Memuat...

Ahli Bedah Oxford Ungkap Pola Luka Tembak Anak-anak Gaza dan Penyiksaan Tenaga Medis oleh 'Israel'

Zarah Amala
Selasa, 2 Juni 2026 / 17 Zulhijah 1447 10:45
Ahli Bedah Oxford Ungkap Pola Luka Tembak Anak-anak Gaza dan Penyiksaan Tenaga Medis oleh 'Israel'
Jurnalis Amerika Tucker Carlson bersama tamunya, ahli bedah Inggris Nick Maynard, dalam sebuah episode dokumenter tentang kesaksian Maynard mengenai kekejaman genosida Gaza (YouTube)

NEW YORK (Arrahmah.id) - Ahli bedah senior asal Inggris sekaligus Profesor dari Universitas Oxford, Dr. Nick Maynard, membeberkan serangkaian kesaksian mengenai dugaan kejahatan perang dan penargetan sistematis terhadap fasilitas serta tenaga kesehatan di Jalur Gaza. Kesaksian tersebut disampaikan dalam wawancara mendalam bersama jurnalis terkemuka Amerika Serikat, Tucker Carlson, yang disiarkan pada Senin (1/6/2026).

Dalam pengantarnya, Carlson menyoroti apa yang ia sebut sebagai standar ganda sistem politik Barat. Ia membandingkan respons global terhadap Genosida Rwanda 1994 dengan situasi di Gaza saat ini, seraya mengkritik kebungkamannya institusi pers dan pejabat tinggi di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden meski bantuan militer AS terus mengalir. Melalui X, Carlson menyatakan bahwa di masa depan, museum-museum kemanusiaan dunia akan memasukkan pameran khusus mengenai krisis yang terjadi di Gaza saat ini.

Dr. Maynard, yang pernah bertugas sebagai relawan medis di sejumlah rumah sakit di Gaza, mengungkapkan laporan dari para dokter unit gawat darurat mengenai adanya pola klinis yang tidak biasa pada korban anak-anak. Berdasarkan karakteristik luka yang ditangani, terdapat indikasi kuat penargetan bagian tubuh spesifik pada hari-hari yang berbeda di sekitar pos distribusi bantuan kemanusiaan.

Dalam satu hari, unit medis menerima 19 remaja dengan luka tembak tepat di area kepala dan leher. Di hari lain, korban anak-anak masuk dengan luka tembak khusus di bagian dada atau perut.

Sehari sebelum ia meninggalkan Rumah Sakit Nasser, fasilitas tersebut menerima 4 pasien anak-anak dengan luka tembak langsung yang merusak organ vital dan reproduksi mereka. Insiden ini terjadi di dekat pusat distribusi bantuan kemanusiaan yang dikelola lembaga lokal.

Kesaksian tersebut juga menyoroti kehancuran sistematis pada struktur pelayanan kesehatan melalui penahanan dan kekerasan terhadap para dokter. Dr. Maynard mengungkapkan bahwa salah satu sejawatnya, seorang jurnalis bedah plastik muda, ditemukan tewas dieksekusi bersama ibunya dalam kondisi tangan terikat dan luka tembak di kepala.

Selain itu, ia mengonfirmasi dokumentasi mengenai seorang dokter spesialis ortopedi terkemuka yang dilaporkan tewas akibat penyiksaan berat selama dua pekan masa penahanan di penjara militer. Berdasarkan kesaksian para penyintas medis yang berhasil bebas, para tahanan kerap diinterogasi dalam kondisi mata tertutup, tangan diborgol, dan dipaksa berlutut atau duduk selama dua bulan berturut-turut tanpa adanya dakwaan resmi dari otoritas penegak hukum.

Dr. Maynard juga memaparkan laporan dari rekan sejawatnya mengenai penggunaan metode teknologi militer baru di dalam area rumah sakit, termasuk penggunaan anjing pelacak yang dilengkapi kamera pengawas dan senjata remote kontrol terpasang.

Di sektor udara, penggunaan drone taktis jenis quadcopter yang dilengkapi senjata dilaporkan kerap bermanuver di dalam ruang fasilitas medis. Ia mengisahkan insiden di Rumah Sakit Nasser di mana sebuah drone menembak dada seorang staf medis saat sedang mempersiapkan ruang operasi darurat. Serangan serupa juga menyasar tenda-tenda pengungsian di wilayah Al-Mawasi, di mana Dr. Maynard harus melakukan operasi bedah darurat untuk menyelamatkan seorang ibu hamil tiga bulan yang terkena serpihan peluru drone.

Wawancara tersebut ditutup dengan kritik keras Dr. Maynard terhadap bias media Barat, termasuk kebijakan redaksional stasiun televisi nasional Inggris yang dinilai tidak memberikan ruang klarifikasi yang seimbang bagi para dokter Palestina, serta keterlibatan pasokan suku cadang jet tempur F-35 dan penerbangan intelijen dari pangkalan militer di Siprus yang terus mendukung operasional militer di lapangan. (zarahamala/arrahmah.id)