Memuat...

Tucker Carlson: Trump Pemimpin Lemah, AS Tak Akan Perang dengan Iran Jika JD Vance Jadi Presiden

Samir Musa
Jumat, 17 Juli 2026 / 3 Safar 1448 19:39
Tucker Carlson: Trump Pemimpin Lemah, AS Tak Akan Perang dengan Iran Jika JD Vance Jadi Presiden
Carlson menyebut Trump sebagai "pemimpin yang lemah" karena tunduk pada pengaruh "Israel". (Getty Images)

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Jurnalis konservatif Amerika Serikat Tucker Carlson menilai Amerika Serikat tidak akan terlibat dalam perang melawan Iran apabila Wakil Presiden JD Vance yang memimpin Gedung Putih. Menurutnya, konflik tersebut menunjukkan besarnya pengaruh "Israel" terhadap kebijakan luar negeri Washington.

Dalam wawancara bersama Bloomberg yang dipublikasikan pada Jumat (17/7/2026), Carlson mengatakan ia sulit membayangkan Vance akan mendukung perang melawan Iran atas dasar apa yang ia sebut sebagai "program nuklir yang semu". Ia menilai Vance lebih dekat dengan aspirasi basis pemilih Partai Republik dibandingkan arah kebijakan pemerintah saat ini.

Pernyataan Carlson muncul sehari setelah JD Vance memberikan wawancara panjang kepada podcaster Joe Rogan. Dalam kesempatan itu, Vance menuding "Israel" berupaya memengaruhi opini publik Amerika untuk menggagalkan jalur diplomasi dengan Iran sekaligus memperpanjang konflik.

Vance mengaku menjadi sasaran serangan pribadi yang didorong oleh pihak-pihak pro-"Israel" karena keterlibatannya dalam pembicaraan dengan Iran. Meski mengakui setiap negara berhak memperjuangkan kepentingannya, ia mengaku khawatir ketika tekanan asing berhasil mengubah keputusan yang bertentangan dengan kepentingan nasional Amerika Serikat.

Trump Dinilai Gagal Menahan Tekanan

Dalam wawancara yang sama, Carlson melontarkan kritik keras kepada Presiden Donald Trump. Ia menuduh Trump membiarkan pemerintah Amerika "sepenuhnya dipimpin" oleh kepentingan "Israel", sehingga merugikan posisi Amerika di panggung internasional.

Meski menyoroti besarnya tekanan dari "Israel", Carlson tetap menegaskan bahwa tanggung jawab utama berada di tangan presiden. Menurutnya, seorang pemimpin seharusnya mampu menolak tekanan dari pihak luar dan mengambil keputusan yang mengutamakan kepentingan negaranya.

"Trump adalah pemimpin yang lemah," ujar Carlson, seraya menambahkan bahwa Amerika Serikat tampak tidak mau atau bahkan tidak mampu membatasi pengaruh "Israel".

Dalam beberapa pekan terakhir, Vance memang terlihat lebih kritis terhadap "Israel" dibandingkan sejumlah pejabat lain di pemerintahan. Ia bahkan memperingatkan para pejabat "Israel" agar tidak menyerang Trump, yang menurutnya masih menjadi sekutu terkuat Tel Aviv.

Perang Iran Ungkap Kelemahan AS

Carlson juga menilai perang dengan Iran membuktikan bahwa kekuatan Amerika Serikat tidak sebesar yang selama ini diyakini banyak pihak.

Menurutnya, keyakinan berlebihan terhadap superioritas militer Amerika hanya akan melahirkan arogansi dan mendorong penggunaan kekuatan secara berlebihan. Ia juga menilai pengaruh China, modal global, dan kelompok-kelompok lobi kini semakin besar, bahkan melampaui pengaruh basis pemilih Amerika.

Carlson menuduh "Israel" beserta jaringan pendukungnya di Amerika memiliki pengaruh sangat besar terhadap kebijakan luar negeri, terutama melalui pendanaan kampanye politik yang bertujuan menyelaraskan kebijakan Washington dengan kepentingan Tel Aviv.

Soroti Perpecahan Partai Republik

Lebih lanjut, Carlson menilai perang melawan Iran memperlihatkan bahwa Partai Republik mulai menjauh dari aspirasi para pemilihnya. Ia menyebut kebijakan luar negeri pemerintahan Trump bertolak belakang dengan janji kampanye untuk mengakhiri perang dan memprioritaskan persoalan domestik.

Menurut Carlson, sikap ekstrem bukanlah menolak perang, melainkan mengikuti arahan Perdana Menteri "Israel" Benjamin Netanyahu untuk memasuki konflik yang justru merugikan Amerika Serikat.

Ia memperkirakan Partai Republik akan menghadapi konsekuensi politik pada pemilu sela mendatang akibat keterlibatan dalam perang dan fokus pada konflik luar negeri, sementara masyarakat Amerika, terutama generasi muda, menghadapi tekanan ekonomi dan semakin sulit meningkatkan taraf hidup.

Carlson juga menuduh pemerintah Amerika Serikat dan Inggris ikut bertanggung jawab atas agresi "Israel" di Jalur Gaza karena terus memberikan dukungan dan pendanaan terhadap operasi militer tersebut. Menurutnya, kedua negara turut memikul tanggung jawab atas apa yang ia sebut sebagai genosida di Gaza.

(Samirmusa/arrahmah.id)