Memuat...

Di Mana Posisi "Israel" dalam Eskalasi Amerika Serikat terhadap Iran Saat Ini?

Oleh Amin KhalafallahPenulis di Al Jazeera
Kamis, 16 Juli 2026 / 2 Safar 1448 11:03
Di Mana Posisi "Israel" dalam Eskalasi Amerika Serikat terhadap Iran Saat Ini?
"Israel" di tengah eskalasi Iran berada dalam posisi dilematis: antara mengambil keuntungan dan menghadapi kekhawatiran (Agensi).

(Arrahmah.id) - "Israel" berada pada posisi yang dilematis di tengah kembali memanasnya eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran. Di satu sisi, Tel Aviv diuntungkan oleh tekanan berkelanjutan terhadap Teheran. Namun di sisi lain, mereka khawatir konflik meluas atau Iran berhasil menjadi negara berkekuatan nuklir, yang dapat menyeret "Israel" dari sekadar pihak yang diuntungkan menjadi pelaku utama dalam konfrontasi langsung.

Perang yang Menguntungkan "Israel"

Ronen Ben-Yishai, analis militer dan keamanan harian Yedioth Ahronoth, dalam analisanya yang diterbitkan pada 13 Juli 2026, menilai bahwa perang saling menguras kekuatan antara Amerika Serikat dan Iran saat ini justru menguntungkan kepentingan "Israel".

Menurutnya, konflik tersebut mencegah pelonggaran sanksi terhadap Iran, mempertahankan tekanan terhadap Teheran, sekaligus menggagalkan upaya Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menjadikan penguasaan Selat Hormuz sebagai simbol kemenangan dan sumber keuntungan ekonomi.

Namun demikian, persoalan program nuklir Iran tetap menjadi celah yang sangat mengkhawatirkan bagi "Israel". Iran terus memperkuat perlindungan fasilitas-fasilitas nuklirnya serta menolak pengawasan internasional.

Dalam konteks ini, sejumlah pengamat menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang menjalankan strategi "bernegosiasi melalui bom", yakni menggunakan serangan militer untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan dengan syarat yang lebih menguntungkan Washington, tanpa benar-benar memilih perang total.

Karena itu, "Israel" memandang serangan-serangan tersebut sebagai bentuk diplomasi koersif, bukan jaminan bahwa proyek nuklir maupun rudal Iran benar-benar akan dihancurkan.

Perang ini dipimpin oleh Washington, yang menentukan tujuan-tujuannya, kapan perang dihentikan, serta syarat-syarat untuk kembali ke meja perundingan (Reuters).

Batas Kendali Amerika

Perkembangan tersebut juga menunjukkan batas pengaruh "Israel". Perang ini dipimpin oleh Washington, yang menentukan sasaran operasi, kapan harus dihentikan, serta syarat untuk kembali ke jalur diplomasi.

Kondisi ini mendorong Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terus memperkuat koordinasi dengan Trump agar tidak lahir kesepakatan yang justru memberi Iran kesempatan membangun kembali kekuatannya.

Pergerakan diplomatik "Israel" memperlihatkan bahwa potensi perbedaan dengan Amerika bukan terletak pada perlunya menekan Iran, melainkan pada bagaimana konflik ini diakhiri. Tel Aviv khawatir Washington akan menganggap perjanjian terbatas sebagai keberhasilan diplomatik, sementara bagi "Israel" itu hanya jeda sementara yang memungkinkan ancaman Iran muncul kembali.

Keberhasilan AS di Selat Hormuz belum menghilangkan kekhawatiran utama "Israel" terkait tetap bertahannya kemampuan nuklir Iran (Anadolu).

Waspada Tanpa Terjun ke Medan Tempur

Di lapangan, Angkatan Udara "Israel" tetap berada dalam kondisi siaga tanpa meningkatkan status kesiagaan secara signifikan, meskipun serangan Iran telah meluas hingga menyasar pangkalan-pangkalan di kawasan Teluk serta negara-negara seperti Qatar dan Oman. Hal itu diungkapkan analis militer Channel 13, Alon Ben David.

Situasi ini menunjukkan bahwa "Israel" bersiap menghadapi kemungkinan memburuknya keadaan, tetapi belum melihat alasan untuk ikut terlibat langsung selama serangan Iran belum menyasar wilayahnya.

Sikap "Israel" saat ini tercermin dalam dukungan politik terhadap pendekatan Trump, kerja sama intelijen dengan Amerika Serikat, serta tetap menunda opsi serangan langsung.

Jam Nuklir Terus Berdetak

Perhitungan strategis "Israel" akan berubah total ketika perhatian bergeser dari Selat Hormuz ke program nuklir Iran.

Intelijen "Israel" dan Amerika kini memusatkan perhatian pada fasilitas nuklir Gunung Kapak (Jabal al-Fa's) di dekat Natanz, yang dibangun sekitar 100 meter di bawah permukaan tanah. Informasi ini diungkapkan oleh Or Heller, koresponden militer dan keamanan Channel 13.

Pembangunan baru yang terpantau melalui citra satelit memicu kekhawatiran besar karena fasilitas tersebut dinilai lebih dalam dan lebih terlindungi dibanding fasilitas Fordow, sehingga berpotensi digunakan untuk pengayaan uranium hingga tingkat militer yang sulit dihancurkan melalui serangan udara konvensional.

Faktor Penentu Keterlibatan "Israel"

Sumber-sumber "Israel" memang tidak mengungkapkan syarat resmi kapan negara itu akan ikut berperang, tetapi terdapat dua garis merah yang jelas.

Pertama, apabila serangan Iran mengenai wilayah "Israel". Skenario ini pernah terjadi pada putaran konflik 8 Juni 2026. Saat itu, Channel 13 melaporkan bahwa serangan balasan "Israel" dilakukan sebagai respons atas rudal Iran dan dilaksanakan dengan koordinasi penuh bersama Amerika Serikat.

Kedua, berkaitan dengan program nuklir Iran. Sepanjang Juli 2026, Netanyahu berulang kali menegaskan bahwa "Israel" tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Yisrael Katz menyatakan kemungkinan perang akan kembali dilanjutkan apabila tujuan operasi belum tercapai.

Persoalan ini menjadi semakin penting dengan terus dipantaunya pembangunan di fasilitas Gunung Kapak, yang dinilai dapat memengaruhi jadwal serta keputusan strategis militer "Israel".

Artinya, eskalasi di Selat Hormuz saja belum cukup untuk menyeret "Israel" ke dalam perang, selama wilayahnya tidak diserang atau belum ada keyakinan bahwa Iran telah kembali menempuh jalur menuju senjata nuklir. Sebab, situasi saat ini justru memberi keuntungan bagi Tel Aviv tanpa harus menanggung risiko perang rudal baru.

Setelah perang Februari 2026, wacana serangan pendahuluan menjadi bagian terbuka dari perdebatan keamanan di "Israel" (Media "Israel").

Akankah Melancarkan Serangan Pendahuluan?

Hingga kini belum ada indikator kuat bahwa "Israel" telah memutuskan melakukan serangan pendahuluan (preemptive strike) di tengah eskalasi saat ini.

Tel Aviv masih memilih mengamati perkembangan sambil bersiap memberikan respons apabila diperlukan, selama Iran tetap tidak menjadikan wilayah "Israel" sebagai sasaran serangan dari kawasan Teluk.

Meski demikian, konsep serangan pendahuluan kini telah menjadi bagian terbuka dalam diskusi keamanan setelah perang pada Februari 2026.

Dalam pernyataan yang dikutip Yedioth Ahronoth pada 8 Juni 2026, Netanyahu menyebut operasi militer Februari 2026 sebagai "serangan pencegahan bersejarah". Namun pengalaman konflik tersebut juga menunjukkan bahwa memiliki doktrin serangan pendahuluan tidak berarti akan langsung menerapkannya setiap kali terjadi krisis.

Pernyataan Menteri Pertahanan Yisrael Katz semakin memperkuat penilaian tersebut. Pada 9 Juli 2026, sebagaimana dilaporkan koresponden militer Otoritas Penyiaran "Israel", Itay Blumental, Katz menyatakan bahwa "Israel" siap melanjutkan perang "untuk ketiga kalinya."

Pada kesempatan yang sama, Netanyahu menegaskan bahwa Angkatan Udara "Israel" mampu menjangkau Iran, sementara Kepala Staf Eyal Zamir menyatakan militer siap bertindak kapan saja.

Seluruh pernyataan tersebut menunjukkan kesiapan menghadapi putaran konflik baru, tetapi belum menjadi bukti bahwa keputusan untuk memulainya telah diambil dalam eskalasi saat ini.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, "Israel" memperoleh keuntungan dari tekanan Amerika Serikat terhadap Iran karena melemahkan posisi Teheran. Namun Tel Aviv juga khawatir jika tekanan itu berakhir dengan sebuah kesepakatan yang justru memberi Iran kesempatan menghidupkan kembali program nuklirnya.

Karena itu, keterlibatan langsung "Israel" maupun kemungkinan melancarkan serangan pendahuluan masih bergantung pada dua faktor utama: jika Iran menyerang langsung wilayah "Israel", atau jika terdapat langkah yang menunjukkan Iran semakin dekat memperoleh kemampuan senjata nuklir. Semua itu diperkirakan akan tetap dilakukan melalui koordinasi yang sangat erat dengan Washington.

(Samirmusa/arrahmah.id)