GAZA (Arrahmah.id) - Serangkaian serangan udara dan artileri 'Israel' yang menargetkan berbagai wilayah di Jalur Gaza pada Jumat (17/7/2026) menyebabkan 14 warga Palestina gugur dan 37 lainnya terluka. Insiden paling mematikan terjadi di kamp pengungsi Nuseirat, yang menambah panjang daftar pelanggaran Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah berlaku sejak Oktober 2025.
Rumah Sakit Al-Awda melaporkan bahwa sebuah serangan udara 'Israel' menyasar iring-iringan pelayat di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah. Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa pesawat nirawak (drone) 'Israel' menembakkan beberapa rudal ke arah warga yang sedang menghadiri prosesi pemakaman di Masjid Ahmed Yassin. Serangan tersebut mengakibatkan 8 orang gugur dan lebih dari 20 orang terluka, termasuk perempuan, anak-anak, dan lanjut usia.
Tim medis dan pertahanan sipil berupaya keras mengevakuasi korban ke rumah sakit di tengah kesulitan akses layanan akibat membanjirnya korban dalam kondisi kritis. Selain itu, serangan serupa juga menyasar tenda-tenda pengungsian di Deir al-Balah dan kota Al-Zawayda, yang menambah jumlah korban jiwa hari ini.
Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengutuk keras serangan tersebut sebagai pembantaian keji yang dilakukan oleh militer 'Israel' terhadap warga sipil yang sedang melakukan prosesi pemakaman. Hamas mendesak para mediator gencatan senjata serta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera bertindak guna menghentikan "mesin pembunuh dan pengepungan" yang terus dilakukan 'Israel' terhadap penduduk Gaza.
Di tengah eskalasi militer, laporan surat kabar 'Israel' Haaretz menyoroti dampak mengerikan bagi anak-anak di Gaza. Haaretz melaporkan bahwa sejak gencatan senjata dimulai, rata-rata satu anak tewas setiap hari di tangan militer 'Israel'. Total korban anak-anak sejak awal genosida pada 2023 kini telah melampaui 21.000 jiwa. Sebagian besar tewas akibat serangan udara, sementara sisanya meninggal karena luka-luka yang tidak tertangani akibat runtuhnya sistem medis di Gaza.
Data PBB menunjukkan setidaknya 18.000 pasien di Gaza membutuhkan evakuasi medis mendesak untuk perawatan yang tidak tersedia di dalam wilayah tersebut, namun akses keluar masih sangat terbatas. Selain krisis medis, 1,6 juta orang (77% populasi Gaza) kini menghadapi kerawanan pangan tingkat akut.
Hingga saat ini, 'Israel' dilaporkan tidak memenuhi komitmen dalam protokol kemanusiaan gencatan senjata. Bantuan yang masuk ke Gaza tercatat tidak mencapai 40% dari volume bantuan yang dijanjikan dalam kesepakatan Oktober lalu. Kondisi ini diperparah dengan memburuknya krisis lingkungan, di mana penumpukan sampah dan air limbah di pemukiman pengungsi telah memicu penyebaran penyakit, bahkan dilaporkan adanya kasus warga yang terluka akibat gigitan hewan pengerat.
Menurut data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza, pelanggaran gencatan senjata oleh Israel hingga Kamis (16/7/2026) telah mengakibatkan 1.127 warga Palestina gugur dan 3.643 lainnya terluka. (zarahamala/arrahmah.id)
