SEMARANG (Arrahmah.id) – Nama Raeni kembali menjadi sorotan publik. Perempuan asal Kendal, Jawa Tengah, yang pernah viral karena diantar ayahnya menggunakan becak saat wisuda S1 pada 2014 silam, kini berhasil menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional.
Raeni, lulusan terbaik Program Studi Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Semarang (UNNES), saat itu menyentuh hati banyak orang.
Di tengah euforia kelulusan, ia datang ke acara wisuda dengan becak yang dikayuh sang ayah, Mugiyono, seorang pengayuh becak sederhana dari Kendal.
Dari kisah penuh keterbatasan tersebut, perjalanan akademik Raeni justru terus melesat. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di UNNES dengan dukungan beasiswa Bidikmisi, ia melanjutkan studi S2 di University of Birmingham, Inggris, melalui beasiswa Presiden pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Raeni menyelesaikan program Magister (MSc) bidang Akuntansi dan Keuangan Internasional dengan predikat istimewa.
Tak berhenti di situ, ia kemudian melanjutkan pendidikan doktoral (PhD) di universitas yang sama hingga berhasil meraih gelar doktor di bidang akuntansi.
Kini, berdasarkan laman resmi University of Birmingham, Raeni tercatat sebagai Asisten Profesor pada Departemen Akuntansi, University of Birmingham.
Kampus tersebut merupakan salah satu perguruan tinggi bergengsi dunia yang menempati peringkat ke-11 di Inggris dan peringkat ke-76 dunia versi QS World University Rankings (QS WUR) 2026.
Dalam perannya sebagai akademisi, Raeni berfokus pada penelitian terkait pengembangan kerangka akuntabilitas untuk perubahan iklim, khususnya pada bidang keuangan iklim.
Sebelum menjabat sebagai asisten profesor, ia juga pernah menjadi peneliti pascadoktoral di Stockholm Environment Institute di York dan berkontribusi dalam proyek UK Partnering for Accelerated Climate Transitions (UK PACT) di Indonesia.
Jejak pengabdiannya terhadap dunia pendidikan juga terlihat ketika ia kembali ke Indonesia pada 2016 untuk mengajar sebagai dosen non-PNS di Jurusan Pendidikan Ekonomi UNNES.
Kontribusi ilmiah Raeni mendapat pengakuan internasional. Ia menerima penghargaan Rob Gray Emerging Scholar dan Reg Mathews Memorial Prize dari Centre for Social and Environmental Accounting Research (CSEAR) Inggris.
Selain itu, ia aktif menjadi peninjau ad hoc untuk berbagai jurnal ilmiah bereputasi dan dipercaya sebagai peninjau ahli dalam penyusunan laporan Global Environmental Outlook dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).
Di balik seluruh pencapaian tersebut, Raeni tak pernah melupakan perjuangan orang tuanya.
Ia pernah mengungkapkan bahwa sang ayah rela menggunakan uang pesangon kerja untuk membelikannya laptop sebagai hadiah setelah ia berhasil memperoleh beasiswa kuliah.
"Untungnya saya bersyukur sekali mempunyai orang tua yang bagi saya sangat luar biasa. Bapak ketika beliau keluar dari pekerjaannya dan pesangonnya digunakan untuk membelikan laptop saya untuk kuliah," ujar Raeni, dikutip dari DetikEdu.
Kisah Raeni menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya.
Dengan kerja keras, ketekunan, dukungan keluarga, serta pemanfaatan berbagai program beasiswa, putri seorang pengayuh becak itu kini berdiri sebagai akademisi di salah satu universitas terbaik di Inggris.
Perjalanan Raeni juga menjadi inspirasi bagi banyak anak muda Indonesia bahwa mimpi besar dapat diraih siapa saja, selama ada keberanian untuk terus belajar dan tidak menyerah pada keadaan.
(ameera/arrahmah.id)
