Memuat...

Lima Tahun Kembalinya Imarah Islam Afghanistan, Berikut Pencapaian dan Tantangan yang Mereka Hadapi

Hanin Mazaya
Ahad, 9 Agustus 2026 / 26 Safar 1448 09:13
Lima Tahun Kembalinya Imarah Islam Afghanistan, Berikut Pencapaian dan Tantangan yang Mereka Hadapi
(Foto: Tolo News)

KABUL (Arrahmah.id) - Menjelang genap lima tahun masa kekuasaan Imarah Islam di Afghanistan, Zabihullah Mujahid, juru bicara Imarah Islam, mengatakan kepada Tolo News bahwa pemerintah menghadapi hambatan diplomatik, kesulitan ekonomi, dan kembalinya para migran dalam jumlah besar pada tahun-tahun awal pemerintahannya.

Namun, Mujahid menyatakan bahwa terlepas dari berbagai tantangan tersebut, situasi keamanan di negara itu telah membaik selama lima tahun terakhir, seraya menyebut keamanan nasional sebagai salah satu pencapaian paling signifikan pemerintah.

Ia menambahkan bahwa pembentukan sistem di mana hukum dan keputusan didasarkan pada Syariat Islam merupakan tujuan lain yang telah dicapai pemerintah selama lima tahun terakhir, alnsir Tolo News (8/8/2026).

Zabihullah Mujahid mengatakan: "Imarah Islam Afghanistan telah mencatat kemajuan yang sangat baik selama lima tahun ini. Keamanan nasional telah terjaga, dan ini merupakan pencapaian besar. Semua hukum juga telah diselaraskan dengan Syariat, dan kami memiliki pemerintahan di mana keputusan diambil sesuai dengan Syariat Islam. Ini adalah salah satu aspirasi rakyat Afghanistan, dan hal itu telah terwujud."

Juru bicara Imarah Islam tersebut menambahkan bahwa Kabul telah mengelola hubungan dengan sejumlah negara secara efektif dan berupaya untuk memperluas hubungan tersebut di masa depan.

Menurutnya, peningkatan interaksi diplomatik dengan negara-negara lain dapat membantu membangun rasa saling percaya, sementara perluasan hubungan ekonomi diharapkan pada akhirnya akan memberikan manfaat bagi rakyat Afghanistan.

Sayed Muqaddam Amin, seorang analis politik, mengatakan: "Sejauh ini, Imarah Islam telah menjalankan apa yang mereka sebut sebagai kebijakan luar negeri yang berorientasi pada ekonomi, dan hubungan mereka dengan negara-negara di kawasan maupun dunia relatif damai serta telah membuahkan hasil. Namun, selama kebijakan ini belum bersifat strategis dan kepentingan kedua belah pihak belum didefinisikan secara jelas di tingkat internasional, negara-negara lain tentu akan memiliki tingkat kepercayaan yang lebih rendah."

Habibullah Janibdar, analis politik lainnya, mengatakan: "Kebijakan luar negeri Imarah Islam merupakan kebijakan yang masuk akal dan berorientasi pada ekonomi. Oleh karena itu, mereka perlu memajukan kebijakan ekonomi dan diplomatik dengan negara-negara tetangga, kawasan, maupun negara lainnya, serta memperluas hubungan mereka."

Meskipun hampir lima tahun telah berlalu sejak Imarah Islam kembali berkuasa di Afghanistan, Rusia tetap menjadi satu-satunya negara yang secara resmi mengakui pemerintahan Afghanistan saat ini. Masyarakat internasional memandang penghormatan terhadap hak asasi manusia, pembentukan pemerintahan yang inklusif, dan pemberantasan terorisme sebagai prasyarat utama bagi terjalinnya hubungan serta pengakuan legitimasi internasional bagi Imarah Islam. Sebagai imbalannya, Imarah Islam menuntut agar kursi Afghanistan di Perserikatan Bangsa-Bangsa diserahkan kepada perwakilan mereka, pemerintah beserta para pejabatnya dihapus dari daftar sanksi, dan aset Afghanistan yang dibekukan dicairkan.  (haninmazaya/arrahmah.id)