GAZA (Arrahmah.id) -- Warga Palestina di Jalur Gaza pada Ahad (6/9/2026) menggelar pemakaman massal bagi sekitar 100 orang, termasuk sedikitnya 60 anak, yang jasad dan sisa-sisa tubuhnya baru berhasil ditemukan dari bawah reruntuhan rumah di kawasan Zeitoun, Gaza. Para korban disebut tewas ketika sejumlah rumah tempat mereka tinggal terkena serangan 'Israel' sekitar dua setengah tahun lalu.
Dilansir Al Jazeera (6/9), ratusan hingga ribuan warga, termasuk keluarga korban, tokoh masyarakat dan sejumlah pejabat setempat, mengikuti prosesi tersebut. Jenazah dan sisa jasad diletakkan di dekat reruntuhan bangunan yang hancur dan ditutup dengan bendera Palestina sebelum kemudian dimakamkan di Pemakaman Al-Ahli setelah salat jenazah.
Operasi pencarian dilakukan oleh tim Pertahanan Sipil Gaza bersama keluarga korban sebagai bagian dari tahap kedua proyek pencarian warga yang masih tertimbun di bawah bangunan yang runtuh. Tahap kedua proyek tersebut mencakup pekerjaan di 147 rumah dan bangunan yang hancur di Gaza serta wilayah utara dan tengah Gaza. Otoritas setempat memperkirakan masih ada 1.072 jasad yang tertimbun di lokasi-lokasi tersebut.
Salah satu keluarga yang mengikuti pemakaman adalah Mahmoud Murtaja. Ia kehilangan istrinya yang sedang hamil sembilan bulan dan putrinya yang berusia tiga tahun. Menurut Murtaja, sisa jasad keluarganya baru ditemukan setelah hampir tiga tahun berada di bawah reruntuhan.
“Seolah-olah mereka baru saja dibunuh kemarin. Mereka ada di depan Anda, tetapi Anda tidak dapat memeluk atau mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Yang tersisa hanyalah tengkorak dan tulang,” kata Mahmoud Murtaja kepada Anadolu Agency.
Direktur Pertahanan Sipil Gaza City Raed al-Dahshan mengatakan proses pencarian berlangsung sangat sulit karena terbatasnya alat berat dan peralatan keselamatan. Ia menyebut sekitar 60 anak termasuk di antara korban yang berhasil ditemukan dalam operasi terbaru tersebut.
“Kami tidak memiliki peralatan, kami tidak memiliki peralatan pelindung,” kata Raed al-Dahshan kepada Al Jazeera. Menurut dia, ribuan jasad lainnya masih diyakini berada di bawah reruntuhan dan pekerjaan pencarian dapat berlangsung jauh lebih lama jika alat berat yang diperlukan tidak tersedia.
Keterangan dari Ajith Sunghay, kepala kantor hak asasi manusia PBB di wilayah pendudukan Palestina, menggambarkan kondisi tersebut sebagai pengingat atas dampak perang terhadap warga Gaza. Ia mengatakan sebagian sisa jasad yang ditemukan berasal dari korban yang tewas sejak November 2023.
“Ribuan orang masih terbaring di bawah reruntuhan ini,” kata Sunghay. Ia juga mengatakan akses terhadap sejumlah wilayah menjadi sulit karena sebagian besar Gaza berada dalam kondisi yang membatasi kegiatan pencarian dan evakuasi. Menurutnya, bukti yang telah ditemukan perlu dipertahankan untuk proses akuntabilitas.
Proses identifikasi korban juga tidak mudah. Tim penyelamat mengandalkan keterangan anggota keluarga dan tetangga untuk menentukan siapa yang berada di dalam bangunan ketika serangan terjadi. Para insinyur kemudian membantu memilah dan mendokumentasikan temuan di lokasi. Al Jazeera melaporkan bahwa sebagian yang ditemukan bukan jasad utuh, melainkan fragmen tulang dan sisa barang milik korban.
Anadolu melaporkan bahwa korban yang dimakamkan berasal antara lain dari keluarga Rahim, Balawi, Malaka, Qanbour dan Salmi. Otoritas setempat menyatakan mereka tewas ketika beberapa rumah tempat tinggal keluarga tersebut terkena serangan pasukan Israel sekitar dua setengah tahun sebelumnya.
Pemakaman tersebut menjadi salah satu pemakaman massal terbesar di Gaza dalam beberapa waktu terakhir. Pada awal Agustus, warga Gaza juga menggelar pemakaman bagi 112 warga Palestina yang ditemukan dari reruntuhan rumah di kawasan Sabra, Gaza City.
Upaya pencarian korban berlangsung dengan latar belakang kerusakan besar akibat perang Israel-Hamas yang dimulai pada Oktober 2023. Al Jazeera mengutip Kementerian Kesehatan Gaza yang menyatakan sedikitnya 73.651 warga Palestina tewas dan 174.592 lainnya terluka sejak awal perang. Angka tersebut berasal dari otoritas kesehatan Gaza dan tidak secara independen membedakan korban sipil dan kombatan.
Masih banyak keluarga di Gaza yang belum dapat memakamkan kerabat mereka karena jasad diperkirakan masih berada di bawah bangunan yang runtuh. Pertahanan Sipil Gaza menyatakan kekurangan alat berat menjadi salah satu hambatan utama untuk mempercepat pencarian, sementara proses identifikasi dan pemakaman akan terus dilakukan ketika jasad berhasil ditemukan. (hanoum/arrahmah.id)
