BAGHDAD (Arrahmah.id) -- Sebuah kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan poros perlawanan Irak dilaporkan menawarkan hadiah sebesar US$10 juta atau sekitar Rp163 miliar bagi siapa pun yang berhasil membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Ancaman tersebut kembali memanaskan ketegangan antara kelompok-kelompok pro-Iran di Timur Tengah dengan Washington, yang telah berlangsung sejak terbunuhnya komandan Pasukan Quds Iran, Jenderal Qassem Soleimani, pada 2020.
Informasi mengenai hadiah tersebut mencuat setelah Abu Ali al-Askari, juru bicara kelompok Kataib Hezbollah Irak, seperti dilansir The Economic Times (17/7/2026), menyampaikan pernyataan yang menyinggung kemungkinan pemberian hadiah kepada pihak yang dapat membalas kematian Soleimani.
Pernyataan itu kembali ramai dibahas media internasional setelah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sepanjang 2026.
Dalam pernyataannya, Abu Ali al-Askari menegaskan bahwa kematian Soleimani dan Wakil Komandan Popular Mobilization Forces (PMF) Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, belum terlupakan oleh kelompok-kelompok perlawanan di kawasan.
"Kami tidak akan melupakan darah para syuhada kami, dan siapa pun yang mengambil peran dalam pembunuhan mereka harus bertanggung jawab," ujar Abu Ali al-Askari sebagaimana dikutip Sunday Guardian Live.
Pernyataan tersebut merujuk pada serangan pesawat nirawak Amerika Serikat yang menewaskan Soleimani dan al-Muhandis di dekat Bandara Internasional Baghdad pada Januari 2020.
Operasi itu dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump saat masa jabatan pertamanya dan menjadi salah satu peristiwa paling berpengaruh dalam hubungan Amerika Serikat dan Iran selama dekade terakhir.
Menurut laporan Economic Times, tawaran hadiah tersebut tidak diumumkan sebagai program resmi pemerintah Iran maupun pemerintah Irak, melainkan berasal dari kelompok bersenjata yang memiliki hubungan ideologis dengan Iran.
Meski demikian, ancaman terhadap Trump bukanlah hal baru. Departemen Kehakiman Amerika Serikat sebelumnya beberapa kali mengungkap dugaan rencana pembunuhan terhadap mantan maupun pejabat tinggi AS yang dikaitkan dengan jaringan yang berafiliasi dengan Iran.
Washington juga berulang kali menegaskan akan merespons keras setiap ancaman terhadap pemimpin dan warga negaranya.
Peningkatan retorika dari kelompok-kelompok pro-Iran terjadi di tengah memanasnya situasi keamanan kawasan setelah serangkaian serangan dan aksi balasan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat sepanjang tahun ini. (hanoum/arrahmah.id)
