TANGERANG (Arrahmah.id) - Indonesia menghentikan operasional di bandara internasional utamanya, Soekarno-Hatta (Soeta), yang terletak di dekat Jakarta pada Ahad (6/9/2026), setelah abu menyembur dari gunung berapi Anak Krakatau yang berjarak lebih dari 150 kilometer, sehingga berdampak pada ribuan penumpang.
Erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi pada Sabtu (5/9), memuntahkan lava dan menimbulkan suara dentuman yang terdengar hingga jarak 700 kilometer (435 mil), demikian pernyataan badan geologi setempat, seperti dilaporkan AFP.
Dua letusan baru tercatat pada Ahad, menurut peringatan dari badan vulkanologi.
Abu dari gunung berapi tersebut terdeteksi di wilayah udara sekitar Bandara Internasional Soekarno-Hatta, yang mendorong pihak berwenang untuk menangguhkan operasional mulai pukul 01.30 dini hari waktu setempat pada Ahad.
"Uji kertas terbaru... menunjukkan hasil positif yang mengindikasikan adanya sebaran abu vulkanik di area Bandara Internasional Soekarno-Hatta; akibatnya, penutupan bandara diperpanjang hingga hari Minggu pukul 09.30 pagi (02.30 GMT)," demikian pernyataan Kementerian Perhubungan pada Ahad (6/9).
Penangguhan diperpanjang
Penangguhan tersebut kemudian diperpanjang selama empat jam "akibat peningkatan aktivitas erupsi", demikian disampaikan pihak bandara melalui media sosial.
Lebih dari 22.000 penumpang terdampak oleh penangguhan ini, menurut Kementerian Perhubungan, yang menambahkan bahwa 209 penerbangan terkena dampaknya, khususnya penerbangan dari dan menuju Singapura.
Rute internasional lain yang terdampak mencakup Doha, Sydney, dan Kuala Lumpur.
Setidaknya 16 penerbangan domestik tujuan Bali juga dibatalkan, menurut otoritas bandara setempat.
Anak Krakatau, terletak di selat yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra.
Kapal-kapal yang melintasi selat tersebut diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gangguan keselamatan navigasi akibat aktivitas vulkanik dan dilarang mendekat ke dalam zona larangan dengan radius 3 kilometer dari gunung berapi, demikian pernyataan otoritas pelabuhan.
Gunung berapi ini telah menunjukkan aktivitas secara sporadis sejak muncul dari permukaan laut pada awal abad lalu di dalam kaldera yang terbentuk setelah letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.
Bencana tersebut merupakan salah satu yang paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah, dengan perkiraan korban jiwa mencapai 35.000 orang. Indonesia, sebuah negara kepulauan di Asia Tenggara, terletak di Cincin Api Pasifik, tempat pertemuan lempeng benua menyebabkan aktivitas vulkanik dan seismik yang tinggi. (haninmazaya/arrahmah.id)
