GAZA (Arrahmah.id) – Aparat yang menamakan diri "Keamanan Perlawanan" di Jalur Gaza mengumumkan telah mengeksekusi hukuman mati terhadap seorang pria yang dinyatakan bersalah karena bekerja sama dengan intelijen "Israel". Menurut mereka, pria tersebut berperan dalam operasi yang menyebabkan gugurnya sejumlah pejuang Palestina, termasuk Komandan Kepala Staf Brigade Al-Qassam, Izzuddin Al-Haddad.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Rabu (2/7), "Keamanan Perlawanan" menyebut hukuman tersebut dilaksanakan setelah seluruh prosedur yang mereka sebut sebagai "prosedur revolusioner" rampung. Mereka menuduh terpidana terlibat dalam sejumlah operasi intelijen yang membantu serangan "Israel" selama perang di Jalur Gaza, termasuk operasi yang berujung pada gugurnya Al-Haddad.
Sebelumnya, Hamas pada 16 Mei lalu mengumumkan gugurnya Al-Haddad, Komandan Umum Brigade Al-Qassam, akibat serangan udara "Israel" di Kota Gaza.
Dalam pernyataannya, "Keamanan Perlawanan" menegaskan bahwa eksekusi tersebut merupakan bagian dari upaya memburu orang-orang yang dituduh bekerja sama dengan "Israel". Mereka juga memperingatkan bahwa hukuman serupa akan menanti siapa pun yang terbukti menjadi kolaborator.
Selain itu, mereka mengajak orang-orang yang disebut telah "tersesat" agar menyerahkan diri kepada aparat keamanan perlawanan dan kembali ke "barisan nasional". Menurut mereka, para kolaborator tidak mewakili rakyat Palestina, dan tindakan mereka bertentangan dengan peran keluarga serta kabilah Palestina dalam menjaga persatuan dan menghadapi rencana-rencana "Israel".
Sebelumnya, pada 22 Juni, seorang sumber keamanan di Gaza mengatakan kepada platform Al-Haris, yang berafiliasi dengan "Keamanan Perlawanan", bahwa pihaknya berencana mempublikasikan rekaman pengakuan sejumlah orang yang dituduh bekerja sama dengan "Israel". Sumber itu juga menyatakan hukuman akan dijatuhkan kepada mereka yang diduga terlibat dalam kasus-kasus yang menyebabkan gugurnya warga Palestina selama perang.
Menurut sumber tersebut, hasil penyelidikan menunjukkan para tersangka menerima instruksi dari badan intelijen "Israel" untuk memicu kekacauan bersenjata dan menjalankan berbagai aktivitas provokatif di Jalur Gaza.
Sumber-sumber keamanan di Gaza juga mengklaim bahwa "Israel" selama perang semakin mengandalkan jaringan informan untuk menjalankan operasi intelijen di dalam wilayah tersebut. Tugas mereka disebut mencakup pengumpulan informasi serta memantau pergerakan para pemimpin dan anggota faksi-faksi perlawanan sebagai persiapan untuk melancarkan serangan.
Sumber yang sama menambahkan bahwa sejumlah orang yang dituduh bekerja sama dengan "Israel" telah ditangkap dalam berbagai operasi sebelumnya. Di kesempatan berbeda, sejumlah keluarga Palestina juga dilaporkan menyatakan berlepas diri dari anggota keluarganya yang diduga terlibat dalam aktivitas yang berkaitan dengan pendudukan "Israel".
Menurut sumber-sumber tersebut, memburuknya krisis kemanusiaan dan runtuhnya berbagai aspek kehidupan di Jalur Gaza selama perang telah menciptakan kondisi yang berupaya dimanfaatkan badan intelijen "Israel" untuk memperluas jaringan perekrutan serta meningkatkan aktivitas intelijennya di wilayah tersebut.
(Samirmusa/arrahmah.id)
