DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Teriakan pro-Palestina dan anti-Israel terdengar pada hari terakhir Pameran Internasional Damaskus ke-63 di Suriah, Jumat (4/9/2026), menurut rekaman video yang beredar dan laporan sejumlah media. Dalam rekaman tersebut, massa terdengar menyerukan agar Masjid Al-Aqsa “bersabar” serta menyatakan tekad untuk membebaskan Palestina dari apa yang mereka sebut sebagai “sampah Zionis”.
Dilansir The Jerusalem Post (6/9), teriakan yang terdengar dalam rekaman antara lain, “Wahai Al-Aqsa, bersabarlah, kami akan datang, tidak peduli berapa tahun yang dibutuhkan”, disusul seruan serupa untuk Gaza dan pernyataan bahwa Palestina akan dibebaskan pada hari terakhir acara perdagangan internasional tersebut.
Pameran yang berlangsung di Damaskus itu diselenggarakan oleh Kementerian Ekonomi dan Industri Suriah bersama Administrasi Pameran Internasional Damaskus.
Menurut laporan kantor berita resmi Suriah, SANA, kegiatan tahun ini mengusung tema “Syria Shines Again” dan diikuti hampir 1.000 entitas dari sekitar 60 negara. Untuk pertama kalinya, acara tersebut juga disertai Damascus World Economic Forum, yang ditujukan sebagai wadah dialog antara pemerintah, sektor swasta, investor dan mitra internasional.
Kehadiran peserta asing menjadi salah satu aspek penting pameran tersebut. SANA melaporkan sejumlah perusahaan Barat ikut ambil bagian, termasuk sekitar 13 perusahaan dari Jerman serta beberapa perusahaan Amerika Serikat. Kondisi itu menunjukkan upaya pemerintahan baru Suriah untuk memulihkan hubungan ekonomi dan menarik kembali investasi setelah bertahun-tahun dilanda perang dan isolasi internasional.
Ghassan Ibrahim, jurnalis Suriah sekaligus pemimpin redaksi Syria Focus, mengatakan kepada The Jerusalem Post bahwa sentimen tersebut merupakan hasil dari bertahun-tahun indoktrinasi anti-Israel selama pemerintahan Bashar al-Assad. Ia menilai sikap itu tidak otomatis mencerminkan kebijakan pemerintah Suriah saat ini.
“Sentimen tersebut merupakan hasil dari bertahun-tahun indoktrinasi anti-Israel di bawah rezim Bashar al-Assad,” kata Ghassan Ibrahim, sebagaimana dikutip The Jerusalem Post.
Menurutnya, pemerintah Suriah saat ini berusaha bertindak secara pragmatis sehingga retorika yang terdengar dalam rekaman tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai strategi atau kebijakan resmi pemerintah. (hanoum/arrahmah.id)
