SANAA (Arrahmah.id) - Pemimpin gerakan Ansarallah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houtsi, memberikan peringatan keras kepada Arab Saudi pada Kamis (16/7/2026). Ia menegaskan bahwa setiap eskalasi militer Saudi terhadap Yaman akan dibalas dengan respons langsung, serta menuduh Riyadh bertindak demi kepentingan Amerika Serikat dan 'Israel'.
Dalam pidato televisi pekanan, Al-Houtsi menegaskan bahwa Yaman tidak akan pernah menyerah meski telah bertahun-tahun menghadapi agresi militer dan blokade. "Menyerah bukanlah pilihan bagi Yaman," tegasnya. Ia memperingatkan Riyadh bahwa jika mereka memilih konfrontasi yang lebih luas, Yaman akan membalas dengan tindakan setimpal: "Blokade akan dibalas dengan blokade."
Al-Houtsi menyoroti serangan terbaru Arab Saudi terhadap Bandara Internasional Sanaa, yang menurutnya bertujuan untuk menggagalkan upaya pencabutan blokade terhadap Yaman. Ia mengecam Riyadh yang marah bahkan terhadap respons terukur dari pihak Yaman setelah serangan tersebut.
"Persamaan yang sebenarnya sekarang adalah Bandara Internasional Sanaa dibalas dengan bandara milik Riyadh," ancam Al-Houtsi. Ia menuduh Arab Saudi melanggar kewajiban kemanusiaan dan terus merampas hak warga Yaman untuk bergerak bebas serta mengakses sumber daya mereka sendiri.
Dalam pidatonya, Al-Houtsi menuduh Arab Saudi konsisten menyelaraskan diri dengan kebijakan Washington dan Tel Aviv di kawasan regional. Menurutnya, Riyadh berperan menghalangi posisi Arab atau Islam yang bersatu dalam mendukung Palestina serta mencegah tindakan nyata terhadap genosida yang berlangsung di Gaza.
Al-Houtsi menambahkan bahwa Arab Saudi berupaya mencitrakan perlawanan Palestina sebagai tindakan kriminal, sembari bekerja sama dengan AS, Inggris, dan Israel untuk melemahkan solidaritas regional.
Terkait situasi di Palestina, Al-Houtsi menilai tidak ada prospek perdamaian selama 'Israel' terus melanggar gencatan senjata dan memperluas pendudukan. Ia mengecam perluasan permukiman 'Israel' di Tepi Barat dan tindakan kekerasan yang terus meningkat terhadap warga sipil Palestina sebagai bukti gagalnya proses perdamaian.
Lebih lanjut, ia menegaskan komitmen Yaman untuk mendukung Hizbullah di Lebanon, menyebut perlawanan Lebanon sebagai aset strategis bagi kawasan. Ia juga memuji ketahanan Iran dalam menghadapi agresi AS-'Israel'. Menurut Al-Houtsi, kegagalan Washington dan Tel Aviv dalam menundukkan Iran membuktikan posisi Teheran sebagai benteng tangguh yang melindungi kemerdekaan kawasan.
"Jika Iran kalah, kampanye tersebut akan menyebar ke negara lain, membuat seluruh kawasan, termasuk negara-negara Teluk, terbuka terhadap tekanan AS dan Israel yang lebih besar," ujarnya.
Al-Houthi mengakhiri pidatonya dengan memperingatkan Arab Saudi agar tidak menganggap remeh potensi konflik di masa depan. "Arab Saudi jangan membayangkan ini adalah piknik. Ini akan menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda," tutupnya. (zarahamala/arrahmah.id)
