WASHINGTON (Arrahmah.id) – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam. Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menyelesaikan gelombang terbaru serangan terhadap sekitar 140 sasaran militer di Iran, sementara Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan dan fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Dilansir Al Jazeera, serangan tersebut terjadi setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi pelayaran hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Dalam pernyataannya pada Ahad (12/7/2026), CENTCOM menyebut operasi militer dilakukan sebagai respons atas dugaan serangan Iran terhadap sebuah kapal dagang di Selat Hormuz.
Militer AS mengaku menggunakan amunisi berpemandu presisi yang diluncurkan dari pesawat tempur, pesawat nirawak, dan kapal perang untuk menghantam lokasi peluncuran rudal, fasilitas drone, kemampuan angkatan laut, gudang amunisi, jaringan komunikasi, hingga pos pemantauan pesisir.
Menurut CENTCOM, selama tiga malam terakhir pasukannya telah menyerang lebih dari 300 sasaran di wilayah Iran sebagai bagian dari upaya melemahkan kemampuan Teheran mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Seorang pejabat senior Amerika yang dikutip The Wall Street Journal menyebut gelombang serangan terbaru jauh lebih besar dibanding operasi pekan sebelumnya, baik dari sisi jumlah target maupun cakupan wilayah.
Washington juga menegaskan akan meminta pertanggungjawaban Iran atas setiap serangan terhadap kapal dagang maupun kebebasan navigasi di jalur pelayaran internasional.
Iran Tutup Selat Hormuz
Sebelumnya, Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi seluruh aktivitas pelayaran "hingga pemberitahuan lebih lanjut". Teheran menilai upaya kapal-kapal melintas melalui jalur yang dianggap tidak sah sebagai bentuk campur tangan asing dalam pengaturan pelayaran di selat tersebut.
Media Iran melaporkan Angkatan Laut Garda Revolusi akan mencegah seluruh kapal melintas hingga intervensi Amerika di kawasan berakhir.
Kantor berita Fars juga melaporkan pasukan laut IRGC menembakkan rudal jelajah ke sebuah kapal yang disebut melanggar aturan setelah mengabaikan peringatan dari Iran.
Sementara itu, situs Axios mengutip seorang pejabat Amerika yang menyatakan rudal Iran menghantam sebuah kapal kargo yang sedang berupaya melintasi Selat Hormuz sehingga mengalami kerusakan.
Serangan Meluas di Iran
Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi wilayah selatan negara itu menjadi sasaran serangan Amerika.
Disebutkan, sedikitnya tujuh proyektil menghantam pangkalan militer di Provinsi Bushehr, lima proyektil menyerang wilayah Dayyer, dan empat lainnya menghantam Asaluyeh.
Ledakan juga dilaporkan terjadi di Jask, Chabahar, Bandar Dayyer, Sirik, hingga Pulau Qeshm, menandakan meluasnya cakupan serangan ke berbagai wilayah pesisir selatan Iran.
Qalibaf: Era Kesepakatan Sepihak Telah Berakhir
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target dan pangkalan militer Amerika di beberapa negara kawasan.
Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala tim perunding, Mohammad Baqer Qalibaf, melalui akun X menyatakan bahwa "era kesepakatan sepihak telah berakhir."
Ia menegaskan Amerika Serikat harus menepati komitmennya atau menghadapi konsekuensinya.
Iran Klaim Serang Pangkalan AS
IRGC mengklaim telah menyerang Pangkalan Udara Pangeran Hassan di Yordania menggunakan rudal balistik hingga menghancurkan pusat komando serta hanggar pesawat nirawak MQ-9.
Selain itu, Iran mengaku menyerang fasilitas logistik dan infrastruktur pengisian bahan bakar di Pelabuhan Duqm, Oman.
Militer Iran juga menyatakan menyerang fasilitas militer Amerika di Kuwait menggunakan drone, termasuk sistem pertahanan udara, gudang amunisi, dan instalasi radar.
Di Bahrain, Teheran mengklaim berhasil menghantam sistem komunikasi dan radar milik militer Amerika dengan pesawat nirawak.
Garda Revolusi menegaskan seluruh operasi tersebut merupakan balasan atas serangan Amerika terhadap wilayah Iran dan memperingatkan bahwa setiap agresi lanjutan akan dibalas dengan serangan yang lebih keras.
Negara-Negara Teluk Tingkatkan Pertahanan
Menyusul serangan Iran, sejumlah negara Teluk mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka.
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab menyatakan sistem pertahanan udara berhasil menghadapi ancaman rudal dan drone yang datang dari Iran.
Di Qatar, Kementerian Pertahanan mengumumkan angkatan bersenjata berhasil menggagalkan serangan rudal yang mengarah ke wilayah negara itu. Warga Doha juga melaporkan terdengar beberapa ledakan yang diduga berasal dari proses pencegatan rudal.
Sementara itu, militer Kuwait menyatakan tengah menghadapi sejumlah sasaran udara di wilayah udaranya dan menjelaskan suara ledakan yang terdengar berasal dari operasi pencegatan sistem pertahanan udara.
Eskalasi terbaru ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington setelah pecahnya konfrontasi militer terbuka beberapa bulan terakhir. Situasi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.
(Samirmusa/arrahmah.id)
