Memuat...

Jabal al-Fas Jadi Target Utama, AS Ancam Hancurkan Benteng Nuklir Terdalam Iran

Zarah Amala
Selasa, 14 Juli 2026 / 29 Muharam 1448 10:37
Jabal al-Fas Jadi Target Utama, AS Ancam Hancurkan Benteng Nuklir Terdalam Iran
Citra satelit menunjukkan pintu masuk terowongan di Jabal al-Fas, bagian dari fasilitas nuklir Natanz (Reuters).

TEHERAN (Arrahmah.id) - Eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase yang belum pernah terjadi sebelumnya. Presiden AS Donald Trump memberikan ancaman keras untuk meluncurkan serangan dashyat terhadap fasilitas nuklir Iran yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain (Jabal al-Fas), sembari menegaskan bahwa peluang untuk mencapai kesepakatan damai tetap terbuka.

Pernyataan Trump mengenai situs Pickaxe Mountain telah memicu spekulasi luas mengenai sifat dari kompleks nuklir tersebut. Terletak di selatan Teheran, dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang sebelumnya rusak, situs ini dilaporkan sebagai salah satu instalasi Iran yang paling terlindungi. Para ahli menilai fasilitas ini dibangun jauh di dalam pegunungan dengan lapisan granit padat yang dirancang untuk menahan gempuran bom penghancur bunker terkuat milik AS.

Badan intelijen AS mencurigai fasilitas ini merupakan proyek rahasia pengayaan uranium, sementara Teheran bersikeras bahwa situs tersebut hanya ditujukan untuk perakitan dan pembuatan sentrifus canggih. "Kami mengawasi Pickaxe Mountain dengan sangat ketat. Kami akan memberikan hantaman dalam waktu dekat," ujar Trump dalam sebuah wawancara.

Hingga saat ini, operasi militer telah memasuki malam ketiga. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan fokus pada target militer, termasuk sistem pengawasan, drone, dan platform rudal. Gedung Putih menegaskan bahwa operasi ini bersifat terbatas dan terencana guna meminimalkan korban sipil.

Di sisi lain, media Iran melaporkan serangkaian ledakan di berbagai titik strategis di selatan, termasuk di Pulau Kish, Qeshm, Abu Musa, pelabuhan Bandar Abbas, serta kota Jam di provinsi Bushehr. Hingga laporan ini diturunkan, otoritas Iran belum merinci besarnya kerusakan atau jumlah korban jiwa.

Situasi keamanan regional semakin keruh setelah Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan bahwa dua kapal tanker mereka diserang oleh dua rudal jelajah Iran di jalur selatan Selat Hormuz, tepatnya di perairan teritorial Oman. Insiden ini mengakibatkan satu orang tewas dan delapan lainnya terluka. Pemerintah UEA mengutuk tindakan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.

Meskipun terus melancarkan serangan udara dan memperketat blokade laut terhadap pelabuhan Iran, Trump menyatakan bahwa mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang masih "sangat mungkin". Menurutnya, kesepakatan tersebut sempat hampir tercapai beberapa hari lalu sebelum pihak Iran menarik diri.

Trump mengeklaim bahwa serangan militer dan blokade ekonomi yang diterapkan saat ini jauh lebih efektif dalam melumpuhkan kemampuan rudal dan angkatan laut Iran. "Kombinasi antara tekanan ekonomi dan aksi militer adalah apa yang diinginkan Washington untuk mencapai hasil akhir," pungkasnya.

Sementara itu, Iran menyalahkan Amerika Serikat atas memburuknya keamanan di kawasan dan menuduh Washington membahayakan suplai minyak dunia melalui serangan-serangan yang mereka lakukan. (zarahamala/arrahmah.id)