Memuat...

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tekankan Pentingnya Soft Skills bagi Pelajar Hadapi Persaingan Global

Ameera
Ahad, 9 Agustus 2026 / 26 Safar 1448 17:52
Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tekankan Pentingnya Soft Skills bagi Pelajar Hadapi Persaingan Global
Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tekankan Pentingnya Soft Skills bagi Pelajar Hadapi Persaingan Global

DEPOK (Arrahmah.id) — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengingatkan pelajar Indonesia agar tidak hanya mengandalkan kemampuan akademik atau hard skills dalam menghadapi perubahan dunia yang berlangsung semakin cepat.

Menurut Abdul Mu’ti, kemampuan nonteknis atau soft skills justru menjadi salah satu bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi persaingan global.

Kemampuan tersebut mencakup berpikir kritis, bernegosiasi, memecahkan masalah, beradaptasi, hingga berkolaborasi.

Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti saat membuka Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) Depok Chapter di Depok, Jawa Barat.

"Ini merupakan program yang bergengsi, sehingga banyak siswa telah mengenal kualitasnya," kata Abdul Mu’ti.

Ia mengatakan, tema AYIMUN Depok Chapter, "Securing the Digital Future: Protecting Societies and Empowering the Next Generation", menjadi pengingat pentingnya mempersiapkan generasi muda agar memiliki optimisme sekaligus kesiapan menghadapi perubahan zaman.

"Tema AYIMUN Depok Chapter ‘Securing the Digital Future: Protecting Societies and Empowering the Next Generation’ menjadi pengingat bahwa kami harus mempersiapkan generasi muda agar menjadi pribadi yang optimis dan siap menghadapi perubahan," ujarnya.

Abdul Mu’ti menegaskan, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis yang diperoleh melalui pendidikan formal.

Di tengah perubahan dunia yang dinamis, keterampilan nonteknis akan semakin dibutuhkan agar generasi muda mampu beradaptasi dengan berbagai tantangan.

Ia kemudian mengutip sejumlah keterampilan yang diperkirakan semakin penting dalam beberapa tahun mendatang. Di antaranya kemampuan berpikir kritis, negosiasi, pemecahan masalah, adaptasi, dan kolaborasi.

"World Economic Forum menyebutkan beberapa keterampilan esensial yang akan sangat dibutuhkan dalam lima tahun ke depan, di antaranya kemampuan berpikir kritis, negosiasi, pemecahan masalah, kemampuan beradaptasi, kolaborasi, serta berbagai keterampilan abad ke-21 lainnya," tuturnya.

Karena itu, Abdul Mu’ti mendorong para peserta AYIMUN tidak hanya memanfaatkan forum tersebut sebagai ajang mengikuti simulasi diplomasi, tetapi juga sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan diri dan memperluas wawasan.

"Jadikan ajang ini kesempatan bagi Anda untuk mengembangkan kemampuan dan membangun cita-cita untuk membawa nama besar Indonesia di kancah dunia," ujarnya.

AYIMUN Depok Chapter diikuti 315 pelajar dari 118 sekolah dan universitas. Peserta berasal dari jenjang SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi dari berbagai daerah, mulai dari Jabodetabek, Sukabumi, Sumatera Selatan, Magelang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya hingga Bali.

Konferensi tersebut mengangkat tema "Securing the Digital Future: Protecting Societies and Empowering the Next Generation". Para peserta membahas sejumlah isu, termasuk pendidikan serta ancaman aktivitas ilegal di ruang digital melalui dua council, yakni UNICEF dan UNODC.

Presiden International Global Network (IGN) Muhammad Fahrizal mengatakan kemampuan manusia tetap menjadi fondasi utama dalam menciptakan masa depan digital yang aman.

Menurut dia, keamanan digital tidak cukup hanya mengandalkan perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan, sistem keamanan siber, maupun penggunaan kata sandi yang lebih kuat.

"Kita sering berpikir bahwa mengamankan masa depan digital hanya bergantung pada kata sandi yang lebih kuat, kecerdasan buatan, atau sistem keamanan siber. Padahal, meskipun teknologi tentu menjadi bagian dari solusi, fondasi utama dari masa depan digital yang aman bukanlah teknologinya semata, melainkan manusianya," kata Fahrizal.

Ia menilai kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting seiring berkembangnya misinformasi, kecerdasan buatan, dan berbagai ancaman siber.

"Tantangan terbesar bukan lagi sekadar memiliki akses terhadap informasi, melainkan mengetahui bagaimana cara mempertanyakannya, melakukan verifikasi, dan menggunakannya secara bertanggung jawab. Karena itulah berpikir kritis menjadi firewall terkuat yang kita miliki," ujarnya.

Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah yang hadir mewakili Wali Kota Depok menilai pengalaman mengikuti AYIMUN dapat melatih pelajar memahami perbedaan sekaligus membangun kesepakatan.

"Melalui acara ini, adik-adik tidak hanya belajar menjadi delegasi sebuah negara, tapi juga belajar menjadi pimpinan masa depan yang mampu mendengarkan, menghargai perbedaan, membangun konsensus dan menyampaikan gagasan dengan tanggung jawab," ujar Chandra.

Senada dengan itu, Direktur Pendidikan SIT Al Haraki Susi P Krisnawan mengatakan pendidikan seharusnya tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kemampuan generasi muda untuk berkontribusi di tingkat global.

"Acara ini bukan sekadar konferensi. Ketika semakin banyak sarana pendidikan yang mengembangkan program seperti ini, kami sesungguhnya tidak hanya mempersiapkan siswa untuk mengikuti kompetisi, kami sedang mempersiapkan generasi yang mampu membangun jembatan, memiliki dialog daripada perpecahan, serta memimpin dengan kecerdasan dan integritas," kata Susi.

Melalui AYIMUN, para pelajar diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman dalam simulasi diplomasi internasional, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, bernegosiasi, berkolaborasi, dan menghargai perbedaan sebagai bekal menghadapi tantangan global di masa depan.

(ameera/arrahmah.id)