BEIRUT (Arrahmah.id) - Situasi di Lebanon selatan diwarnai perkembangan lapangan yang signifikan, Rabu (15/7/2026), seiring berakhirnya putaran baru perundingan antara delegasi Lebanon dan 'Israel' di Roma. Di saat bersamaan, militer Lebanon mengumumkan pengerahan patroli dan pendirian pos pemeriksaan di sejumlah desa di selatan, sementara tentara pendudukan 'Israel' mengklaim telah menewaskan tiga orang yang disebut sebagai anggota Hizbullah di dalam apa yang mereka sebut sebagai zona keamanan.
Perkembangan ini terjadi di bawah pengaturan yang dimediasi Amerika Serikat untuk melaksanakan perjanjian kerangka kerja (framework agreement) mengenai penarikan bertahap pasukan 'Israel' dari wilayah Lebanon yang diduduki, dimulai dengan dua zona percontohan di selatan.
Militer Lebanon menyatakan telah melaksanakan patroli dan mendirikan pos pemeriksaan di kota-kota seperti Froun, Al-Ghandouriyeh, Qalaouiyeh, Burj Qalaouiyeh, dan Kfar Dounine. Langkah ini dilakukan di tengah kehadiran militer 'Israel' yang terus berlangsung, seiring dengan pembahasan mekanisme pengalihan tanggung jawab keamanan kepada tentara Lebanon di wilayah-wilayah yang nantinya ditinggalkan oleh pasukan pendudukan.
Pernyataan militer Lebanon tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai sifat atau durasi misi tersebut. Namun, pergerakan ini dilakukan setelah dua hari pembicaraan di ibu kota Italia mengenai implementasi perjanjian kerangka kerja antara kedua belah pihak.
Di sisi lain, militer 'Israel' menyatakan pasukannya telah menewaskan tiga pria di kawasan Beit Yahoun. Dalam pernyataannya, militer 'Israel' mengeklaim telah memantau ketiga orang tersebut di dalam zona keamanan yang mereka dirikan di Lebanon selatan dan menuding ketiganya membawa senjata. Pasukan Brigade 401 mengeklaim menargetkan mereka dengan tujuan menghilangkan ancaman terhadap pasukan yang dikerahkan di area tersebut.
Saat ini, pasukan 'Israel' menduduki beberapa wilayah di Lebanon selatan dan telah membentuk zona militer yang membentang sekitar 10 kilometer di dalam wilayah Lebanon. Meski intensitas pertempuran menurun sejak Juni lalu, pasukan 'Israel' terus melancarkan serangan udara, operasi peledakan, dan pergerakan militer di wilayah selatan.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beirut mengumumkan setelah berakhirnya pembicaraan di Roma bahwa telah dicapai kesepakatan mengenai struktur dan pedoman pelaksanaan rencana dua zona percontohan tersebut. Kedutaan menyebut pembicaraan dua hari itu produktif dan positif, dengan prosedur akhir akan diselesaikan dalam beberapa hari ke depan.
Berdasarkan formulasi perjanjian kerangka kerja yang ditandatangani pada 26 Juni 2026 di bawah perlindungan AS, penarikan pasukan 'Israel' akan dimulai dari dua wilayah yang belum disebutkan namanya. Perjanjian tersebut tidak menetapkan jadwal penuh untuk penarikan, melainkan mengaitkannya dengan kesiapan tentara Lebanon untuk mengambil tanggung jawab keamanan penuh, serta pelucutan senjata kelompok bersenjata, yang merujuk secara khusus pada Hizbullah.
Menurut laporan Yedioth Ahronoth, seorang pejabat 'Israel' menyebut bahwa pihak ketiga akan memverifikasi penerapan rencana percontohan tersebut, dan menambahkan bahwa pihak tersebut bukan berasal dari UNIFIL maupun badan pengawas gencatan senjata PBB.
Perundingan diperkirakan akan berlanjut ke tahap teknis yang lebih luas guna mencapai kesepakatan komprehensif antara Lebanon dan 'Israel'. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, agresi 'Israel' yang dimulai pada 2 Maret 2026 telah menyebabkan 4.324 orang tewas, 12.223 terluka, serta mengakibatkan lebih dari satu juta orang mengungsi. (zarahamala/arrahmah.id)
