TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Menteri Keuangan 'Israel' yang berhaluan kanan jauh, Bezalel Smotrich, mengklaim bahwa utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, pernah menyebut penduduk Gaza sebagai “dua juta Nazi” dalam sebuah pertemuan tertutup.
Pernyataan kontroversial itu diungkapkan Smotrich pada Kamis (10/7/2026) dan segera memicu perdebatan luas karena menyangkut salah satu diplomat utama Washington yang terlibat dalam upaya penyelesaian konflik Gaza.
Menurut Smotrich, seperti dilansir Middle East Eye (10/7), pernyataan tersebut disampaikan Witkoff setelah kunjungannya ke Gaza dan diskusi dengan sejumlah pejabat 'Israel' mengenai situasi keamanan di wilayah tersebut.
Smotrich mengatakan komentar itu muncul saat pembahasan mengenai kelompok perlawanan Palestina Hamas, dukungan masyarakat terhadap kelompok tersebut, serta tantangan yang dihadapi dalam mencari solusi politik pascaperang.
Dalam keterangannya yang dikutip Middle East Eye, Bezalel Smotrich mengatakan, "Steve Witkoff berkata kepada kami bahwa ada dua juta Nazi di Gaza."
Pernyataan itu disampaikan Smotrich ketika menjelaskan pandangan sejumlah pihak mengenai kondisi politik dan sosial di Jalur Gaza selama perang berlangsung.
Pernyataan tersebut muncul ketika Amerika Serikat terus berupaya mendorong perundingan gencatan senjata dan pengaturan pemerintahan pascaperang di Gaza.
Witkoff sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh kunci dalam diplomasi pemerintahan Trump di Timur Tengah, termasuk dalam pembahasan mengenai masa depan Gaza, pembebasan sandera, dan rekonstruksi wilayah yang hancur akibat konflik berkepanjangan.
Hingga kini belum ada bukti independen yang dapat memverifikasi apakah Steve Witkoff benar-benar mengucapkan kalimat tersebut sebagaimana diklaim Smotrich. Karena itu, pernyataan tersebut masih merupakan klaim sepihak dari pejabat 'Israel' yang belum mendapatkan konfirmasi langsung dari pihak Amerika Serikat.
Namun, kontroversi ini kembali menyoroti sensitivitas bahasa dan retorika yang digunakan para pejabat dalam konflik Gaza yang terus menjadi perhatian dunia internasional. (hanoum/arrahmah.id)
