DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap pusat komando operasi khusus Amerika Serikat di wilayah Al-Tanf, Suriah, pada Jumat (17/7/2026).
Klaim tersebut disampaikan melalui media pemerintah Iran di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Teheran dan Washington yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Namun hingga kini, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan dibantah oleh militer Amerika Serikat.
Dilansir Reuters dan Jerusalem Post (17/7/2026), serangan itu disebut sebagai aksi balasan atas tewasnya sejumlah personel Iran dalam serangan sebelumnya di Iranshahr.
IRGC menyatakan sasaran mereka adalah pusat komando pasukan operasi khusus AS di Al-Tanf, sebuah kawasan strategis di perbatasan Suriah, Irak, dan Yordania.
Dalam pernyataannya, IRGC mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons langsung terhadap tindakan militer Amerika.
"Pusat komando operasi khusus Amerika di Al-Tanf menjadi sasaran sebagai balasan atas pembunuhan para pejuang Iran," demikian pernyataan IRGC yang dikutip media pemerintah Iran.
Meski demikian, sumber militer Suriah yang berbicara kepada Reuters menyebut rudal atau proyektil yang diluncurkan Iran hanya jatuh di sekitar kawasan Al-Tanf dan tidak mengenai fasilitas yang menjadi target. Sumber tersebut juga menegaskan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan material akibat insiden tersebut.
Di pihak lain, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) membantah berbagai laporan yang menyebut pasukan AS menjadi korban serangan tersebut. CENTCOM menegaskan bahwa tidak ada tentara Amerika yang tewas maupun ditangkap di Suriah.
"Tidak ada personel militer AS di kawasan yang baru-baru ini terbunuh atau ditangkap," kata CENTCOM dalam pernyataan resminya.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena merupakan salah satu klaim serangan langsung Iran terhadap wilayah Suriah sejak pecahnya perang regional yang lebih luas pada awal 2026.
Reuters mencatat bahwa Suriah selama ini berupaya menjaga jarak dari konflik terbuka antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Presiden Suriah Ahmad Asy-Syaraa bahkan sebelumnya menegaskan bahwa Damaskus tidak ingin terlibat dalam konflik regional kecuali jika wilayahnya diserang secara langsung.
Laporan Al Arabiya dan Al Jazeera menyebut serangan yang diklaim Iran ke Suriah terjadi bersamaan dengan operasi militer Iran terhadap sejumlah aset Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
IRGC juga mengklaim telah menyerang fasilitas militer yang terkait dengan AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, dan Yordania sebagai bagian dari respons terhadap serangan udara Amerika ke wilayah Iran. (hanoum/arrahmah.id)
