Memuat...

Gelombang Ledakan Landa Iran, Pemimpin 'Israel' Isyaratkan Operasi Lanjutan

Zarah Amala
Jumat, 10 Juli 2026 / 25 Muharam 1448 10:25
Gelombang Ledakan Landa Iran, Pemimpin 'Israel' Isyaratkan Operasi Lanjutan
(Anadolu)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Situasi di Timur Tengah kian memanas setelah serangkaian ledakan dilaporkan terjadi di beberapa titik di selatan Iran pada Kamis (9/7/2026) malam. Insiden ini terjadi hanya selang beberapa jam setelah para pejabat tinggi 'Israel' memberikan sinyal bahwa kampanye militer terhadap Iran masih jauh dari kata berakhir.

Media pemerintah Iran mengonfirmasi terjadinya ledakan di dekat kota Bushehr dan kota kecil Choghadak. Selain itu, kantor berita Mehr melaporkan tiga ledakan susulan di kota pelabuhan Konarak. Hingga saat ini, belum ada informasi resmi mengenai penyebab pasti ledakan tersebut maupun laporan mengenai adanya korban jiwa atau kerusakan infrastruktur yang ditimbulkan.

Ledakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan setelah Iran melakukan serangan balasan skala besar terhadap aset-aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Yordania, sebagai respons atas serangan AS sebelumnya. Iran juga mengeklaim telah berhasil menjatuhkan sebuah drone MQ-9 Reaper milik AS di atas Khormoj, Provinsi Bushehr.

Dari pihak 'Israel', Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa kampanye militer negaranya melawan Iran belum berakhir. Dalam pidatonya di upacara kelulusan Angkatan Udara Israel di Pangkalan Udara Hatzerim, Netanyahu menyatakan bahwa 'Israel' kini menghadapi "tantangan baru" dan tetap memprioritaskan supremasi udara sebagai doktrin keamanan nasional.

Kepala Staf Umum 'Israel', Letjen Eyal Zamir, mempertegas pernyataan tersebut dengan memberikan arahan kepada pasukannya untuk tetap bersiap. "Rencana-rencana baru sudah ada di atas meja," ujar Zamir. "Operasi besar masih menanti di depan. Bersiaplah."

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, meluncurkan upaya diplomatik darurat melalui sambungan telepon dengan para pemimpin regional, termasuk Menlu Oman, Menlu Turki, dan Panglima Militer Pakistan. Dalam konsultasi tersebut, Araghchi mengecam serangan AS dan memperingatkan Washington agar tidak melakukan petualangan militer lebih lanjut yang dapat memperluas konflik.

Situasi di kawasan kini berada dalam ketidakpastian tinggi setelah pembatalan Nota Kesepahaman Islamabad (yang dimediasi Pakistan) oleh pihak Amerika Serikat. Seiring dengan pernyataan kesiapan militer dari kedua belah pihak, kekhawatiran dunia internasional terhadap pecahnya perang regional skala penuh terus meningkat, terutama setelah Iran secara terbuka menargetkan pangkalan militer AS di berbagai negara di Timur Tengah.

Pasukan Iran menyatakan telah melancarkan serangan terkoordinasi menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang menyasar berbagai fasilitas strategis Amerika Serikat di Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, dan beberapa lokasi lainnya sebagai balasan atas serangan terbaru dari pihak Amerika.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyebutkan bahwa operasi tersebut menargetkan Camp Arifjan dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, serta Pangkalan Angkatan Laut Juffair dan Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain. Selain itu, IRGC kemudian mengumumkan penghancuran sebuah pusat komando dan kontrol regional Amerika Serikat serta Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania menggunakan rudal balistik.

Di saat yang sama, media Iran juga menyebarkan rekaman video yang diklaim memperlihatkan momen penjatuhan sebuah drone MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat di atas wilayah Khormoj, Provinsi Bushehr, menyusul serangan yang dilakukan pihak Amerika sebelumnya. (zarahamala/arrahmah.id)