BAMAKO (Arrahmah.id) -- Militer Burkina Faso mengklaim telah menewaskan lebih dari 400 anggota kelompok bersenjata dalam operasi balasan terhadap serangkaian serangan terkoordinasi yang menargetkan sejumlah pos militer di wilayah timur negara itu.
Operasi yang berlangsung pada 30 Juni tersebut melibatkan pasukan darat yang didukung serangan udara untuk memukul mundur para penyerang.
Menurut pernyataan resmi Angkatan Bersenjata Burkina Faso, seperti dilansir Anadolu Agency (2/7/2026), kelompok bersenjata melancarkan serangan hampir bersamaan terhadap pos militer di Gayéri, Solhan, dan Sebba. Pasukan pemerintah kemudian melakukan serangan balik menggunakan pesawat tempur dan helikopter, sehingga berhasil menguasai kembali situasi di ketiga lokasi tersebut.
Militer menyebut operasi itu juga berhasil menyita ratusan senjata, amunisi, alat komunikasi, serta lebih dari 250 sepeda motor yang digunakan para penyerang.
Dalam keterangannya, militer Burkina Faso menyatakan, "Pasukan kami, dengan dukungan kekuatan udara, berhasil menetralkan lebih dari 400 teroris serta merebut sejumlah besar perlengkapan militer mereka."
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa operasi dilakukan sebagai respons terhadap serangan bersenjata yang mengancam keamanan beberapa pangkalan militer di kawasan timur negara itu.
Meski mengklaim meraih kemenangan besar, militer Burkina Faso mengakui kehilangan tiga personelnya dalam pertempuran, yakni dua prajurit di Solhan dan satu prajurit di Gayéri.
Burkina Faso selama beberapa tahun terakhir menghadapi pemberontakan kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Al-Qaeda maupun Islamic State (ISIS) di kawasan Sahel.
Serangan terhadap pangkalan militer dan desa-desa terpencil terus meningkat sejak 2015, menyebabkan ribuan korban jiwa dan jutaan warga mengungsi. Pemerintah militer yang dipimpin Kapten Ibrahim Traoré menjadikan operasi kontra-terorisme sebagai prioritas utama untuk memulihkan keamanan nasional. (hanoum/arrahmah.id)
