KAIRO (Arrahmah.id) -- Sebuah kapal pesiar yang disewa khusus untuk komunitas LGBTQ dilaporkan ditolak memasuki pelabuhan di Mesir setelah sebelumnya juga dilarang berlabuh di Turki.
Keputusan tersebut memaksa operator pelayaran mengubah rute perjalanan di tengah pelayaran yang membawa ratusan penumpang dari berbagai negara.
Penolakan oleh dua negara tersebut disebut berkaitan dengan pertimbangan nilai sosial dan moral yang berlaku di masing-masing negara.
Dilansir USA Today (10/7/2026), kapal pesiar milik operator perjalanan LGBTQ Vacaya itu awalnya dijadwalkan singgah di sejumlah destinasi di kawasan Mediterania Timur, termasuk Turki dan Mesir.
Namun, otoritas Turki terlebih dahulu menolak memberikan izin berlabuh. Setelah rute diubah, pihak penyelenggara berharap dapat mempertahankan persinggahan di Mesir, tetapi permohonan tersebut juga ditolak. Akibatnya, kapal harus mencari pelabuhan alternatif untuk melanjutkan perjalanan.
Pendiri dan CEO Vacaya, Randle Roper, mengaku kecewa dengan keputusan tersebut.
Dalam pernyataannya kepada media, ia mengatakan, "Kami telah bekerja selama berbulan-bulan untuk memastikan perjalanan ini berjalan lancar dan menghormati aturan setiap negara yang kami kunjungi. Karena itu kami sangat kecewa dengan keputusan yang diambil pada menit-menit terakhir."
Menurut laporan Bloomberg, sejumlah pejabat yang mengetahui pembahasan tersebut menyebut otoritas Turki dan Mesir menilai kehadiran kapal yang secara terbuka dipromosikan untuk komunitas LGBTQ tidak sejalan dengan norma sosial dan nilai budaya yang berlaku di negara mereka.
Baik Ankara maupun Kairo selama ini dikenal memiliki kebijakan konservatif terkait isu orientasi seksual dan identitas gender.
Meski demikian, penyelenggara pelayaran menegaskan bahwa kapal tersebut merupakan kapal wisata biasa yang membawa wisatawan internasional dan tidak melakukan aktivitas yang melanggar hukum negara tujuan.
Roper menambahkan bahwa para penumpang hanya ingin menikmati perjalanan wisata sebagaimana wisatawan lainnya.
"Penumpang kami hanyalah orang-orang yang ingin berlibur dengan aman dan nyaman tanpa diskriminasi," ujar Randle Roper. (hanoum/arrahmah.id)
