Memuat...

Tucker Carlson Tinggalkan Partai Republik, Siap Bentuk Partai Baru usai Berseteru dengan Trump soal Iran

Samir Musa
Jumat, 3 Juli 2026 / 18 Muharam 1448 07:46
Tucker Carlson Tinggalkan Partai Republik, Siap Bentuk Partai Baru usai Berseteru dengan Trump soal Iran
Tucker Carlson (kanan) menegaskan bahwa ia tidak berniat menyaingi Presiden Donald Trump dalam memperebutkan kekuasaan. (AFP)

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Jurnalis konservatif Amerika Serikat, , mengumumkan akan membantu membentuk partai politik ketiga setelah memutuskan keluar dari . Keputusan itu diambil menyusul perselisihannya dengan Presiden AS terkait keterlibatan Amerika Serikat dalam perang melawan Iran.

Dilansir Al Jazeera yang mengutip The New York Times, Carlson menegaskan bahwa dirinya tidak berniat terjun ke dunia politik ataupun menantang Trump dalam pemilihan presiden. Sebaliknya, ia ingin mengabdikan upayanya untuk membantu membangun sebuah partai baru yang dinilainya mampu menawarkan alternatif politik bagi rakyat Amerika.

Dalam wawancara dengan Columbia Journalism Review, Carlson mengatakan Amerika Serikat membutuhkan "upaya yang sungguh-sungguh untuk mencari tahu apa yang benar-benar bermanfaat bagi negara."

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya gejolak politik di Amerika Serikat. Partai Republik disebut tengah menghadapi perpecahan akibat kebijakan Trump dalam perang terhadap Iran, sementara juga dilanda perdebatan internal seiring menguatnya kubu progresif, terutama terkait sikap terhadap Israel dan perang di Jalur Gaza.

Menilai Amerika Butuh Alternatif Politik

Carlson mengakui bahwa membentuk partai ketiga di Amerika Serikat bukan perkara mudah karena sistem politik negara itu selama ini didominasi oleh Partai Republik dan Partai Demokrat.

Meski demikian, ia menilai masyarakat Amerika kini kehilangan pilihan politik yang benar-benar berbeda. Menurutnya, kedua partai besar tidak menawarkan perbedaan mendasar dalam isu-isu penting seperti perang maupun kebijakan fiskal.

Ia bahkan menyebut kondisi tersebut membuat Amerika Serikat tampak seperti "negara satu partai yang berpura-pura menjadi demokrasi", seraya menegaskan bahwa keadaan itu harus diubah.

Carlson juga mengisyaratkan bahwa partai baru yang ingin dibangunnya akan mengusung kebijakan penghentian imigrasi secara total. Menurutnya, arus imigrasi berkontribusi terhadap meningkatnya angka pengangguran, meskipun pandangan tersebut bertentangan dengan pendapat banyak ekonom yang tidak menemukan hubungan langsung antara keduanya.

Tegaskan Tak Akan Menantang Trump

Meski mengkritik kebijakan Trump, Carlson menepis spekulasi bahwa dirinya akan maju sebagai calon presiden atau berusaha mengambil alih kepemimpinan kubu konservatif.

"Saya bukan politisi. Saya bukan pesaing Trump dalam memperebutkan kekuasaan, dan saya memang tidak memiliki kekuasaan," ujar Carlson.

Ia juga mengungkapkan bahwa hubungannya dengan Trump telah terjalin selama bertahun-tahun, tetapi keduanya tidak lagi berkomunikasi sejak pecahnya perang terhadap Iran. "Saya tidak tertarik berbicara dengannya," katanya.

Menurut The New York Times, keretakan hubungan keduanya dipicu oleh keputusan pemerintahan Trump melibatkan Amerika Serikat dalam perang melawan Iran. Carlson menilai langkah tersebut bertentangan dengan salah satu janji utama Trump saat kampanye, yakni menghindari keterlibatan Amerika dalam perang-perang di luar negeri.

Perselisihan itu akhirnya mendorong Carlson meninggalkan Partai Republik setelah lebih dari tiga dekade menjadi salah satu pendukung setianya.

Laporan tersebut menyebut langkah Carlson mengusulkan pembentukan partai baru, sembari menegaskan tidak akan menantang Trump, mencerminkan keinginannya untuk membentuk kembali arah gerakan konservatif tanpa harus berhadapan langsung dengan mantan sekutunya tersebut.

(Samirmusa/arrahmah.id)