Memuat...

Jejak Perang Mulai Dihapus, Suriah Bongkar Benteng Tanah Simbol Ketahanan Revolusi di Aleppo

Samir Musa
Kamis, 2 Juli 2026 / 17 Muharam 1448 20:09
Jejak Perang Mulai Dihapus, Suriah Bongkar Benteng Tanah Simbol Ketahanan Revolusi di Aleppo
Dimulainya pembongkaran tanggul tanah dan penimbunan parit di pedesaan Aleppo. (Pemerintah Provinsi Aleppo)

ALEPPO (Arrahmah.id) – Pemerintah Suriah mulai membongkar tanggul tanah dan parit pertahanan yang selama bertahun-tahun menjadi simbol ketahanan wilayah oposisi di pedesaan utara Aleppo. Proyek bertajuk "Shada as-Sumud" (Gaung Keteguhan) itu menandai dimulainya fase baru pemulihan kawasan yang porak-poranda akibat perang.

Menurut laporan Al Jazeera, selama bertahun-tahun tanggul tanah dan parit yang membentang hingga puluhan kilometer bukan sekadar benteng militer, tetapi juga menjadi simbol perjuangan warga dan pejuang revolusi Suriah dalam mempertahankan wilayah yang berada di luar kendali rezim terguling Bashar al-Assad. Pembongkarannya kini dipandang sebagai penanda berakhirnya fase perang dan dimulainya proses rekonstruksi serta pemulihan kehidupan masyarakat.

https://www.facebook.com/61583532803546/posts/pfbid02AQrvQQRSv8YUPuYL3B3YVajZVXcWf68MUmJ9q1GGWibKrVR5tz87nFpgLXGTMz4yl/

Pemerintah Provinsi Aleppo pada Rabu (1/7) meluncurkan proyek "Shada as-Sumud" di bawah koordinasi pemerintah daerah dengan melibatkan Kementerian Pertahanan serta Kementerian Darurat dan Penanggulangan Bencana.

Administrasi Distrik Azaz menjelaskan bahwa proyek tersebut bertujuan memperbaiki layanan publik dan merehabilitasi kawasan terdampak perang. Sekitar 200 kilometer tanggul tanah yang tersebar di berbagai wilayah Azaz akan dibongkar dalam program yang ditargetkan selesai dalam waktu sekitar 70 hari.

Pemerintah setempat menyatakan proyek ini merupakan hasil koordinasi berbagai instansi untuk memperlancar mobilitas warga, meningkatkan pelayanan antardesa, memperkuat stabilitas, serta menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tertata.

Gubernur Aleppo, Azzam Al-Gharib, menyebut wilayah tersebut sebagai tanah yang telah memberikan pengorbanan besar dan menjadi benteng keteguhan selama masa revolusi. Ia menegaskan bahwa proyek ini merupakan langkah awal untuk membuka jalan bagi kepulangan warga ke rumah mereka dengan aman.

Dalam video yang diunggahnya, Al-Gharib tampak mengoperasikan sebuah buldoser saat proses pembongkaran tanggul tanah berlangsung. Ia menargetkan pekerjaan itu selesai dalam waktu tidak lebih dari 70 hari sebelum memasuki tahap pemulihan dan pembangunan kawasan.

Di media sosial, foto dan video pembongkaran tanggul ramai dibagikan warga Suriah. Banyak di antara mereka mengenang pengorbanan para pejuang di wilayah Ratyan, Duwair az-Zaitun, dan Hardatnin, yang menjadi lokasi pertempuran sengit selama revolusi. Mereka menilai pembongkaran benteng-benteng tersebut bukan berarti melupakan sejarah, melainkan menandai peralihan dari masa peperangan menuju pembangunan kembali.

Sementara itu, Pertahanan Sipil Suriah (White Helmets) menyatakan proyek "Shada as-Sumud" bertujuan membuka kembali akses jalan, memudahkan mobilitas penduduk, serta memungkinkan para petani kembali mengakses lahan pertanian mereka.

Proyek yang dikerjakan bersama Pemerintah Provinsi Aleppo, Kementerian Darurat dan Penanggulangan Bencana, serta Kementerian Pertahanan itu mencakup pembongkaran tanggul tanah dan penimbunan parit bekas perang sepanjang sekitar 200 kilometer. Langkah tersebut diharapkan mempercepat pemulihan layanan publik, mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, dan mempercepat kembalinya kehidupan normal di pedesaan utara Aleppo.

Aleppo merupakan salah satu wilayah yang paling terdampak konflik Suriah. Selama bertahun-tahun, kawasan ini menjadi medan pertempuran sengit yang menyisakan jaringan panjang tanggul tanah dan parit pertahanan. Kini, bekas-bekas benteng itu mulai disingkirkan sebagai bagian dari upaya rekonstruksi dan pemulihan pascaperang.

(Samirmusa/arrahmah.id)