Memuat...

25 Tahun Tragedi 11 September: Perang, Islamofobia, dan Luka yang Tak Kunjung Usai

Samir Musa
Sabtu, 5 September 2026 / 24 Rabiulawal 1448 22:30
25 Tahun Tragedi 11 September: Perang, Islamofobia, dan Luka yang Tak Kunjung Usai
Noonan: Setelah seperempat abad, New York masih menyimpan kenangan berat tentang peristiwa 11 September 2001 (AFP)

NEW YORK (Arrahmah.id) — Seperempat abad setelah serangan 11 September 2001, peristiwa yang menewaskan hampir 3.000 orang itu tidak lagi sekadar dikenang sebagai tragedi besar dalam sejarah Amerika Serikat. Peristiwa tersebut menjadi titik balik yang mengubah kebijakan keamanan, politik luar negeri, serta kehidupan sosial Amerika, termasuk nasib komunitas Muslim di negara tersebut.

Serangan yang menghantam World Trade Center di New York dan Pentagon di Washington pada 11 September 2001 disebut media Amerika sebagai runtuhnya mitos tentang Amerika yang kebal terhadap serangan di wilayahnya sendiri.

Namun, ketika New York kembali mengenang tragedi tersebut 25 tahun kemudian, muncul warisan lain yang jauh lebih panjang: perang berkepanjangan, perluasan perangkat keamanan negara, menurunnya kepercayaan terhadap institusi, serta menguatnya narasi politik yang menempatkan Muslim dalam lingkaran kecurigaan.

Media Amerika The Intercept bahkan menggambarkan Muslim sebagai kelompok yang dalam banyak periode menjadi “kambing hitam favorit” para politisi Amerika.

Serangan itu berakhir pada pagi 11 September 2001. Namun, dampak politik dan sosialnya terus berlangsung hingga seperempat abad kemudian.

Luka yang Tak Kunjung Hilang

Dalam tulisannya di The Wall Street Journal, Peggy Noonan mengawali refleksi 25 tahun tragedi 11 September dari sisi manusia, bukan politik.

Menurutnya, New York kehilangan sebagian rasa aman yang pernah dimilikinya. Kenangan terhadap tragedi itu melekat seperti lingkaran gelap pada batang pohon yang tetap terlihat meski waktu terus berlalu.

Ia mengingat rumah sakit yang kala itu menunggu kedatangan korban luka, tetapi banyak korban tidak pernah datang karena tertimbun ledakan dan debu.

Ia juga menggambarkan suasana warga New York yang berada di dalam kereta dan menyaksikan lokasi yang sebelumnya menjadi tempat berdirinya menara World Trade Center. Mereka terdiam, menghela napas panjang, hingga seorang pria yang tampak kuat akhirnya menangis.

Kenangan tersebut membantu menjelaskan mengapa respons Amerika terhadap serangan itu begitu kuat.

Rasa takut yang awalnya merupakan respons terhadap sebuah tragedi dengan cepat berubah menjadi kekuatan politik. Definisi tentang keamanan diperluas, sementara pertanyaan tentang siapa yang harus dianggap sebagai “musuh” mulai mengambil tempat penting dalam kebijakan negara.

Ketakutan tersebut kemudian menjadi fondasi bagi sejumlah keputusan yang dampaknya tidak hanya dirasakan Amerika, tetapi juga dunia.

Dari Ketakutan Menuju Perang

Dalam analisis Gerard Baker yang dimuat The Times, serangan 11 September terjadi ketika Amerika Serikat berada pada puncak dominasi global.

Namun, tragedi tersebut justru mendorong Washington mengambil serangkaian keputusan yang pada akhirnya menggerus sebagian kekuatan yang hendak dipertahankannya.

Respons awal diarahkan ke Afghanistan untuk memburu Al Qaeda. Pada tahap awal, Amerika memperoleh dukungan dan solidaritas internasional yang luas.

Namun, beberapa tahun kemudian, perang meluas ke Irak.

Invasi Irak bukan konsekuensi yang tak terhindarkan dari serangan 11 September. Akan tetapi, menurut Baker, trauma serangan tersebut menciptakan iklim politik yang memungkinkan perang itu terjadi.

Perang berkepanjangan di Afghanistan dan Irak kemudian membawa korban manusia yang sangat besar dan biaya finansial yang luar biasa.

Skandal penjara Abu Ghraib, kontroversi mengenai senjata pemusnah massal, serta berbagai kebijakan perang turut menggerus citra Amerika Serikat dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahnya.

Di sinilah persoalan kemudian berkembang.

Ketika kepercayaan terhadap institusi melemah, masyarakat menjadi lebih mudah mencari kelompok yang dapat dijadikan simbol ancaman untuk menjelaskan ketakutan dan ketidakamanan mereka.

Dalam banyak periode, Muslim menjadi salah satu kelompok yang menanggung dampak terbesar.

Foto yang memperlihatkan berbagai bentuk penyiksaan yang dialami para tahanan Irak di tangan pasukan Amerika di penjara Abu Ghraib (Associated Press).

Muslim dan Warisan Islamofobia

Dalam tulisannya di The Intercept, Rosina Ali membawa pembahasan ke dalam kehidupan masyarakat Amerika.

Warisan 11 September, menurutnya, tidak hanya terlihat dalam perang dan kebijakan keamanan, tetapi juga dalam berkembangnya Islamofobia di dalam negeri.

Islamofobia tidak lagi sekadar reaksi spontan terhadap serangan 2001. Seiring berjalannya waktu, sentimen tersebut dalam sejumlah kasus berkembang menjadi bagian dari perdebatan dan politik Amerika, terutama ketika memasuki musim pemilu.

Akibatnya, sebagian warga Muslim Amerika yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan terorisme justru pernah berada dalam posisi harus membuktikan bahwa mereka tidak bersalah dan loyal terhadap negaranya.

Padahal, banyak Muslim Amerika juga merupakan korban langsung tragedi 11 September. Mereka kehilangan teman, kerabat, maupun sesama warga negara dalam serangan tersebut dan secara tegas menolak aksi teror yang dilakukan dengan mengatasnamakan Islam.

Di sinilah terdapat paradoks besar.

Sebagian Muslim Amerika harus menjalani kehidupan sebagai warga negara yang turut berduka atas serangan terhadap negaranya, tetapi pada saat yang sama menghadapi kecurigaan kolektif hanya karena para pelaku mengklaim bertindak atas nama Islam.

The Intercept juga menyoroti berbagai kasus pengawasan dan penindakan terhadap Muslim serta warga Arab-Amerika dalam kerangka kebijakan antiterorisme.

Perkembangan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa perangkat keamanan yang awalnya dirancang untuk menghadapi terorisme dapat meluas apabila definisi tentang “musuh” diperbesar.

Ketika Keamanan dan Kepercayaan Sama-sama Terkikis

Dampak 11 September juga tidak berhenti pada perang dan kebijakan keamanan.

Baker menilai berbagai kesalahan dalam perang Irak, klaim berlebihan mengenai ancaman, serta menurunnya kredibilitas institusi ikut memperkuat ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah, media, dan elite politik.

Dari kondisi tersebut, polarisasi politik Amerika kemudian semakin berkembang.

Dalam konteks ini, Islamofobia menjadi bagian dari persoalan yang lebih luas. Ia menunjukkan bagaimana ketakutan dapat bekerja dalam sebuah masyarakat demokratis.

Sebuah pengecualian awalnya mungkin diarahkan kepada kelompok yang dianggap sebagai ancaman. Namun, ketika bahasa tentang pengecualian tersebut diterima, cakupannya dapat terus meluas kepada kelompok lain.

Meski demikian, tidak tepat jika seluruh persoalan Amerika Serikat saat ini disebabkan oleh serangan 11 September.

Amerika telah menghadapi berbagai konflik, perang, krisis ekonomi, serta perpecahan politik jauh sebelum 2001. Kekuatan ekonomi, teknologi, dan militernya pun tidak serta-merta hilang setelah serangan tersebut.

Dengan demikian, 11 September lebih tepat dipandang sebagai titik awal dari serangkaian keputusan politik yang sebenarnya masih dapat diarahkan ke jalan yang berbeda.

Seperempat Abad Kemudian

Seperempat abad kemudian, jelas bahwa 11 September bukanlah kemenangan bagi Al Qaeda.

Amerika Serikat berhasil memburu dan membunuh pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, melemahkan berbagai jaringan teroris, serta tetap menjadi salah satu kekuatan global utama.

Namun, perjalanan 25 tahun juga memperlihatkan sesuatu yang tidak terlihat pada pagi ketika serangan terjadi.

Perang melawan terorisme tidak hanya dapat diukur dari kemampuan negara memburu kelompok bersenjata. Ia juga harus diukur dari kemampuan negara mempertahankan kebebasan, keadilan, dan hak warga negaranya ketika menghadapi ancaman.

Bagi komunitas Muslim Amerika, warisan tersebut terasa lebih kompleks.

Mereka merupakan bagian dari masyarakat yang mengalami trauma 11 September, tetapi sebagian dari mereka juga menghadapi dampak kebijakan dan prasangka yang muncul setelah tragedi tersebut.

Kini, pertanyaan penting bukan hanya bagaimana Amerika mengenang hampir 3.000 orang yang tewas pada 11 September 2001.

Pertanyaannya juga adalah bagaimana Amerika mengingat apa yang dilakukannya terhadap dirinya sendiri dan terhadap masyarakat dunia setelah tragedi tersebut.

Jika ingatan tentang 11 September merupakan “lingkaran gelap” yang terus melekat seperti gambaran Peggy Noonan, maka pelajaran terpenting dari ingatan tersebut seharusnya bukan melanggengkan ketakutan dan prasangka, melainkan mencegah lahirnya ketidakadilan baru.

Setelah 25 tahun, tragedi 11 September bukan hanya cerita tentang sebuah serangan.

Ia juga merupakan cerita tentang bagaimana rasa takut dapat mengubah sebuah negara, melahirkan perang panjang, mengikis kepercayaan terhadap institusi, dan dalam banyak kasus membuat Muslim harus membayar harga sosial dan politik atas kejahatan yang tidak mereka lakukan.

(Samirmusa/arrahnah id)