Memuat...

Tren "Takfir" di "Israel", Saat Ekstremis Yahudi Mengafirkan Sesama Yahudi

Oleh Abdullah Ma'rufPenulis Palestina, Direktur Pusat Studi Al-Quds, Universitas Istanbul
Ahad, 9 Agustus 2026 / 26 Safar 1448 07:19
Tren "Takfir" di "Israel", Saat Ekstremis Yahudi Mengafirkan Sesama Yahudi
Ekstremis Yahudi melaksanakan doa-doa Talmud mereka di Masjid Al-Aqsa (Getty)

Sebagian orang mungkin akan terkejut bahwa fenomena "takfir" menjadi topik yang dibahas di kalangan kelompok-kelompok Yahudi religius di "Israel" maupun di dunia secara umum, khususnya kelompok Haredi yang berhaluan ultra-Ortodoks. Namun, kenyataannya persoalan ini telah lama ada dan menjadi salah satu cerminan perpecahan di antara arus-arus keagamaan tersebut, bahkan dalam masyarakat "Israel" secara keseluruhan.

Fenomena ini bukanlah sesuatu yang baru di "Israel". Penolakan terhadap pihak lain serta pengucilan mereka dari komunitas Yahudi sudah muncul sejak awal proyek Zionisme. Pada masa itu, sejumlah rabi menolak Zionisme dan menganggapnya sebagai ajaran sesat yang menyimpang dari syariat Yahudi. Kini, praktik saling mengafirkan atau menganggap pihak lain keluar dari komunitas justru menjadi salah satu gejala perpecahan yang benar-benar mengancam masyarakat "Israel" dari dalam. Sebab, dalam masyarakat mana pun, gagasan untuk mengeluarkan seseorang dari kelompok atau umat merupakan faktor yang sangat berbahaya dan dapat memicu disintegrasi serta perpecahan.

Akibatnya, konsep tentang "musuh" tidak lagi hanya merujuk kepada ancaman dari luar, tetapi bergeser menjadi permusuhan di dalam masyarakat sendiri. Kondisi ini berpotensi mengalihkan perhatian masyarakat dari ancaman eksternal kepada apa yang mereka anggap sebagai "musuh dari dalam".

Untuk memahami apa yang sedang terjadi di masyarakat "Israel" saat ini, perlu dijelaskan bahwa konsep takfir dalam budaya Yahudi berbeda jauh dengan konsep takfir dalam Islam. Dalam Islam, takfir dipahami sebagai tindakan mengeluarkan seseorang dari agama secara keseluruhan, sehingga ia terputus dari sistem keyakinan dan akidah Islam, dengan berbagai konsekuensi teologis dan fikih sesuai mazhab dan konteksnya.

Karena itu, dalam tradisi Islam, takfir merupakan persoalan yang sangat serius. Para ulama sepanjang sejarah selalu memperlakukannya dengan penuh kehati-hatian.

Sementara itu, dalam Yudaisme Rabani tidak ada satu istilah yang memiliki fungsi yang sama pada seluruh tingkatan.

Karena Yudaisme memandang agama sebagai identitas yang sekaligus bersifat etnis dan kebangsaan—di mana anak yang lahir dari ibu Yahudi otomatis dianggap Yahudi—maka konsep "takfir" di dalamnya memiliki beberapa tingkatan. Ada yang berkaitan dengan keyakinan, seperti tuduhan bid'ah, kesesatan, atau kemurtadan. Ada pula bentuk pengucilan sosial atau ritual keagamaan, bahkan pencabutan identitas kebangsaan Yahudi. Tingkatan yang paling berat adalah kriminalisasi keagamaan-politik dengan menempatkan seseorang sebagai musuh bangsa Yahudi. Semua bentuk ini lazim digunakan kelompok-kelompok Yahudi religius, terutama terhadap kalangan sekuler.

Meski para otoritas keagamaan umumnya berusaha menahan para pengikutnya agar tidak menggunakan kekerasan terhadap pihak yang berbeda pandangan, menguatnya arus Zionisme Religius dalam tiga tahun terakhir, ditambah meluasnya kepemilikan senjata di kalangan mereka, membuat upaya tersebut sewaktu-waktu dapat runtuh dan berubah menjadi konflik internal yang berdarah.

Pada awalnya, kelompok Haredi Ortodoks menganggap Zionisme sebagai ajaran sesat. Sebagian dari mereka masih memegang pandangan itu hingga kini, seperti kelompok Neturei Karta. Namun setelah berdirinya "Israel" menjelang Nakbah 1948, sejumlah rabi memilih pendekatan pragmatis dengan menerima keberadaan negara tersebut sebagai kenyataan yang harus dihadapi. Mereka memandang "Israel" sebagai "kejahatan yang tidak dapat dihindari", bukan sebagai representasi agama Yahudi ataupun identitas keagamaan yang harus didukung.

Dari sinilah lahir kelompok-kelompok Haredi yang hidup dalam negara "Israel", tetapi tetap memandang keberadaan negara itu sekadar realitas yang harus diterima karena keadaan memaksa, bukan karena kesetiaan agama maupun nasionalisme.

Salah satu alasan utama pandangan tersebut adalah karena "Israel" didirikan oleh kaum sekuler, bukan oleh kalangan religius. Pada masa awal berdirinya, negara itu hanya menuntut penghormatan terhadap ritual Yahudi, bukan penerapan penuh syariat Yahudi. Hal ini menjadi bibit konflik antara kelompok sekuler yang mendominasi negara dan kelompok religius yang merupakan minoritas.

Karena itu, gagasan saling mengafirkan, menyesatkan, dan menuduh sesat sebenarnya sudah melekat sejak proyek Zionisme lahir. Namun jika ditelusuri perkembangannya, kecenderungan tersebut pada awalnya lebih bersifat emosional dan disertai rasa iba terhadap kaum sekuler yang dianggap "tersesat". Mereka disebut sebagai "anak-anak tawanan" (Tinok Shenishba), istilah yang berasal dari hukum Yahudi kuno untuk anak-anak Yahudi yang ditawan atau dibesarkan tanpa mengenal Taurat dan syariat Yahudi.

Menurut kelompok religius, masyarakat sekuler di "Israel" ibarat anak-anak yang tidak pernah diajarkan syariat, sehingga mereka pantas dikasihani, bukan dimusuhi.

Pandangan paternalistik ini lahir dari konsep bahwa seluruh orang Yahudi merupakan satu keluarga besar sebagai keturunan Ishaq dan Ya'qub. Karena itu dikenal ungkapan dalam Talmud Babilonia, "Sekalipun ia berbuat dosa, ia tetap bagian dari Israel."

Contohnya dapat dilihat dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, ketika beberapa kelompok religius berusaha "membimbing" tentara "Israel" sambil memperingatkan mereka dengan penuh rasa iba bahwa mereka akan mati di Gaza atau Lebanon.

Namun, ada pula kelompok yang mengambil sikap jauh lebih radikal. Mereka memandang orang yang menolak pandangan agama mereka sebagai "Apikorus", istilah yang diambil dari nama filsuf Yunani Epicurus dan digunakan dalam tradisi rabani untuk menyebut orang yang dianggap zindik atau meremehkan Taurat dan syariat.

Dengan demikian, orang tersebut dipandang sebagai sosok jahat. Beberapa rabi bahkan menggunakan istilah itu terhadap seluruh kalangan sekuler. Rabi David Hai HaKohen, kepala Yeshiva Netivot Yisrael di Bat Yam, misalnya, menyebut David Ben-Gurion, perdana menteri pertama "Israel", sebagai Apikorus karena dianggap memerangi kalangan religius ketika mendirikan negara "Israel".

Selain itu, terdapat konsep keagamaan lain yang jauh lebih berbahaya, yakni "Rodef" atau "orang yang harus dihentikan". Berdasarkan hukum dalam Talmud, seseorang yang mengejar korban untuk mencelakakannya boleh dihentikan dengan cara apa pun, bahkan jika harus dibunuh. Ketika label ini dilekatkan kepada seseorang, berarti ia dianggap sebagai ancaman bagi masyarakat dan boleh dihentikan dengan kekerasan.

Ada pula istilah "Erev Rav" atau "kelompok campuran", yang digunakan untuk menggambarkan lawan sebagai unsur asing atau "Yahudi palsu". Sebagian kelompok religius ekstrem memakai istilah ini untuk mencabut legitimasi spiritual maupun nasional lawan mereka dan menggambarkan mereka sebagai pengkhianat yang menghambat keselamatan bangsa Yahudi.

Misalnya, Rabi Dov Lior, rabi permukiman Kiryat Arba di Hebron—tempat tinggal Itamar Ben Gvir—pernah mengeluarkan fatwa bahwa siapa pun yang mengingkari salah satu dari tiga belas prinsip iman, sepenuhnya keluar dari komunitas Israel.

Sementara itu, Rabi Shmuel Halevi Wosner menolak menganggap kaum sekuler sebagai "anak-anak tawanan", karena menurutnya mereka hidup berdampingan dengan kaum religius dan memiliki kesempatan memilih untuk taat kepada syariat. Adapun Rabi Haredi Yaakov Yosef menyebut mereka sebagai Apikorus dan mengaitkannya dengan kaidah rabani kuno yang berbunyi, "diturunkan dan tidak diangkat", yaitu ketentuan keras yang menyatakan bahwa kelompok tertentu yang keluar dari komunitas agama tidak wajib diselamatkan dari kebinasaan.

Istilah-istilah seperti ini dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi pembenaran untuk menumpahkan darah lawan dengan alasan bahwa mereka mengancam syariat Yahudi, bangsa Yahudi, dan proses datangnya keselamatan.

Contoh paling nyata adalah Yigal Amir, ekstremis yang membunuh Perdana Menteri "Israel" Yitzhak Rabin pada 1995. Amir menganggap Rabin sebagai seorang Rodef, sehingga menurut keyakinannya Rabin harus dihentikan, bahkan dengan cara dibunuh, karena kebijakan politiknya dianggap membahayakan masyarakat Yahudi.

Kini kecenderungan seperti itu semakin tampak di kalangan Zionisme Religius ekstrem, terutama di antara para pemukim di Tepi Barat dan Al-Quds. Mereka bukan hanya menganggap rakyat Palestina sebagai musuh, tetapi juga memasukkan kaum sekuler, kelompok kiri, dan siapa pun yang tidak sejalan dengan keyakinan mereka tentang konflik dan perlunya mewujudkan "nubuat keselamatan" melalui kekuatan.

Pandangan ini tidak hanya ditujukan kepada kaum sekuler. Kelompok Haredi pun sering menjadi sasaran, karena mereka secara terbuka mengkritik kelompok ekstrem pendukung pembangunan Bait Suci dan mengecam penyerbuan Masjid Al-Aqsa oleh tokoh-tokoh seperti Itamar Ben Gvir, yang menurut mereka bertentangan dengan syariat dan fatwa para rabi besar.

Walaupun para pemimpin agama masih berusaha keras menahan para pengikutnya agar tidak menggunakan kekerasan terhadap sesama warga "Israel", menguatnya Zionisme Religius selama tiga tahun terakhir, serta meluasnya distribusi senjata yang didorong oleh Bezalel Smotrich dan Itamar Ben Gvir, membuat upaya itu sewaktu-waktu dapat gagal dan memicu konflik internal yang berdarah.

Pada akhirnya, kedua kubu—sekuler dan religius—tidak lagi merasa setara di dalam negara. Kaum sekuler memandang kelompok religius yang menolak wajib militer dan ingin menerapkan hukum para rabi sebagai beban negara. Sebaliknya, kelompok religius menganggap kaum sekuler sebagai penyebab datangnya murka Tuhan.

Pertanyaan yang muncul dari semakin dalamnya keretakan masyarakat "Israel" adalah: sejauh mana perpecahan ini dapat berkembang menjadi bentrokan bersenjata di masa depan? Mungkinkah para pemukim suatu hari akan kembali menerapkan logika yang digunakan Yigal Amir ketika membunuh Rabin, dengan menyatakan bahwa lawan-lawan mereka layak dijatuhi status "Rodef" yang berujung pada pembunuhan?


Artikel opini ini diterjemahkan dari Al Jazeera Arabic dengan judul asli «موضة "التكفير" لدى التيارات الدينية في إسرائيل», "Tren 'Takfir' di Kalangan Arus Keagamaan di 'Israel'".

(Samirmusa/arrahmah.id)