Memuat...

Kepala Negosiator Iran: AS Ingin Memecah Belah Negara, Bukan Sekadar Ganti Pemerintah

Zarah Amala
Kamis, 16 Juli 2026 / 2 Safar 1448 11:30
Kepala Negosiator Iran: AS Ingin Memecah Belah Negara, Bukan Sekadar Ganti Pemerintah
Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran. (Foto: PC)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki ambisi yang lebih besar daripada sekadar menggulingkan pemerintah Iran. Ia menuding Washington berupaya memecah belah kedaulatan negara Iran.

Dalam pernyataannya pada Rabu (15/7/2026), Ghalibaf menegaskan bahwa meskipun Iran tidak pernah menginginkan perang, negara tersebut tetap harus bersiap penuh untuk mempertahankan keamanan dan kepentingan nasionalnya.

"Kami harus menggunakan diplomasi dan negosiasi untuk memajukan serta menjaga kepentingan nasional kami," ujar Ghalibaf, seraya menekankan bahwa kebijakan militer maupun diplomatik harus didasarkan pada kepentingan jangka panjang negara. Ia juga menambahkan bahwa Iran tidak memiliki pilihan lain selain mengandalkan kekuatan sendiri.

Terkait nota kesepahaman (memorandum of understanding) dengan Washington, Ghalibaf memperingatkan bahwa komitmen Teheran bersifat kondisional. "Jika Iran tidak mendapatkan manfaat dari nota kesepahaman tersebut, maka kami tidak memiliki alasan untuk tetap mematuhinya," tegasnya.

Pernyataan Ghalibaf muncul sehari setelah 180 anggota Majelis Permusyawaratan Islam Iran mendesak pemerintah untuk mengakhiri kesepahaman dengan AS dan meninjau kembali kerangka negosiasi. Para legislator juga mendorong penguatan doktrin pertahanan negara serta regulasi pengelolaan Selat Hormuz.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Teheran telah menangguhkan sebagian komitmennya sebagai respons atas pelanggaran berulang yang dilakukan AS.

"Begitu pihak lain melanggar komitmennya, kami pun menahan diri untuk tidak melaksanakan kewajiban kami di mana pun diperlukan," kata Baghaei. Ia juga memastikan bahwa saat ini tidak ada agenda negosiasi yang dijadwalkan, karena fokus utama Teheran saat ini sepenuhnya beralih pada pertahanan nasional.

Di tengah ketegangan diplomatik, militer Iran bersumpah akan memberikan respons tegas menyusul serangan rudal AS yang menghantam barak militer Bambur di Iranshahr, wilayah tenggara Iran, pada Rabu pagi.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnim, serangan yang melibatkan 13 rudal tersebut menewaskan tujuh personel Angkatan Darat Iran dan melukai beberapa lainnya. Dalam sebuah pernyataan resmi, Angkatan Darat Iran mengutuk serangan tersebut sebagai agresi pengecut dan berjanji akan memberikan balasan pada waktu yang tepat.

Serangan ini terjadi di tengah berlanjutnya operasi militer AS di sekitar Selat Hormuz dan pembatasan maritim terhadap kapal-kapal Iran. Sementara itu, media Iran melaporkan adanya ledakan susulan di Bandar Abbas, Pulau Kish, dan Provinsi Bushehr seiring dengan berlanjutnya aksi saling serang antara kedua negara. (zarahamala/arrahmah.id)