Memuat...

Tokoh Perang Afghanistan Desak Pendukungnya Putus Hubungan dengan Taliban

Hanoum
Sabtu, 5 September 2026 / 24 Rabiulawal 1448 03:45
Tokoh Perang Afghanistan Desak Pendukungnya Putus Hubungan dengan Taliban
Gulbuddin Hekmatyar. [Foto: The Hindu]

KABUL (Arrahmah.id) -- Tokoh perang Afghanistan dan pemimpin Hezb-e Islami, Gulbuddin Hekmatyar, mendesak anggota serta pendukung partainya untuk memutus hubungan dengan pihak-pihak yang mendukung Taliban atau Imarah Islam Afghanistan (IIA).

Dalam pesannya, seperti dilansir Afghanistan Internasional (4/9/2026), Hekmatyar meminta anggota Hezb-e Islami yang telah bergabung dengan pemerintahan IIA atau kelompok politik lainnya untuk menjauhkan diri dari partai. Ia juga meminta anggota yang mendukung kebijakan IIA tidak lagi menggunakan nama Hezb-e Islami.

“Berdirilah dengan tulus bersama kelompok-kelompok itu dan berhentilah menggunakan nama Hezb-e Islami,” kata Gulbuddin Hekmatyar dalam pesan yang dikutip Afghanistan International.

Hekmatyar dalam pesannya tidak hanya menyebut IIA. Ia meminta anggota partainya memutus hubungan organisasi dengan siapa pun yang mendukung atau memuji kebijakan monarki Afghanistan, pemerintahan Mohammad Daoud Khan, kelompok komunis, Jamiat-e Islami, Shura-e Nazar, Taliban maupun gerakan politik lainnya.

Menurut anggota partai tersebut, sebagian kader Hezb-e Islami sebelumnya memberikan dukungan kepada pemimpin IIA Hibatullah Akhundzada dan kebijakan pemerintahannya. Ia menafsirkan pesan Hekmatyar sebagai tuntutan agar para anggota memilih antara mempertahankan keanggotaan Hezb-e Islami atau mendukung IIA.

“Pilih menjadi Taliban atau menjadi Hezb-e Islami,” ujar anggota partai tersebut sebagaimana dikutip Afghanistan International.

Hubungan Hekmatyar dengan IIA sebelumnya tidak selalu bersifat konfrontatif. Setelah Taliban kembali menguasai Kabul pada Agustus 2021, Hekmatyar sempat menyambut kembalinya kelompok tersebut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir ia semakin sering mengkritik pemerintahan IIA, terutama mengenai konsentrasi kekuasaan, pembatasan terhadap masyarakat dan tata kelola negara.

Perubahan sikap tersebut berlangsung ketika IIA memperketat pembatasan terhadap kegiatan politik di Afghanistan. Radio Free Europe/Radio Liberty melaporkan pada 2024 bahwa IIA telah melarang aktivitas seluruh partai politik dan kemudian meningkatkan tekanan terhadap sejumlah tokoh politik, termasuk Hekmatyar. Rumah yang sebelumnya diberikan pemerintah kepada Hekmatyar dikosongkan dan kegiatan ceramahnya juga dibatasi.

Tekanan terhadap Hezb-e Islami juga dilaporkan berlanjut. Afghanistan International pada Mei 2026 melaporkan bahwa kantor-kantor Hezb-e Islami diperintahkan ditutup, sejumlah anggota partai ditangkap, serta properti dan peralatan organisasi disita. Hekmatyar sendiri disebut telah meninggalkan Afghanistan dan dalam beberapa bulan terakhir tinggal di Malaysia.

Posisi Hekmatyar juga memiliki latar belakang panjang dalam konflik Afghanistan. Ia merupakan pendiri dan pemimpin Hezb-e Islami yang menjadi salah satu kelompok utama dalam perang melawan pendudukan Soviet pada 1980-an. Setelah bertahun-tahun berkonflik dengan pemerintah Afghanistan, Hekmatyar menandatangani kesepakatan perdamaian dengan pemerintahan Presiden Ashraf Ghani pada 2016 dan kembali ke Kabul pada 2017. Perserikatan Bangsa-Bangsa kemudian mencatat bahwa ia aktif dalam proses politik dan menyerukan pemilu sebagai mekanisme menentukan pemerintahan Afghanistan.

Hubungan antara Hezb-e Islami dan IIA juga memiliki sejarah persaingan. Keduanya pernah menjadi kekuatan bersenjata yang menentang pemerintahan Afghanistan sebelumnya dan kehadiran pasukan asing, tetapi IIA akhirnya mengambil alih sebagian besar basis politik dan militer yang sebelumnya dimiliki kelompok-kelompok lain. Sejumlah mantan anggota Hezb-e Islami kemudian bergabung dengan IIA. (hanoum/arrahmah.id)