan, sebuah rujukan, sebuah metodologi.” Pernyataan tersebut dikutip kembali oleh Combating Terrorism Center di West Point dalam kajiannya mengenai perkembangan Al-Qaeda setelah 9/11.
Menurut Brynjar Lia, akademisi yang menulis biografi Architect of Global Jihad: The Life of Al-Qaida Strategist Abu Mus'ab al-Suri, al-Suri merupakan salah satu pemikir jihad paling penting pada zamannya. Kajian Lia menempatkan perjalanan hidup dan gagasan al-Suri dalam perkembangan gerakan jihad global, termasuk perubahan dari struktur kelompok yang terorganisasi menuju bentuk jaringan yang lebih fleksibel.
Pengaruh pemikiran tersebut kemudian tidak berhenti pada Al-Qaeda. Observer Research Foundation mencatat bahwa tulisan al-Suri turut memengaruhi perkembangan pemikiran jihadisme yang kemudian muncul pada kelompok-kelompok seperti Islamic State (ISIS). Kajian tersebut menyoroti pentingnya gagasan al-Suri mengenai desentralisasi dan aksi individu dalam evolusi pemikiran jihadisme generasi berikutnya.
Sejumlah analis juga melihat jejak pemikirannya dalam pola aksi yang dilakukan individu atau kelompok kecil tanpa hubungan komando yang jelas. Namun, hubungan langsung antara al-Suri dan serangan tertentu tetap menjadi persoalan yang diperdebatkan. Hussein sendiri menulis bahwa terdapat keraguan mengenai sejauh mana al-Suri secara langsung merancang serangan Madrid 2004 atau serangan London 7 Juli 2005, meskipun sejumlah pola serangan tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan gagasan yang pernah ia kemukakan.
Penangkapan al-Suri pada 2005 mengakhiri periode panjang pelariannya. Ia ditangkap oleh aparat Pakistan dan kemudian dipindahkan ke Suriah. Keberadaan dan nasib akhirnya lama menjadi misteri. Berbagai laporan sempat menyebut ia dibebaskan atau bahkan meninggal dalam tahanan, tetapi informasi mengenai keberadaannya tidak pernah sepenuhnya terselesaikan.
Meski sosoknya menghilang dari panggung publik, gagasannya tetap beredar. Peneliti Suriah Orwa Ajjoub mengatakan kepada Syria Direct pada Agustus 2026 bahwa nama al-Suri masih muncul dalam kanal-kanal Telegram yang berkaitan dengan jihadisme. Hal itu menunjukkan bahwa pengaruh intelektualnya belum sepenuhnya hilang, meskipun organisasi-organisasi yang pernah menjadi bagian dari lingkungan jihad global telah berubah secara drastis.
Bagi Hussein, perbedaan utama antara al-Suri dan Osama bin Laden terletak pada warisan yang mereka tinggalkan. Bin Laden dikenang sebagai wajah dan pemimpin simbolis Al-Qaeda, sedangkan al-Suri lebih banyak meninggalkan kerangka pemikiran mengenai bagaimana gerakan jihad dapat bertahan tanpa bergantung pada satu pemimpin atau organisasi. Karena itu, Hussein menyebut al-Suri sebagai sosok yang “membuat” bin Laden dalam arti membantu membentuk lingkungan dan jaringan yang memperkuat pengaruh pemimpin Al-Qaeda tersebut, bukan sebagai satu-satunya pencipta Al-Qaeda.
Kisah al-Suri dengan demikian memperlihatkan perubahan besar dalam sejarah jihadisme global: dari kelompok dengan struktur komando yang relatif jelas menuju jaringan yang lebih tersebar dan ideologis. Sejumlah penelitian kontemporer menyatakan bahwa bentuk desentralisasi tersebut membantu membuat gerakan jihadisme lebih tahan terhadap penangkapan atau kematian pemimpin, meskipun pada saat yang sama juga dapat membuat arah dan tujuan gerakan semakin tidak seragam. (hanoum/arrahmah.id)
