Memuat...

Antara Proposal dan Ancaman Kembali Perang, Kabut Selimuti Masa Depan Gencatan Senjata AS-Iran

Zarah Amala
Senin, 4 Mei 2026 / 17 Zulkaidah 1447 11:57
Antara Proposal dan Ancaman Kembali Perang, Kabut Selimuti Masa Depan Gencatan Senjata AS-Iran
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, di Islamabad (Reuters)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Konflik AS-Iran kini memasuki fase baru kebuntuan diplomatik. Sementara Teheran dan Washington saling bertukar proposal untuk mengakhiri perang melalui mediasi Pakistan, kesiagaan militer di 'Israel' meningkat tajam di tengah sinyal dari Amerika Serikat mengenai kemungkinan dimulainya kembali operasi militer jika tidak ada kesepakatan yang memuaskan.

Penasihat juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Teheran telah menerima respons AS pada Ahad (3/5/2026) terkait proposal 14 poin mereka. Pihak Iran menyatakan bahwa Washington telah memasukkan revisi ke dalam proposal tersebut, yang kini sedang dipelajari secara mendalam sebelum posisi akhir Iran dikirimkan kembali melalui mediator Pakistan.

Sebaliknya, atmosfer di Washington tampak jauh lebih keras. Lembaga penyiaran 'Israel' melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump menilai proposal Iran "tidak dapat diterima" karena dianggap tidak memenuhi aspirasi AS untuk mengakhiri konflik secara tuntas. Di Gedung Putih, Trump mengisyaratkan dua pilihan di hadapan pemerintahannya: "Menyerang mereka dengan keras dan mengakhiri masalah ini sama sekali," atau terus mencoba mencapai kesepakatan.

Proposal Iran: Peta Jalan 3 Tahap

Proposal Iran mencakup rencana ambisius untuk menghentikan perang yang terdiri dari tiga tahap:

  1. Tahap Pertama (minimal 30 hari): Mengubah gencatan senjata menjadi pengakhiran perang sepenuhnya, dengan komitmen timbal balik untuk tidak saling menyerang yang mencakup Washington, Tel Aviv, serta Teheran dan sekutunya. Tahap ini juga mencakup pembukaan bertahap Selat Hormuz, pencabutan blokade pelabuhan Iran, dan penarikan pasukan AS dari perairan sekitar Iran.

  2. Tahap Kedua: Pembekuan penuh pengayaan uranium untuk jangka waktu hingga 15 tahun, dengan kembali ke pengayaan maksimal 3,6% sesuai prinsip "nol penyimpanan".

  3. Tahap Ketiga: Memulai dialog strategis regional untuk membangun sistem keamanan yang mencakup seluruh kawasan.

Gendang Perang: Masalah Waktu?

Di lapangan, indikator-indikator tetap menunjukkan potensi tinggi runtuhnya gencatan senjata yang rapuh ini. 'Israel' telah menaikkan status siaga ke level maksimal di tengah estimasi militer bahwa AS mungkin akan melakukan aksi militer terbatas terhadap target di dalam Iran untuk memaksa Teheran melunak dalam masalah nuklir.

Pejabat senior 'Israel' mengatakan kepada Channel 14 bahwa kembalinya pertempuran dipaksakan oleh realitas, dan pertanyaannya bukan lagi "apakah itu akan terjadi?", melainkan "kapan?".

Komando Pusat AS terus menerapkan blokade laut dengan ketat, mengumumkan perubahan rute 49 kapal dagang untuk memastikan kepatuhan terhadap sanksi yang diberlakukan di pelabuhan-pelabuhan Iran.

Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk menyelamatkan gencatan senjata yang dimulai pada 8 April lalu, setelah sekitar 40 hari konfrontasi langsung yang dimulai pada 28 Februari dan menelan lebih dari 3.000 jiwa. Dengan masih lebarnya kesenjangan antara persyaratan Teheran dan tuntutan AS, kawasan ini seolah berada di persimpangan jalan, terobosan diplomatik di saat-saat terakhir atau terperosok kembali ke dalam konfrontasi militer skala luas. (zarahamala/arrahmah.id)