RAMALLAH (Arrahmah.id) - Kebahagiaan warga Palestina Bashir Na'im Kuneh melihat rumah impiannya selesai ditempati hanya bertahan selama satu pekan. Ia terpaksa meninggalkan rumah tersebut akibat intimidasi dan serangan berulang yang dilakukan pemukim 'Israel', baik siang maupun malam.
Rumah itu berada di kota Taybeh, wilayah mayoritas Kristen di sebelah timur Ramallah, Tepi Barat yang diduduki. Kuneh menghabiskan lebih dari 1 juta shekel atau sekitar 270 ribu dolar AS untuk membangun dan melengkapi rumah tersebut selama tujuh tahun.
Rumah itu dibangun sejak 2019 dan selesai pada 2026. Lokasinya berada di Area A berdasarkan Perjanjian Oslo, yang secara administratif dan keamanan berada di bawah Otoritas Palestina. Kuneh juga mengantongi seluruh izin pembangunan dari pemerintah kota setempat.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Kuneh menceritakan bahwa tekanan mulai dirasakan sejak Mei 2026, ketika sejumlah pemukim mulai mendatangi sekitar rumahnya menggunakan kendaraan roda empat jenis ATV.
Situasi kemudian berkembang menjadi kekerasan fisik dan penghinaan terhadap dirinya dan putranya di depan rumah, disertai upaya mengambil sejumlah barang milik keluarga.
"Saya membangun rumah yang sepenuhnya legal. Saya mulai membangunnya pada 2019 dan selesai pada 2026. Biayanya sekitar satu juta lebih shekel. Namun, kami kemudian diancam oleh seorang pemukim yang mengendarai ATV biru dan membawa pistol," kata Kuneh.
Ia mengatakan pemukim tersebut bahkan mengklaim bahwa rumah itu miliknya dan wilayah tersebut merupakan tanahnya.
Kondisi tersebut membuat keluarganya hidup dalam ketakutan. Menurut Kuneh, pemukim datang pada berbagai waktu, mulai pagi, sore, hingga malam hari.
"Mereka terus memprovokasi kami. Istri dan anak-anak saya ketakutan sehingga kami terpaksa pergi dengan cepat sebelum mereka melakukan sesuatu kepada kami," ujarnya.
Serangan semakin meningkat pada hari ketika keluarga Kuneh meninggalkan rumah.
Pada dini hari, para pemukim masuk ke kawasan rumah, memotong kabel internet dan kabel lampu penerangan, serta mencuri kamera pengawas.
Keesokan harinya, mereka memotong pagar yang mengelilingi rumah dan memasukkan kawanan sekitar 70 hingga 80 ekor domba ke halaman rumah.
Selama sekitar 12 hari, domba-domba tersebut dibiarkan merumput di halaman hingga merusak tanaman dan mencabut sejumlah pohon.
Kuneh mengatakan dirinya telah melaporkan tindakan tersebut kepada militer dan polisi 'Israel'. Petugas sempat mendatangi lokasi dan mendokumentasikan kerusakan, termasuk perabot, lemari pendingin, dan karpet di dalam rumah.
Dokumentasi tersebut dilakukan untuk membantah klaim pemukim bahwa rumah tersebut masih dalam tahap pembangunan dan tidak ditinggalkan.
Namun, menurut Kuneh, kehadiran aparat hanya berlangsung sementara. Setelah petugas pergi, pemukim kembali memasuki kawasan tersebut dengan menunggang kuda dan berkeliling di sekitar rumah.
Dalam kondisi yang menggambarkan besarnya ancaman, Kuneh terpaksa menemui kru Al Jazeera dari sebuah bukit yang menghadap ke rumahnya. Ia tidak berani turun ke lokasi.
Ia mengatakan hanya bisa mendatangi rumahnya secara diam-diam dan selalu memarkir kendaraan dalam posisi siap melarikan diri apabila pemukim bersenjata tersebut muncul.
"Kami berdiri di atas karena tidak berani turun. Jika mereka datang dan mengepung kami, mereka mungkin membunuh atau menembak kami," katanya.
"Saya membangun rumah ini selama tujuh tahun, bukan sesuatu yang mudah, agar bisa menjadi tempat tinggal keluarga saya. Sekarang kami tidak mendapat perlindungan dari siapa pun dan tidak bisa hidup di dalamnya dengan aman," lanjutnya.
Menurut laporan Komisi Perlawanan terhadap Tembok dan Permukiman Palestina, selama paruh pertama tahun ini pemukim 'Israel' melakukan 3.488 serangan di Tepi Barat.
Serangan tersebut menyebabkan 17 warga Palestina tewas dan 26 komunitas Badui serta komunitas penggembala terusir seluruhnya atau sebagian.
Dalam periode yang sama, tercatat 42 pos permukiman baru didirikan di berbagai wilayah Tepi Barat. (zarahamala/arrahmah.id)
